Thriller& Mystery

Review The Dinner Karya Herman Koch : Kasih Orangtua Sepanjang Jalan, Termasuk Jalan Haram Sekalipun

MENU

Minuman pembuka:

Pink champagne dengan salam hangat pertemuan.

Hidangan pembuka:

Lobster saus tarragon dan jamur, dihidangkan bersama sepotong tanya tentang kabar.

Hidangan utama:

Filet ayam guinea, dengan hidangan samping sekerat keju ricotta, dan seiris kasus pembunuhan.

Hidangan penutup:

Parfait cokelat dengan berry pilihan dan sebuah kejutan penuh darah.

Review The Dinner Karya Herman Koch – Ketika Paul dan Claire menerima undangan makan malam dari Serge dan Babette, perjumpaan mereka yang menyenangkan perlahan berubah menyeramkan. Semua bermula  ketika kedua anak mereka terlibat kasus pembunuhan. Di antara denting garpu dan pisau, mereka mencari cara untuk mengubur kasus tersebut dalam-dalam.

Akan tetapi, alih-alih menemukan solusi, mereka justru menyingkap konflik keluarga, membongkar rahasia masa lalu, dan menguak aib busuk di balik topeng mereka sebagai manusia yang beradab. Sekarang, yang ada di benak mereka adalah mencari cara untuk menyelamatkan diri masing-masing. Lantas, sejauh mana mereka akan berbuat untuk melindungi orang-orang yang mereka sayangi?

Judul : The Dinner

Pengarang : Herman Koch

Penerjemah : Yunita Candra

Penerbit : PT Bentang Pustaka

Tempat Terbit : Yogyakarta

Cetakan : 1, April 2017

Jumlah Halaman : 350 hlm

ISBN : 978-602-291-240-8

Blurb buku inilah yang berhasil membuat saya memboyongnya pulang dan membaca novel karya Herman Koch ini. Saya tidak pernah mendengar nama penulis yang ternyata berkebangsaan Belanda sebelumnya, sebab novel The Dinner-lah yang berhasil membuatnya menjadi salah satu penulis international best seller. Dan, ada embel-embel berupa stiker bertuliskan ‘Segera Difilmkan’ pada sampulnya yang membuat saya tak ragu membelinya seharga Rp 64.000,- di Books & Beyond.

Berbicara tentang harga yang terhitung lebih murah daripada novel lain di masa sekarang dan sampul yang menggambarkan peralatan makan dan pion catur dengan latar hitam, saya merasa novel ini betul-betul layak dibaca bagi pecinta thriller seperti saya. Mari kita kupas novel yang berhasil mengggugah rasa penasaran saya sampai akhir ini.

Sampul novel

Seperti yang sudah saya singgung di paragraf sebelumnya, novel terbitan Bentang Pustaka ini berhasil menggambarkan apa sebenarnya yang menjadi latar cerita di dalamnya. Karena judulnya saat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah ‘makan malam’, tak heran ada gambar pisau, sendok, dan garpu. Cerita di dalam novel ini memang terjadi hanya dalam waktu makan malam.

Lalu ada pion catur dua buah, yang menurut saya memberi gambaran bahwa ada dua pihak yang saling adu strategi di sini, demi kepentingan mereka sendiri, tentu saja. Dua pihak ini adalah keluarga Paul & Calire, dan Serge & Babette. Keduanya adalah orang-orang yang memiliki kehidupan berbeda seratus delapan puluh derajat, tetapi mereka dihadapkan permasalahan yang sama: anak mereka terlibat dalam kasus pembunuhan.

Tokoh

Tokoh di dalam novel ini adalah pengecoh yang andal. Meski sudut pandang diceritakan berdasarkan orang pertama yaitu Paul, tetapi kamu bisa merasakan perbedaan karakter antar tokoh. Tokoh-tokohnya pun tak terlampau banyak sehingga kamu tidak perlu khawatir susah mengingatnya. Dengan sendirinya permasalahan yang dihadapi tokoh akan mudah dipahami.

Hubungan antar tokoh yang diliputi perasaan khas manusia yang rumit juga digambarkan dengan jelas. Dendam, kebencian, cinta dan kasih pada keluarga, amarah, cemburu, cemas, semuanya terjalin dengan sebagaimana semestinya, tidak berlebihan atau mustahil. Para orangtua di dalam cerita ini sama-sama ketakutan tentang masa depan keluarga mereka akibat dari perbuatan anak-anak yang mereka sayangi.

Alur

Mungkin ada yang bertanya-tanya, bagaimana caranya satu novel setebal 350 halaman hanya mengambil latar saat makan malam? Jawabannya, bisa. Tentu saja bisa sebab alur yang dipakai dalam novel ini adalah maju-mundur, menceritakan awal mula semua kejadian ini yaitu kebobrokan di dalam keluarga masing-masing, tidak sesuai dengan apa yang ditampilkan di hadapan orang lain. Alur cerita ini tidak rumit untuk diikuti, dan bagi saya, novel ini memang memiliki plot twist yang menarik.

Latar atau Setting

Novel yang berlatar tempat di sebuah restoran mewah ini benar-benar akan membawamu ke sebuah restoran yang tidak mungkin dikunjungi oleh orang-orang biasa. Restoran yang memiliki interior dan dekorasi menakjubkan ini hanya bisa dipesan secara mendadak oleh Serge, seorang politikus yang juga kakak kandung Paul—si tokoh utama. Bahkan pada blurb buku di atas, kamu bisa lihat menu rumit yang hanya dimakan oleh orang-orang kaya seperti Serge dan istrinya, Babette.

Waktu yang menjadi latar novel ini adalah pada malam hari, tepatnya saat jam makan malam, sesuai judulnya. Tetapi siapa yang menduga acara makan malam antara anggota keluarga itu bisa menjadi begitu tegang dan berakhir dengan pertumpahan darah? Acara makan malam yang semula hanya obrolan ringan penuh basa-basi itu berubah menjadi ajang terkuaknya memori dan rahasia busuk serta penuh dendam. Nah, itulah mengapa novel thriller yang satu ini sanggup membuatmu penasaran meski saya akui, pada awal cerita temponya sedikit lambat.

Originalitas

Tak heran Wall Street Journal mengatakan bahwa novel ini adalah Gone Girl versi Eropa karena penulisnya adalah orang Belanda. Novel ini memang menceritakan tentang keburukan di dalam keluarga, seperti tokoh dalam Gone Girl. Tetapi kalau Gone Girl bercerita tentang pasangan suami-istri yang terlihat luar biasa dan mesra serta belum dikaruniai anak, novel ini bercerita tentang jerih payah orangtua untuk menyelamatkan anak mereka meski dengan cara yang haram sekali pun.

Bagaimana kesannya? Membaca poin-poin resensi novel di atas pasti membuatmua ingin membacanya juga, ‘kan? Penasaran! silahkan membaca sendiri dan bagi pengalaman baca Anda di kolom komentar.

Profil Penulis

The DinnerHerman Koch (5 September 1953) adalah seorang penulis, kolumnis, dan aktor kelahiran Belanda. Ia memulai debutnya sebagai penulis pada 1985 dengan menerbitkan kumpulan cerpen yang berjudul De voorbijganger (The passerby). Novel pertamanya, Red ons, Maria Montanelli (Save Us, Maria Montanelli), terbit pada 1989.

Koch meraih predikat penulis best seller sekaligus mendapat perhatian internasional lewat novel keenamnya, Het dinner (The Dinner, 2009). Novel tersebut telah diterjemahkan ke dalam 21 bahasa, terjual lebih dari satu juta kopi di Eropa, dan meraih penghargaan NS Audience Award pada 2009. Novel ini pun telah difilmkan (2013) serta diadaptasi menjadi pertunjukan drama (2012). Dianggap sebagai “Gone Girl versi Eropa”, The Dinner akan segera difilmkan oleh Hollywood.

Saat ini Koch tinggal bersama istrinya, Amalia Rodriguez, dan anak mereka, Pablo.

Karakter, Plot , Cerita

Sebuah novel yang mengingatkan kita kisah dalam Gone Girl, tapi ini sunggu original dengan bumbu yang menegangkan. Semua hanya terjadi saat makan malam yang mewah

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close