Thriller& Mystery

Gilkey Si Pencuri Buku Karya Allison Hoover Bartlett : Pencuri yang Tidak Mencuri

Pengulas : Elsa Malinda / @elsamalinda

Gilkey Si Pencuri Buku Karya Allison Hoover Bartlett : Pencuri yang Tidak Mencuri – Gilkey, si pencuri buku yang tak pernah bertobat, telah mencuri buku-buku langka di seluruh negeri. Namun, tak seperti umumnya maling, Gilkey mencuri demi cinta: cinta pada buku. Sama obsesifnya dengan Gilkey adalah Ken Sanders, seorang “bibliodick” (penjual buku yang merangkap jadi detektif) yang ingin menangkap si pencuri. Seumur hidup menjadi kolektor dan penjual buku langka, Sanders berubah menjadi detektif amatir, dan tak akan berhenti memburu di pencuri.

Mengikuti kedua karakter eksentrik ini, jurnalis Allison Hoover Bartlett terjun ke dalam gairah dunia buku yang fanatik, hingga akhirnya ia terjebak di antara orang-orang yang tertarik menemukan harta tak ternilai itu dan seorang yang ingin tetap menyembunyikan harta itu: si pencuri. Sarat ketegangan, wawasan, dan humor, Bartlett merangkai permainan kejar-kejaran ala kucing dan tikus menjadi narasi yang memukau dan memacu adrenalin: tak hanya mengisahkan bagaimana Gilkey melakukan kejahatannya dan bagaimana Sanders menangkapnya, tapi juga mengeksplorasi romansa buku, hasrat untuk mengoleksinya, dan godaan untuk mencurinya.

Mengantarkan pembaca ke dalam obsesi dunia kesusastraan yang luas dan kaya, buku ini membingkai cerita kedua karakter itu ke dalam konteks yang lebih besar dari gairah terhadap buku, pengoleksian, dan pencurian selama berabad-abad. Penulisnya menunjukkan peran besar buku dalam kehidupan kita, penghormatan yang menjadikan buku-buku itu tetap dipelihara, dan keinginan yang membuat sebagian orang mempertaruhkan apa saja demi buku yang mereka sukai.

Judul : Gilkey Si Pencuri Buku

Pengarang : Allison Hoover Bartlett

Penerjemah : Lulu Fitri Rahman

Editor : Indradya Susanto Putra

Penerbit : Pustaka Alvabet

Tempat Terbit : Jakarta

Cetakan : 1, Januari 2018

Ukuran : 13 x 20 cm

Jumlah Halaman: 283 hlm

ISBN : 978-602-6577-21-4

Pertama kali membeli buku ini, aku kira sensasi yang akan kurasakan ketika membacanya akan sama seperti saat membaca novel misteri atau thriller yang menegangkan dan penuh misteri. Tapi ternyata tidak, karena meski ini kisah nyata, buku ini adalah kumpulan catatan dan rekaman murni—tanpa dramatisasi—yang dituangkan dalam tulisan rapi oleh seorang penulis merangkap jurnalis berbagai media massa termasuk New York Times dan Washington Post, Allison Hoover Bartlett.

Gara-gara Krautterbuch

Allison berhasil menguak tentang pencurian buku langka maupun dunia buku langka yang saya kira bagi orang seperti saya, hal ini sangat tidak umum atau tidak banyak yang kita ketahui dikarenakan tidak pernah sekalipun ada berita tentang pencurian buku langka yang menjadi viral. Lalu saya berpikir, apakah ini dikarenakan minimnya minat baca masyakarat Indonesia sehingga cenderung tidak terlalu menggubrisnya? Entahlah, saya tidak tahu alasan pastinya. Tetapi dalam buku ini, kita bisa tahu alasan-alasan mengapa pencurian buku sebenarnya kerap terjadi dan mengapa pula tidak ditindaklanjuti secara serius oleh pihak berwenang meski itu negara Amerika Serikat seperti yang menjadi latar tempat buku ini.

Asal mula cerita ini terjadi karena sebuah buku tua yang berusia hampir empat ratus tahun, entah berasal dari perpustakaan mana, tergeletak di sudut meja Allison. Buku itu ditemukan oleh teman Allison yang sedang menyortir benda milik kakak laki-lakinya yang tewas karena bunuh diri. Buku tua berbahasa Jerman berjudul Krautterbuch (buku tanaman) yang ditulis oleh Hieronymus Bock, seorang dokter dan ahli botani, diterbitkan pada 1630, yang memiliki sampul berupa papan dari kayu ek terbungkus kulit babi, terdapat pola timbul melingkar-lingkar dengan bobot enam kilogram. Bisakah kalian bayangkan sensasi membaca buku ini yang diselingi deskripsi fisik buku langka, dengan sampul dan ilustrasi indah yang sudah tidak bisa kita lihat lagi di sekitar kita? Seorang kutu buku yang betul-betul mencintai buku akan mengerti betapa menyenangkannya sejenak dikembalikan ke masa lalu oleh penjabaran yang baik oleh Allison. Keindahan buku langka tergambarkan dengan sebenar-benar indah.

Tentu saja tokoh utama dalam cerita ini juga terpukau oleh keindahannya yaitu Gilkey sebagai tokoh antagonis yang, bisa dikatakan tidak jahat, dan Ken Sanders, seorang kolektor sekaligus penjual buku langka yang memiliki sifat yang sama tidak konsistennya dengan Gilkey. Allison secara tak diduga terpaksa masuk lebih dalam ke kehidupan kedua orang itu, demi mengulik dunia buku langka lebih dalam dan membuat pembaca paham benar mengapa orang bisa  berbuat segila itu kepada buku. Mungkin dari buku ini mata pembaca bisa terbuka lebar bahwa bukan hanya perasaan cinta pada manusia saja yang membutakan.

Sama Tapi Beda

Sejak kecil Gilkey selalu mencintai buku. Buku selalu ada di setiap sudut rumahnya, dan hal aneh di dalam keluarganya adalah, mereka tidak peduli koleksi itu didapat dari mana. Mereka bahkan tidak berusaha menasihati Gilkey pada pencurian pertamanya saat masih kanak-kanak. Di dalam keluarganya sendiri saling mencuri itu wajar terjadi. Tak heran, di dalam kediaman keluarga Gilkey—tepatnya ibu dan saudarinya karena ayahnya membawa Gilkey usai perceraian—banyak koleksi barang antik, seperti tempat lilin kuningan, porselen Inggris, sendok perak, dan lain sebagainya. Keluarga Gilkey gemar mengoleksi apa saja, tapi buku-lah yang mendominasi berbagai tempat di rumah itu.

Gilkey berasal dari keluarga yang tidak kaya, sehingga kecintaannya dan obsesinya pada buku tak sejalan dengan kondisi keuangannya. Ditambah lagi pola pikir Gilkey yang tidak biasa, yaitu tindakannya bukan mencuri, ia lebih sering menyebutnya berbuat itu. Ia tidak mau menyebut perbuatannya itu pencurian karena baginya, agen-agen penjual buku itulah yang jadi penjahat. Gilkey memang cerdas, ambisius, pemimpi, dan santun—perpaduan yang aneh bagi tokoh antagonis, bukan? Ia hanya sangat mencintai buku dan ingin memilikinya tanpa perlu repot-repot membayar sebab di dalam pikirannya, agen penjual buku itu orang kaya yang tidak akan kerepotan bila satu-dua bukunya diambil oleh laki-laki berambut tipis dan berpakaian rapi itu. Lagipula, Gilkey memberitahu Allison bahwa agen buku itu kebanyakan tukang tipu. Mereka suka mengganti sampul buku, mengaku-ngaku menjual buku cetakan pertama padahal bukan, dan Gilkey amat membencinya. Padahal perbuatan Gilkey pada para agen itu telah merugikan banyak pihak. Karena tidak semua dari mereka melakukan hal-hal yang tidak disukai Gilkey, dan tidak semuanya orang-orang kaya. Secara bertahap mereka mengumpulkan uang demi membeli buku langka, kemudian dijualnya dengan harapan pembeli tersebut mencintai buku itu sebagaimana mereka mencintainya.

Oleh sebab itu Ken Sanders geram. Penjual buku langka yang suka bercerita itu menjabat sebagai ketua keamanaan ABAA (Antiquarian Booksellers’ Association of America)—Asosiasi Pedagang Buku Antik Amerika—itu sangat getol ingin menangkap Gilkey. Baginya, Gilkey harus membayar perbuatannya dengan mendekam di penjara dan setidaknya, tidak akan merisaukan pada penjual buku langka selama ia menjalani masa hukumannya. Dari sini kita bisa lihat betapa sama dan berbedanya kedua tokoh utama ini. Yang satunya mencintai buku, tetapi suka mencuri buku demi membangun mimpinya memiliki perpustakaan besar dan mewah yang dipenuhi buku yang akan membuatnya terlihat seperti bangsawan dan orang berpendidikan. Sedang satunya, mencintai buku dan akan melakukan apa saja demi membasmi kasus pencurian buku langka walau terkesan mustahil karena besarnya rasa cinta itu.

Di buku ini, pembaca dapat mengetahui nama-nama para pengarang besar dunia dari berabad-abad lampau, kisah ekstrim para pecinta buku, dan tentu saja menyelam lebih dalam ke dunia buku langka sehingga bisa menambah wawasan dan rekomendasi buku bila pembaca sedang bingung mau membaca buku apa atau sedang mencari buku klasik.

Kerja bagus saya katakan kepada Allison Hoover Bertlett. Dari buku ini kita diberi pelajaran bahwa secinta apa pun pada sesuatu, setidaknya kita tidak boleh mengikuti nafsu.

Profil Penulis Allison Hoover Bartlett

Gilkey Si Pencuri Buku Karya Allison Hoover Bartlett
Sumber; Twitter @AllyRace

Allison Hoover Bartlett telah menulis dalam berbagai topik, termasuk mengenai perjalanan, seni, ilmu pengetahuan dan pendidikan, untuk New York Times, Washington Post, Salon.com, San Francisco Chronicle Magazine, San Francisco Magazine, dan media-media lainnya. Artikelnya mengenai John Gilkey dimasukkan dalam Best American Crime Reporting 2007.

Bertlett adalah seorang anggota pendiri kelompok menulis North 24th dan bekerja di San Francisco Writers’ Grotto, sebuah studio kolektif. Bartlett menyandang B.A. dalam sastra Inggris dari UC Santa Barbara dan tinggal di San Francisco bersama suami dan kedua anaknya.

Pengulas : Elsa Malinda / @elsamalinda

Gilkey Si Pencuri Buku Karya Allison Hoover Bartlett Elsa Malinda lahir di Balikpapan pada tanggal 18 Maret 1994. Selain membaca hobinya adalah menulis. Selain mengulas buku di kertasbuku.com, Elsa juga telah menerbitkan tulisannya berupa cerpen maupun berita di berbagai media cetak maupun elektronik seperti Kaltim Post, Majalah Imut, Aksarayana, dan lain-lain.

Ingin sekali menjadi jurnalis. Lebih banyak mengoleksi buku genre thriller tetapi suka semua genre asalkan bagus dan berkesan.

Tidak terlalu memikirkan penulis favorit, karena baginya terlalu banyak penulis buku yang disukai baik dari dalam dan luar negeri. Untuk mengenal lebih dekat bisa ditemui secara maya melalui akun Instagramnya @elsamalinda.

Cerita
Plot
Karakter

Di buku ini, pembaca dapat mengetahui nama-nama para pengarang besar dunia dari berabad-abad lampau, kisah ekstrim para pecinta buku, dan tentu saja menyelam lebih dalam ke dunia buku langka sehingga bisa menambah wawasan dan rekomendasi buku bila pembaca sedang bingung mau membaca buku apa atau sedang mencari buku klasik. Kerja bagus saya katakan kepada Allison Hoover Bertlett. Dari buku ini kita diberi pelajaran bahwa secinta apa pun pada sesuatu, setidaknya kita tidak boleh mengikuti nafsu.

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan senang jika Anda berkunjung ke toko buku kami. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close