Non Fiksi

Kiai Ujang Di Negeri Kanguru Karya Nadirsyah Hosen

Ketika Seorang Muslim Indonesia dipaksa Menjadi Minoritas Di Australia

Kiai Ujang Di Negeri Kanguru Karya Nadirsyah Hosen : Ketika Seorang Muslim Indonesia dipaksa Menjadi Minoritas Di Australia – Melihat tulisannya untuk pertama kali adalah ketika beliau membahas isu tentang mengucap natal dan tahun baru, isu yang sudah menjadi tradisi wajib untuk dibahas setiap tahunnya. Serunya adalah pemaparannya yang ringan dan membumi, meskipun merupakan kajian fiqih kontekstual. Dalam tulisan tersebut, di bawahnya terlampir profil singkat tertulis, “Rais Syuriyah PCI NU Australia dan Selandia Baru.” Pantas saja.

Setelah bukunya Saring Sebelum Sharing (berangkat dari kegelisahan beliau terhadap fenomena hoaks di Indonesia) terbit, ia kembali menulis buku. Judulnya Kiai Ujang Di Negeri Kanguru. Melihat riwayat buku yang ditulisnya, tampak bahwa ia ingin mengangangkat wajah Islam yang moderat.

Untuk perkenalan cepat-cepat, beliau adalah seorang akademisi (sekarang mengampu sebagai dosen tetap di Fakultas Hukum, Monash University, Australia) yang dibesarkan di lingkungan tradisi santri (NU). Sehingga karakteristik keislaman yang dianutnya adalah Islam moderat ala Nusantara. Menyelesaikan S1 di Fakultas Syariah, IAIN Syarif Hidayatullah. Ayahnya yang merupakan ahli fiqih terkemuka juga menjabat sebagai Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menasehatinya agar tidak hanya menggeluti satu bidang keilmuan (hukum Islam) saja. Maka beliau mengambil studi magister di dua kampus berbeda di Australia yang terfokus pada hukum dan hukum Islam. Kemudian dilanjutkan studi doktoral, juga di dua kampus berbeda yang terfokus pada hukum dan hukum Islam.

Beliau diasuh dalam tradisi kesantrian (NU) yang kental sekaligus menimba ilmu dan hidup di bawah cakrawala barat. Menjadikannya terdiri dari dualitas, moralitas santri hadir, self-critisism ikut andil, sehingga dapat ditebak ketika persoalan dihadapkan selanjutnya akan melahirkan pemaparan dalam cara pandang yang menarik.

Buku ini merupakan rangkuman “dialog” Gus Nadir dengan para “santri”nya, yang menjadi jawaban Islam yang relevan dan mewakili banyak tantangan serta peristiwa dalam kehidupan Muslim masa kini.

Buku ini dikemas dalam bentuk kisah bernama Ujang saat kuliah di Pasca Sarjana University of Queensland yang disampaikan secara ringan, renyah dan membumi. Ini hal wajar dan pilihan yang cerdas, mengingat persoalan perbandingan mazhab bagi sebagian orang adalah pengantar tidur yang paling efektif dan membuat bosan setengah mati. Pembahasan utama yang dihadirkan dalam buku ini adalah mengenai kasus problematik hukum Islam dari seorang Muslim yang mendadak menjadi minoritas setelah mendamparkan diri di negeri Kangguru demi sesuap ilmu.

Masalah-masalah ini baru saja memunculkan diri setelah beliau berada di lingkungan (atau sebut saja negeri) di mana Islam menjadi golongan minoritas. Hal ini membuatnya safari referensi, memaksanya mengakses fikih minoritas dengan menggali dan menghampiri khazanah perbandingan mazhab yang pas dan relevan dengan persoalan sehari-hari. Kredibilitas dan kapabilitasnya yang mumpuni, membuat kita tidak bisa meragukan begitu saja apa yang beliau paparkan dalam buku ini.

Keterangan Buku

Judul       : Kiai Ujang di Negeri Kanguru
No. ISBN : 9786023858040
Penulis    : Nadirsyah Hosen
Penerbit   : Noura Book Publising 
Tanggal terbit : Mei – 2019
Jumlah Halaman : 280

Penulis Artikel – Sandi Anugrah

Sandi Anugrah Banyak menghabiskan waktu bersama sendiri dan kopi. Mengidap kecoa-terbang-fobia dan secara umum punya sejenis ketakutan pada beragam serangga. Bukan seorang pecandu buku garis keras, sekedar hobi seperti menikmati kopi. Berniat menjadi penulis setelah yakin tidak punya bakat ramah korporat sekaligus dikutuk menjadi anak super rumahan. Punya sedikit bakat mengeluh dan mengutuk keadaan di sekitarnya yang ingin diasah dengan memperbanyak jam terbang. Sedang menempuh qlc (quarter life crisis) dan dibingungkan antara 2 pilihan: apakah tetap idealis atau menjadi pragmatis.

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan menyukai perjalanan. Lebih dekat dengan saya di: Email: artriasnana@gmail.com Twitter: @artriassetiawan Instagram: @artriassetiawan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close