Teens & YA

Review Rooftop Buddies Karya Honey Dee : Ketika Bunuh Diri Menjadi Pilihan

Review Rooftop Buddies Karya Honey Dee : Ketika Bunuh Diri Menjadi Pilihan – Buat Rie, mengidap kanker itu kutukan. Daripada berjuang menahan sakitnya proses pengobatan, dia mempertimbangkan pilihan lain. Karena toh kalau akhirnya akan mati, kenapa harus menunggu lama?

Saat memutuskan untuk melompat dari atap gedung apartemen, tiba-tiba ada cowok ganteng berseru dan menghentikan langkah Rie di tepian. Rie mengira cowok itu, Bree, ingin berlagak pahlawan dengan menghalangi niatnya, tapi ternyata dia punya niat yang sama dengan Rie di atap itu.

Mereka pun sepakat untuk melakukannya bersama-sama. Jika masuk ke dunia kematian berdua, mungkin akan terasa lebih baik. Tetapi, sebelum itu, mereka setuju membantu menyelesaikan “utang” satu sama lain, melihat kegelapan hidup masing-masing. Namun, saat Rie mulai mempertanyakan keinginannya untuk mati, Bree malah kehilangan satu-satunya harapan hidup.

Judul : Rooftop Buddies

Penulis : Honey Dee ( @honeydee1710 )

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit : 2018

Tebal : 264 halaman

Harga : Rp63.000 (Pulau Jawa)

“Seharusnya, bukan masalah berapa lama kita hidup di dunia ini, tapi apa yang kita lakukan dalam kehidupan ini.” Halaman 250

Pernah memiliki niat untuk mengakhiri hidup?

Salah satu hal yang menarik perhatianku adalah blurb dari novel ini. Sejujurnya, aku pernah trauma ketika membeli novel hanya mengandalkan blurb, setidaknya harus ada beberapa review yang aku baca lebih dahulu. Namun blurb novel ini benar-benar menjual dan membuatku penasaran. Jika biasanya orang akan mencegah seseorang bunuh diri, di novel ini justru memiliki niat yang sama. Benarkah masalah mereka seberat itu hingga mati adalah jalan terakhir yang harus dipilih? Baiklah, mari simak lebih lanjut ulasan novel ini.

Setting Cerita

“Seluruh kota Alerawi sangat teratur. Penduduk yang sangat sedikit memungkinkan gosip tersebar dengan cepat. Tidak ada rahasia di kota ini.” hal. 49

Penjelasan Alerawi sangat detail hingga aku bisa membayangkan sebuah daerah kecil dengan rumah penduduk yang rapat dan saling berhadapan. Masa kecil Rie dihabiskan di Alerawi, yang letaknya tak jauh dari ibu kota. Alerawi digambarkan dengan suasana yang tak biasa, masyarakat di sana saling mengenal dan sering ikut campur masalah orang lain, bahkan aib sekecil apapun bisa menyebar di berbagai penjuru Alerawi.

Sementara itu, healthy village merupakan asrama di Bandung tempat para pejuang kanker bertahan hidup. Penggambarannya hanya sekilas, namun kisah orang-orang didalamnya sangat memorable.

Karakter

“Bree, benarkah kematian bisa menyembuyikan kita dari kehancuran?” hal. 132

Mierelle atau Rie, digambarkan sebagai remaja kuat, keras dan pemikiran dewasa. Sebagai pengidap kanker, Rie hampir tidak pernah menunjukkan keterpurukannya. Sebaliknya, sikap keras Rie sudah terasa sejak awal bab. Bagaimana ketika gadis itu menjalani kemoterapi, hingga pada akhirnya memilih untuk bunuh diri. Rie sama seperti remaja pada umumnya, emosinya sering meledak-ledak. Namun dibalik itu, Rie adalah sosok yang berani. Ia bahkan dengan santainya membahas kematian, seolah itu bukan hal yang mengerikan.

Jika Rie cenderung meledak-ledak, maka Bree hadir membawa ketenangan dengan aroma hujan. Bree sosok yang hangat namun misterius. Pertanyaan terbesar ketika Bree muncul adalah, mengapa cowok itu sangat ingin bunuh diri?

Selain dua sosok sentral tersebut, novel ini terasa semakin hidup dengan adanya anggota keluarga Rie, Mama, Papa dan Jojo. Kemunculan orang-orang dimasa lalu Rie  serta anggota healty village juga turut memberi pelajaran.

Sekilas tentang Rooftop Buddies

“Keinginanku untuk masa depan sudah hilang bersamaan dengan kuatnya keinginanku untuk mati.” Hal. 94

Rie dan Bree sepakat menunda niat bunuh diri mereka dan beralih mewujudkan wishlist hidup Rie. Keduanya melakukan perjalanan ke Alerawi, tempat dimana Rie kecil mendapat perlakuan buruk dari teman-temannya. Apa yang Rie alami memang bukan hal baru, bahkan saat ini marak terjadi di dunia pendidikan. Bisa dibayangkan betapa menderitanya hidup Rie sehingga membuat pergaulan Rie sangat terbatas.

Bersama Bree, satu persatu harapan hidup Rie terwujud. Namun ditengah menyelesaikan misi, Rie mengetahui satu fakta besar tentang latar belakang Bree. Siapa sangka, dibalik sosok hangat dan sikap humorisnya, Bree menyimpan kemelut kehidupan keluarga serta cinta yang rumit. Bree yang selalu melontarkan kalimat ringan namun dalam disaat bersamaan ternyata memikul tanggung jawab yang begitu besar. Hingga pada saatnya, Bree kehilangan satu-satunya pegangan hidup. Lalu akankah Bree meninggalkan Rie sendiri dan bunuh diri lebih cepat?

Plot dan Sudut pandang

Rooftop Buddies menggunakan alur maju dan dominan cepat. Ada beberapa flashback yang dilakukan melalui pikiran tokoh. Sayangnya, aku kurang merasakan feel di beberapa bagian. Salah satunya saat latar belakang Bree terungkap, aku merasa itu seperti hanya numpang lewat dalam cerita. Padahal, mungkin bila dijelaskan lebih detail, sisi melankolisme akan lebih nendang.

Sudut pandang yang digunakan yaitu orang pertama sebagai Rie. Melalui sudut pandang ini, aku jadi bisa lebih merasakan kemelut hati Rie. Bagaimana ketika Rie harus tetap terlihat tegar di depan orang tuanya, padahal sesungguhnya Rie juga ingin menangis. Bagaimana kerasnya Rie menolak untuk tinggal di Healty Village karena itu hanya akan menambah kesedihannya, dan bagaimana Rie enggan dikasihani karena penyakitnya. Penggunaan sudut pandang orang pertama di sini juga tidak terkesan sok tahu, aku selalu menebak-nebak bab selanjutnya yang terasa seperti misteri.

Gaya Bahasa

Seperti genre Young Adult pada umumnya, bahasa yang digunakan ringan dan santai. Bahkan meski mengusung sicklite, tidak banyak istilah medis yang digunakan. Penulis fokus pada kuatnya keinginan Rie untuk mengakhiri hidup.

Kamu mungkin akan menangis tersedu ketika membaca, atau  bisa jadi tidak. Aku sendiri meneteskan air mata, namun tidak sampai bercucuran. Di beberapa bagian memang cukup membuat dada sesak, apalagi dengan permainan alur yang agak ektrem. Sayangnya karena itu tadi, alurnya sedikit cepat jadi aku kurang bisa merasakan kesedihan yang di sampaikan.

Ada banyak hal yang disampaikan penulis dalam novel ini, seberapa berat masalahmu, jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup lebih cepat. Ingatlah bahwa di luar sana ada yang sedang berjuang untuk tetap bertahan, akan ada orang-orang yang merasa kehilangan. Pikirkan matang-matang sebelum mengambil keputusan, jangan sampai sesal membelenggumu dalam kematian.

“Hal teburuk sebagai penderita kanker adalah bagaimana orang-orang yang kamu cintai melihat proses kematianmu secara perlahan-lahan.” Hal. 20

Saya tahu, kanker memang sangat berat. Namun bukan berarti nggak bisa dilawan. Buat kamu yang sedang berjuang, mari sama-sama kuatkan hati untuk terus bertahan.

 “Aku malu, sungguh. Kupikir aku manusia paling menderita di dunia. Ternyata ada orang lain yang memikul beban lebih beat di bahunya. Seorang yang berusaha keras untuk bertahan dan tidak menemukan apa pun selain kematian sebagai pilihan yang aman. Kehidupan telah menekannya tanpa ampun. Hanya kematian tempatnya berlari.” Hal. 132

Terkadang, ketika kita jatuh, kita akan terbelenggu pada keterpurukan itu. merasa Tuhan tidak adil. Padahal, jika saja kita mau membuka mata lebih lebar dan memandang dunia, akan banyak orang yang memikul beban lebih berat. Kita tidak sendiri, kita jauh lebih beruntung dari mereka. Kuncinya satu, selalu bersyukur.

“Rie, kami tahu kami tidak  bisa melakukan banyak untuk mengurangi kesakitanmu. Kami tahu kami tidak bisa membuat atau menjamin kamu sembuh. Tapi percayalah, kami mencintaimu lebih dari yang kamu pikirkan. Kami akan menemanimu sampai akhir, Rie.” Hal. 220

Salah satu hal yang luar biasa dan tak ternilai harganya adalah kasih sayang orang tua. Mereka akan mengusakan yang terbaik untuk anaknya. Bahkan seringkali mereka rela menukar posisi agar buah hatinya tetap baik-baik saja.

Profil Penulis

Review Rooftop Buddies Karya Honey Dee

Honey Dee, penulis kelahiran Surabaya ini memiliki selera humor yang esksentrik dan pemikiran nyeleneh. Kini penulis yang aktif di beberapa grup facebook ini menyibukkan diri dengan berlatih airsoft gun dan merajut benda-benda tidak penting.  Penulis juga kerap menyuarakan pendapatnya lewat media sosial. Ingin menyapanya langsung? Bisa follow akun instagram penulis di @honeydee1710. Beliau juga aktif menulis di platform wattpad lho, yuk ketahui lebih jauh tentang karya-karyanya di @honeydee1710.

Simak Review Lain Dari Randombooks_

Review The Purpose Of Life Karya Alnira

Review Bhumi dan Bulan Karya Eriska Helmi

Review Jarrvis Chavali Karya Ainun Nufus

Review Sin Karya Faradita

Review Arterio By Sangaji Munkian

Karakter, Plot, Cerita

Seperti genre Young Adult pada umumnya, bahasa yang digunakan ringan dan santai. Bahkan meski mengusung sicklite, tidak banyak istilah medis yang digunakan. Penulis fokus pada kuatnya keinginan Rie untuk mengakhiri hidup. Kamu mungkin akan menangis tersedu ketika membaca, atau  bisa jadi tidak. Aku sendiri meneteskan air mata, namun tidak sampai bercucuran. Di beberapa bagian memang cukup membuat dada sesak, apalagi dengan permainan alur yang agak ektrem. Sayangnya karena itu tadi, alurnya sedikit cepat jadi aku kurang bisa merasakan kesedihan yang di sampaikan.

Tags
Show More

randombooks

Ani Widihastuti juga dikenal “randombooks_” . Kerap disapa Ani. Lahir di Kebumen, 22 September 1997. Saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta jurusan Manajemen.
Mempunyai hobi membaca, makan dan tidur. Sesekali menulis jika sedang dalam mood baik. Bisa disapa melalui akun facebook Ani Widihastuti, Instagram @randombooks_ sebagai akun bookstagram dan instagram pribadi @andisti_
Salam bahagia semua!

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close