Women's Fiction

Menikmati Lezatnya The Last Days of Café Leila By Donia Bijan

Review The Last Days of Café Leila by Donia Bijan

Review Saya

Review sesuai penilaian pribadi

Saya siapkan bintang 5 tapi ada beberapa bagian yang membuat saya cukup memberi bintang 4 ya.

Novel kedua dari penulis Donia Bijan benar-benar menarik minat saya. Karena itu saya akan mengajak Anda untuk menikmati lezatnya The Last Day of Café Leila by Donia Bijan. Pertama kali memilih judul ini adalah karena itu mengandung kata “Café”. Saya membayangkan duduk di cafe sambil berlibur, suasana tenang, nyaman dan membaca buku. Namun satu hal lagi yang menarik adalah bahwa Donia Bijan mampu menarik minat karena latar belakangnya sendiri.

Dalam profil singkat tertulis bahwa Donia Bijan adalah lulusan dari UC Berkeley and Le Cordon Blue. Ia pernah menjadi chef profesional di berbagai restoran di San Francisco. Pertanyaan saya adalah, bagaimana Donia Bijan akan membawa kisah dalam novel ini sementara profesinya adalah seorang chef. Donia Bijan sebelumnya sudah menulis buku non fiksi atau tepatnya memoir dengan judul: Maman’s Homesick Pie.

Baiklah, sebelum Anda merasa penasaran, sekarang lebih baik menikmati hidangan pembuka, makanan utama dan penutup seperti cerita yang dirangkai dalam The Last Days of Café Leila oleh Donia Bijan.

Pada awal cerita dan anggap saja itu adalah hidangan pembuka, Donia menceritakan seorang wanita bernama Noor. Ia adalah wanita paruh baya Persia Amerika yang sudah 30 tahun tinggal di Amerika. Keinginannya sekarang untuk bisa pulang ke Iran adalah karena suaminya berkhianat. Dan saat itu tepat anak perempuannya – Lily – akan menikmati liburan musim panas. Noor ingin mengenalkan Lily tentang sejarahnya dan bagaimana Ia bisa tinggal di Amerika. Meskipun sebenarnya itu adalah kisah yang sangat pahit dan menyakitkan.

Kemudian saat masuk ke dalam “hidangan utama”, Donia Bijan menggambarkan kisah Zod. Ayah Noor yang membuat keputusan dengan mengirim Noor dan Mehrdad untuk keluar dari Iran dan pergi ke Amerika. Saat itu Zod merasa sangat sakit akibat konflik yang terjadi di Iran. Masalah politik saat itu membawa dampak yang sangat besar untuk Zod dan cafe yang sudah didirikan oleh keluarganya. Sulit bagi Zod untuk membuat anak-anak nyaman dan bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Zod bertahan di Iran dan mengirim Noor dan Mehrdad ke Amerika. Dua anak ini pergi ke tempat saudara Zod yang sudah keluar dari Iran sejak tragedi politik.

Hal yang menyakitkan bagi Noor adalah bahwa ketika Ia merasa selalu meminta ijin pada Zod untuk pulang. Tidak pernah terbayangkan bahwa Ia akan pulang dengan membawa masalah perceraian yang tidak pernah diduganya. Lantas keadaan Zod mulai memburuk. Diam-diam Zod menyembunyikan penyakit yang sedang di deritanya.

Rangkaian cerita dalam novel ini benar-benar sangat indah. Donia Bijan membuat karakter utama bertemu dengan karakter pembantu namun dengan cara yang menarik. Sepanjang cerita topik makanan tidak akan pernah lepas. Bagaimana sebuah roti dihidangkan dengan perasaan gembira saat menikmati udara dan sinar matahari pagi, secangkir teh yang bisa menghapus kesedihan dan gerakan-gerakan memasak di cafe Leila yang tidak terlupakan.

Lalu apa sebenarnya akhir cerita The Last Days of Café Leila seperti arti judulnya. Ada kisah yang dimulai ketika kondisi Zod semakin memburuk. Zod tidak ingin rumah sakit. Zod hanya ingin di rumah dan menikmati semua kenangan. Beberapa kejadian yang buruk menjadi puncak ketika Zod bisa menceritakan apa yang membuat perasaanya terluka. Cerita ketika kehilangan istrinya – Pari – yang tidak terlepas dari masalah politik dan agama di Iran. Kemudian peristiwa itu membuat Noor tahu apa yang dirasakan oleh Zod. Lalu, apa yang terjadi ketika Zod meninggal?

Sungguh saya ingin menceritakan bagaimana novel ini berakhir. Tapi kita sudah sepakat untuk tidak melanggar aturan spoiler. Jadi mari kita lanjutkan ke opini saya tentang buku ini.

Apa yang saya suka?

Saya menyukai bagaimana cara Donia Bijan merangkai cerita ini seperti makanan. Pertama kisah perkenalan dengan Noor dan Lily yang terasa sedikit renyah tapi lalu pahit. Saya membutuhkan sesuatu yang manis untuk menghilangkan rasa pahit. Donia Bijan kemudian memberikan obat dengan cerita indah Cafe Leila, kisah bagaimana Zod belajar memasak, melayani tamu dan keindahan hotel di cafe Leila.

Dan pada akhirnya Donia Bijan juga membuat saya masih merasakan kisah pahit jadi saya membutuhkan sesuatu yang lebih manis. Ya, saya membutuhkan makanan penutup yang lebih banyak gula,meskipun saya tahu itu tidak sehat. Ada beberapa kejutan yang diberikan pada akhir cerita setelah saya berpikir merasa sangat senang dan bahagia untuk semua tokohnya. Saya tidak mendapatkan rasa manis seperti yang saya inginkan, tapi itu benar-benar akhir yang bisa diterima. Saya berpikir sejenak untuk pergi ke tempat Noor sesaat setelah selesai membaca buku ini.

Apa yang tidak saya suka?

Sekalipun saya selalu memaksa untuk menyukai sebuah buku 100 persen, tapi tidak tidak bisa terjadi. Sebagai pembaca saya juga menemukan apa yang membuat saya tidak suka tapi sebenarnya itu masih bisa diterima. Cerita dan bahasa dalam novel ini sangat indah. Karena sangat indah dan deskriptif maka saya merasa berjalan di atas kura-kura. Ya, pada beberapa bagian Anda harus berusaha untuk menikmati bagaimana minyak di tuang dalam wajan, buah plum yang diperas, roti yang diberi selai, dan kemudian hidangan di bawa ke atas meja. Saya yakin kalau semua itu tidak terlepas dari latar belakang Donia Bijan sebagai chef profesional.

Favorit

To live into your forties thinking it was you who brightened rooms, because nothing of what you had seen so far prepared you for the truth: how small and inconsequential your so-called luster, how easyly extinguished and utterly dark (page 12).

Lily would not admit it, but a part of her was beginning to appreciate the freedom that came with captivity. Freedom from peers. After two months of isolation, not worrying about what to wear or what anyone thought of her, not having a public profile or being surrounded by people who had known you all your life and were full of expectation, she was discovering what it was like to have an independent thought. (page. 170-171).

Siapa Donia Bijan ?

Donia Bijan graduated from UC Berkeley and Le Cordon Bleu. After presiding over many of San Francisco’s acclaimed restaurant and earning awards for her French-inspired cuisine, in 1994 she opened her own retaurant, L’aime Donia, in Palo Alto. She now divides her days between raising her son, teaching, and writing.

Info Buku

Judul: The Last Days of Café Leila

Penulis: Donia Bijan

Halaman: 304

Bahasa : Inggris

Format: Hardpaper

Penerbit: Algonquin Books (division of Workman)

Tahun terbit: 18 Apr 2017

Harga: 350.000

Pemesanan: cs@kertasbuku.com  atau kertasbuku1@gmail.com

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan senang jika Anda berkunjung ke toko buku kami. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close