Women's Fiction

Review The Pearl That Broke Its Shell Karya Nadia Hashimi

Review The Pearl That Broke Its Shell Karya Nadia Hashimi – Sebagai perempuan di negara yang menjunjung tinggi patriarki, hak Rahima dan keempat saudarinya sangat dibatasi. Bagi perempuan Afganistan, pendidikan dan kebebasan hanyalah angan-angan. Tanpa lahirnya seorang putra dalam keluarganya, peran Rahima berganti menjadi lelaki – merupakan sebuah tradisi yang disebut bacha posh. Rahima pun berhak untuk sekolah dan merasakan dunia di luar rumahnya. Akan tetapi, itu hanya sampai ia dinikahkan.

Kisah Rahima serupa dengan kisah Shekiba; nenek buyutnya yang sempat menjadi bacha posh. Sebagai seorang yatim piatu , Shekiba berjuang dari kemalangan bertubi-tubi demi membangun kehidupannya yang baru. Perbedaan hak. Pernikahan di usia dini. Kekerasan terhadap perempuan. Cerita kehidupan Shekiba menginspirasi Rahima untuk mengubah nasibnya.

Penghargaan :

  • Goodreads Choice Award Nominee for Fiction of 2014
  • Goodreads Choice Award Nominee for Debut Goodreads Author of 2014

Judul : The Pearl That Broke Its Shell

Penulis : Nadia Hashimi

Genre : Fiksi Perempuan

Halaman : 598 

Alih Bahasa : Endang Sulistyowati

Penerbit : Penerbit Bhuana Sastra

Tahun : 2014

ISBN : 978-602-394714-0

Harga : Rp. 92.000,-

“Kau bodoh jika berpikir gadis-gadis ini lebih baik membusuk di rumah daripada belajar sesuatu di sekolah.” Halaman 23.

Malam itu Khala Shaima memulai kisah tentang nenek buyutku, Shekiba. Kisah yang tidak pernah didengar olehku dan saudara-saudara perempuanku. Kisah yang mengubahku. Halaman 25.

Kisah ini, menegaskan sekali lagi bahwa hidup sebagai wanita Indonesia harus disyukuri sepenuhnya. Kita tidak tinggal di negara yang penuh debu mesiu, dimana wanita harus tinggal di dalam rumah. Kita diberi kebebasan sepenuhnya untuk bersekolah, dimana wanita bisa menjadi dokter, insinyur, pilot, menteri, presiden dan sederet profesi lain yang biasanya dimiliki laki-laki. Kita tidak harus menikah di usia dini hanya untuk membayar hutang atau sekedar membuang beban keluarga karena begitu banyak anak perempuan dalam satu keluarga. Sepenuhnya wanita yang lahir dan tinggal di Indonesia bebas memiliki pilihan dalam norma yang ada.

Tapi semua kebebasan dan pilihan itu bukanlah milik Rahima dan Shekiba. Dua wanita yang diceritakan dalam novel ini. Dua wanita yang hidup berselisih abad namun memiliki latar belakang yang hampir sama, kisah yang hampir serupa, sama-sama melewati siksaan pedih sebagai wanita Afganistan.

Baiklah, mari kita sama-sama belajar dari dua kisah dalam satu ikatan cerita dari The Pearl That Broke Its Shell Karya Nadia Hashimi.

Cerita

Satu bab pertama dalam novel ini mengambil judul Rahima. Rahima tinggal bersama dengan ayah, ibu dan saudaranya, Shahla, Parwin, Rohila, dan Sitara. Ayahnya seorang pemarah dan frustasi karena merasa berdosa memiliki lima anak perempuan dalam keluarga. Sementara Raisa, istrinya hidup dengan penuh perasaan berdosa, tertindas dan menderita karena tidak berhasil melahirkan satu pun putra.

Bagi sebuah keluarga di Afganistan, kisah itu serupa seperti kutukan. Istri akan dianggap gagal ketika tidak bisa melahirkan putra dan suami boleh mengambil istri lainnya. Perlakuan keluarga suami akan sangat buruk dan terus menyiksa batin si istri (Raisa).

Hingga akhirnya Rahima dirubah menjadi bacha posh demi membantu keluarga ini. Dari situlah kisah bermula dan semua konfliknya muncul. Keluarga sangat tergantung dengan Rahima dan Rahima bisa pergi ke sekolah dengan bebas. Bertindak seperti laki-laki, bermain bola, pergi ke pasar, bercanda dan bermain dengan teman laki-laki. Dan tidak ada  bedanya dengan anak laki-laki yang sebenarnya.

Tapi semua itu ada batasnya, karena ketika seorang bacha posh sudah menstruasi, maka seharusnya berubah menjadi perempuan. Bercadar dan tidak keluar rumah, apalagi sekolah. Tapi keluarga ini tidak siap melepas Rahima kembali menjadi perempuan. Semua sudah bergantung dengan Rahima sehingga ibu mereka tetap membiarkan Rahima menjadi bacha posh.

Hingga sebuah peristiwa pecah dan berakhir dengan konflik panjang dalam cerita ini.

Rahima tumbuh menjadi gadis dewasa berusia 13 tahun dan terpaksa harus menikah dengan Abdul Khaliq, seorang panglima perang yang dihormati. Saudara Rahima, Shahla dan Parwin juga harus menikah dengan saudara dari Abdul Khaliq. Pernikahan ini membawa harta yang melimpah untuk keluarga yang sudah haus kemakmuran. Tiga gadis remaja muda ditukar dengan uang dan opium. Siapa yang menikmatinya? Ayah mereka. Lalu ibu mereka.

Rahima yang menjadi istri ke empat Abdul Khaliq harus tinggal dalam komplek rumah keluarga Abdul Khaliq. Rumah dengan benteng tinggi dan kamar sempit, dimana siksaan dari ibu mertua, istri pertama, istri kedua dan istri ketiga yang sedikit bersimpati. Semua jelas membuat Rahima terluka, belum lagi siksaan dari Abdul Khaliq.

Baca juga: Review EDUCATED Karya Tara Westover : Keluarganya Kejam Tanpa Pendidikan Layak, Tapi Ia Bisa Mencapai PH.D

Semakin buruk kehidupan Rahima, maka kisah Shekiba yang diceritakan oleh Khala Shaima menjadi semakin banyak. Satu cerita berisi Rahima dan selanjutnya berisi kisah Shekiba. Dua perempuan ini sama-sama pernah menikmati hidup sebagai lelaki. Namun akhirnya harus kembali menjadi wanita sesuai kodratnya, menjadi istri ( bukan istri pertama) dan melahirkan.

Situasi Shekiba yang hidup di awal abad 20 juga tidak kalah buruknya dengan Rahima. Sejak umur dua tahun wajahnya menjadi cacat karena terkena minyak panas dari wajan. Lalu keluarganya musnah dihempas oleh badai kolera. Hanya dia, wanita cacat tidak berharga yang tersisa. Kerabat ayahnya mengusik kehidupan Shekiba yang sudah depresi semenjak ayahnya meninggal dunia. Ia diperbudak oleh keluarga ayahnya yang tamak dan serakah.

Yang terjadi selanjutnya adalah Shekiba di lempar dari satu tangan ke tangan yang lain, sampai akhirnya menginjakkan kaki di Istana. Sampai disitu kehidupan Shekiba masih sangat menyiksa dan penuh dengan kepedihan.

SHEKIBA…

Namamu berarti ‘hadiah,’ putriku. Kau hadiah dari Allah.

Siapa yang menyangka bahwa nasib Shekiba akan seperti nama yang diberikan kepadanya, hadiah yang diserahkan dari satu tangan ke tangan yang lain? Halaman 26.

Konflik, Plot dan Aspek Cerita

Rahima dan Shekiba memiliki masalah yang sama, sebagai wanita yang kurang dihargai. Pada akhirnya setelah pernah menjadi laki-laki, harus kembali menjadi wanita. Perasaan Rahima dan Shekiba menjadi menderita karena mereka sekarang milik keluarga suaminya. Mereka harus diam di balik tembok tinggi dan menerima siksaan dari keluarga yang kurang suka. Namun Rahima dan Shekiba memiliki kekuatan yang tinggi untuk bertahan hidup.

Baca juga: Review What Comes With The Dust Karya Gharbi M. Mustafa

Plot cerita digambarkan dari mulai abad 21 dimana saat itu budaya, adat dan status wanita tidak ada bedanya dengan awal abad 20. Setiap abad ini diwakili oleh karakter utama Rahima dan Shekiba. Rahima menerima cerita Shekiba dan mengambil semua hal positif dari kehidupan nenek buyutnya. Pada akhirnya Rahima dan Shekiba menghadapi sebuah akhir yang unik, diluar dugaan pembaca dan paling tidak membuat pembaca menghargai perjuangan mereka.

Aspek cerita dalam novel ini sangat erat dengan kondisi Afganistan sebagai negara perang, kelompok militan yang masih bergerak, dan aturan radikal yang menerapkan aturan-aturan ketat untuk perempuan. Dalam beberapa hal ada aspek cerita yang menyinggung tentang beberapa pejabat negara yang mengambil keuntungan dari kebijakan untuk rakyat , namun semua itu palsu, karena pada akhirnya hanya untuk isi kantong mereka.

Narasi

Jujur saya senang dengan hasil alih bahasa yang terbaca dengan wajar dan tidak ada kata-kata atau diksi yang aneh. Saya percaya membaca sebuah buku hasil terjemahan tidak selalu mudah, karena terkadang ada begitu banyak perbedaan makna dengan karya aslinya. Tapi tidak untuk The Pearl That Broke Its Shell.

Narasi yang ditulis oleh Nadia Hashimi sebenarnya memang sangat indah, mengalir, mudah dipahami, jujur, dan sangat mengikat pembaca. Penulis memilih setiap kata-kata dengan baik untuk mengungkapkan apa yang terjadi pada Rahima dan Shekiba, terutama untuk bagian yang sensitif. Jadi ini bukan novel yang keras tapi justru sangat hormat pada tokoh yang diceritakan.

Baca Juga : Review Groningen Mom’s Journal Karya Monika Oktora

Kesimpulan

Jika teman-teman menyukai kisah dalam novel karya Khaled Hosseini, jangan lewatkan untuk membaca novel ini juga. Memang tidak sama tapi benar-benar membuat kita berkaca, dimana kita tinggal dan seperti apa negara kita.

Selebihnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Nadia Hashimi, yang telah membuat kisah dalam novel ini begitu luar biasa, hormat, penting dan layak dikenang. Kisah-kisah ini bukan yang terjadi dengan kita di Indonesia, tapi kisahnya memberikan pelajaran yang sangat berarti. Kita tidak merasakan keterbatasan untuk bersekolah atau memilih profesi hanya karena perbedaan gender. Selayaknya kita harus semakin peduli dengan mereka, yang masih terkekang oleh aturan budaya dan adat istiadat sehingga tidak bisa keluar dari tembok rumah, juga penderitaan perang.

Novel Rekomendasi

Dalam halaman ucapan terima kasih di halaman terakhir, penulis, Nadia Hashimi mengatakan jika novel ini memang termasuk karya fiksi tapi kisah yang diangkat berdasarkan cerita dari tokoh sejarah di Afganistan dan juga penduduknya. Jadi bisa dikatakan jika kisah yang dibangun dalam novel ini menjadi gambaran yang sesungguhnya dari perempuan-perempuan dan anak-anak perempuan di Afganistan.

Untuk mendukung referensi tentang pengetahuan dan kondisi Afganistan, maka tidak ada salahnya juga membaca buku seri travelling dari Agustinus Wibowo yang berjudul Selimut Debu. Lain kali saya akan membahasnya sendiri untuk review Selimut Debu. Dan kita lihat betapa akuratnya kisah dan latar belakang yang diceritakan dalam novel Nadia Hashimi ini.

Profil Penulis Nadia Hashimi

Review The Pearl That Broke Its Shell Karya Nadia Hashimi Nadia Hashimi lahir dan menetap di Amerika Serikat setelah orangtuanya meninggalkan Afganistan pada tahun 1970-an, sebelum invasi Soviet. Kini ia menjalani profesi sebagai dokter anak serta menulis kisah-kisah lainnya tentang kehidupan di Afganistan. The Pearl That Broke Its Shell adalah (2014) adalah novel debutnya, kemudian diikuti oleh When The Moon Is Low (2015), A House Without Windows dan One Half From The East (2016). (profil dikutip dari keterangan penulis di cover belakang novel).

Karakter, Plot, Cerita

Narasi yang ditulis oleh Nadia Hashimi sebenarnya memang sangat indah, mengalir, mudah dipahami, jujur, dan sangat mengikat pembaca. Penulis memilih setiap kata-kata dengan baik untuk mengungkapkan apa yang terjadi pada Rahima dan Shekiba, terutama untuk bagian yang sensitif. Jadi ini bukan novel yang keras tapi justru sangat hormat pada tokoh yang diceritakan.

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan senang jika Anda berkunjung ke toko buku kami. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close