Women's Fiction

Review What Comes With The Dust Karya Gharbi M. Mustafa

Kisah Nazo Menghadapi Kekejaman ISIS

Review What Comes With The Dust Karya Gharbi M. Mustafa – Ketika membaca sinopsis cerita buku ini sekilas, saya sudah tahu apa yang ada di depan mata. Kekejaman ISIS sudah saya dengar dari berita dan liputan dari dalam dan luar negeri. Tapi menyimak sebuah kisah yang terinspirasi dari penderitaan wanita yang terancam ISIS, memang sama sekali belum pernah saya coba. Akhirnya ketika menerima tawaran untuk membaca What Comes With The Dust: Goes With The Wind yang ditulis oleh Gharbi M. Mustafa, saya menyiapkan waktu selama tiga hari tiga malam untuk menjawab.

Novel terkenal ini memang sudah diterbitkan sejak 26 Desember 2016. Dan akan diterbitkan lagi dengan versi berbahasa Inggris mulai tanggal 5 Juni 2018. Diliput dari Amazon dan situs penjualan buku import lain , buku ini dijual dengan harga $22.99 (Rp.314.020) untuk versi Hardcover dan $21.84 (298.313) untuk versi Kindle. Memang cukup mahal ya, jadi saya sarankan bagi yang ingin membacanya mencari sponsor terbuka atau kolega yang mau mengirimkan buku ini. Saya pun juga mendapatkan buku dengan versi Kindle secara gratis untuk memberikan review jujur, seperti yang saya tulis disini.

Baiklah, karena saya harus jujur jadi tidak ada satu bagian pun yang akan saya tutupi dari buku ini. Pertama kita akan menyimak cerita sekilas dari sinopsis berikut ini:

Today is Nazo Heydo’s Wedding. The day she will set herself on fire. Wearing her white gown, Nazo walks toward the bathroom. Once inside, she raises the heavy jerry can over her head. The odor of the kerosene fills her shallow breaths. With focused determination, she strikes the matchstick against the box. Before the flames catch her curly hair, she feels something magical-a motion inside her womb. Another life is kicking within her.

Would the baby have the blue eyes of Azad Saydo her forbidden lover, or the dark black eyes of the ISIS fighter who had raped her? Nazo is dying to know.

Nazo is an eighteen-year old Yazidi girl from Shingal in Iraqi Kurdistan. On a dusty August day, ISIS men drag her out of her village together with Sarah, her little deaf mute sister, to be traded as sex slaves.

Nazo must escape slavery to join her lover. She thinks her Azad is trapped by ISIS with thousands of other Yazidi families at the slopes of Mount Shingal. She blows her dreams into the universe like feathers in the whirl wind and struggles with her fate on the roads she took to avoid it.

Jadi apa yang sebenarnya terjadi. Pertama kita harus tahu bahwa pembaca harus memahami jika ini novel fiksi dengan cerita dan latar belakang yang direka oleh penulisnya. Tapi kita juga harus memahami bahwa semua kekejaman, siksaan dan penderitaan yang tertulis merupakan gambaran asli dari kisah korban ISIS yang menimpa pria, wanita dan anak-anak di kawasan Timur Tengah yang terdampak.

Cerita Singat Yang Menggetarkan Hati

Ada dua wanita yang diceritakan dalam kisah buku ini. Pertama adalah Nazo, gadis berusia delapan belas tahun yang sedang hamil, umat Yazidi dari wilayah Shingal, Kurdistan, Iraq. Soz, adalah wanita kuat yang berusaha melarikan diri setelah melihat sebuah truk ISIS menyambangi daerah tempat tinggalnya, dan peristiwa ini yang memisahkan dirinya dengan keluarga dan saudara perempuannya Soleen. Kekejaman ISIS sama sekali tidak diceritakan sampai ketika Nazo bertemu dengan cinta pertamanya, Azad. Akankah Nazo dan Azad bisa bertemu sampai ke pelaminan, dan apakah keinginan untuk pelarian mereka keluar dari Irak bisa tercapai? Dan bayi siapa yang berjuang bersama Nazo selama sembilan bulan, melihat kekejaman ISIS dari rahim Nazo?

Sementara Soz terlihat sangat kuat ketika kehilangan keluarganya di depan mata. Perempuan ini terpisah dari keluarganya dengan cara yang sangat tragis tapi kemudian bertemu dengan Omed. Lelaki terluka yang sebenarnya diam-diam mencintai Nazo. Soz bergabung dengan YBS sebagai perawat aktif dan membantu semua korban ISIS.

Proses ini sangat kejam dimana ISIS melakukan patroli dari rumah ke rumah kaum Yazidi. Mengangkut laki-laki dan perempuan dengan tujuan untuk di Islamkan. Tapi itu tidak sampai terjadi. ISIS memisahkan dan mengangkut kembali para laki-laki ke gunung Shingal. ISIS menyuruh semua laki-laki berkumpul, berdekatan kemudian menoleh ke belakang. Lalu saat itu juga ISIS memberondong mereka dengan tembakan, melihat siapa yang masih bergerak dan kembali menembak sampe tewas. Omed adalah salah satu laki-laki yang selamat dari peristiwa itu, tapi kengerian yang ada di depan matanya sama sekali tidak akan mudah dilupakan. Ia juga melihat bagaimana nasib Azad untuk terakhir kalinya dan terbayang air mata Nazo.

Nasib wanita dan anak-anak juga tidak terlepas dari kengerian yang sangat buruk. Wanita tua dijadikan budak untuk para ISIS. Remaja dan anak perempuan harus siap dengan sebuah sistem lotre mengerikan untuk menjadi pelayan seksual para ISIS. Sebuah gambaran ISIS yang sangat melukai semua wanita di dunia. Nazo-pun tidak lepas dari korban kekejaman itu. Dan saat itu Ia terpisah dari Sarah, adik perempuannya yang menderita tuna rungu dan tuna wicara.

Nazo, Soz, dan Omed menjadi karakter yang berani dalam cerita ini. Tidak perduli seberapa kejamnya ISIS mereka bisa melewati semua itu. Terluka parah, kesakitan, doa dan harapan sama sekali tidak lepas dari perjalanan karakter ini. Semua kisahnya semakin lengkap dengan drama percintaan antara Nazo dan Azad, juga Soz yang diam-diam mencintai Omed.

Menceritakan secara lengkap dan utuh dari novel What Comes With The Dust: Goes With The Wind karya Gharbi M. Mustafa, sama sekali tidak mudah. Selalu ada kekejaman dalam setiap bagian. Bahkan ketika saya sudah merasa senang karena cobaan yang dihadapi oleh karakter selesai, maka cobaan berikutnya akan muncul, sampai novel ini selesai dengan akhir yang bisa menggetarkan hati semua pembaca.

Apa Yang Terjawab?

Selama ini kita tinggal di negara yang sangat aman dan damai, meskipun ada berbagai masalah tapi sangat berbeda dari kisah umat Yazidi di Irak. Jika Anda membaca novel ini sampai selesai ada beberapa pertanyaan yang akan terjawab, seperti:

  • Siapa sebenarnya umat Yazidi?
  • Mengapa Yazidi dianggap sebagai musuh ISIS?
  • Mengapa umat Kurdi sangat ingin melindungi kaum Yazidi?
  • Mengapa ISIS sebenarnya bukan Islam? – (menurut saya)
  • Mengapa tragedi ISIS membawa dampak yang sangat besar untuk umat Islam di seluruh dunia?
  • Mengapa jika Anda beragama Islam, maka sangat tidak setuju dengan ISIS?

Masih ada banyak pertanyaan lain lagi yang akan terjawab, dan jangan melewatkan satu kata pun dari novel ini.

Info Buku

Format: Hardcover

Halaman: 202

Bahasa : Inggris

Publisher: Skyhorse Publishing, Imprint: Arcade Publishing

ISBN-10: 1541189965

ISBN-13: 978-1541189966

Informasi Penulis

Gharbi M. Mustafa adalah seorang penduduk asli dari Kurdistan, Irak dan sekarang tinggal di Dohuk. Ia bekerja sebagai profesor bahasa Inggris di Universitas Dohuk. Novel ini ditulis berdasarkan kisah nyata dari seorang wanita Yazidi yang berhasil lolos dari kekejaman ISIS. Buku pertamanya yang berjudul When Mountains Weep juga mendapatkan perhatian dari pembaca di seluruh dunia. Buku ini menceritakan tentang kisahnya sendiri dalam bentuk memoar tentang hidupnya tumbuh dibawah rezim Saddam Hussei.

Favorit

“If those butterflies could burst forth and fly, why can’t I spread my wings and be a part of this divine mystery? Could little wings carry my body to be with Azad on Mount Shingal tonight” – By Nazo

“The tears in our eyes will not bring back our loved ones or drive ISIS from our homes. Let our blood boil in our veins so our unfallen tears evaporate. Let ISIS see nothing but the fire in our eyes as we face them!” – By Soz

“Once I read that lost love is like a bullet. What kills you is not the bullet through your body, but the big space it leaves behind. And Azad, your departure has left a big hole in my heart— it won’t heal until we meet again.

I was born with a half-soul. All my life I searched for the person with the missing half, and I found it in you. When we met, my half sailed through your blue eyes, deep down, and merged with yours for eternity.

Now death has separated us into separate realms of the universe. Yet I am also dead— I only need to cremate my body to set my soul free. I don’t want to breathe in the world when you are not in it anymore.

Tonight, I will be your bride. Tonight, I will dance with you under the blue raindrops of Heaven”- By Nazo

“We dye our hair many colors to disguise our gray souls. My daughter, we don’t mature by merely growing old but by the damage time causes in our lives. When there are holes in our hearts, scars on our souls, and patches on our wings, then we know we have grown.” By – Nazo’s  mother (ibu Nazo)

Direkomendasikan untuk pembaca : The Kite Runner dan The Swallows of Kabul

review saya

Sebuah cerita perjuangan remaja berusia 18 tahun yang menjadi petunjuk,bahwa wanita tidak mudah menyerah dan mampu bertahan dalam kondisi yang paling kejam sekalipun. Sebuah kisah yang membantu kita mengingat semua kekejaman ISIS, meskipun Anda akan merinding saat membacanya.

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan senang jika Anda berkunjung ke toko buku kami. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close