Teens & YA

Review Novel Bingkai Kenangan : Yang Terlupakan Karya Seplia

Ketika harus memilih, melupakan atau dilupakan

Review Novel Bingkai Kenangan : Yang Terlupakan Karya Seplia  – Ini tahun terakhir Ellio di SMA Collase. Selain UN, dia juga disibukkan dengan persiapan pameran kompetisi foto antara dia dan Noahdi klub fotografi sekolah. Tragedi kamera rusak di anak tangga membawa Ellio mengenal Florissa, cewek baru di kelas yang sedikit aneh.

Sejak meminta cewek itu menjadi objek foto pamerannya, Ellio semakin mengenal Flo dan segala keanehannya. Flo sering melupakan hal-hal sepele. Letak kelas dan ruangan-ruangan di sekolah, bahkan tak jarang harus melirik name tag di seragam terlebih dulu baru menyapa dan bicara. Ellio semakin tertarik mengenal Flo lebih jauh. Saat dia berhasil jadian dengan Flo dan melupakan keberadaan Nana, pacarnya, hal yang mengejutkan terjadi.

Flo melupakan Ellio—wajah, nama, dan segala kenangannya.

Judul : Bingkai Kenangan; Yang Terlupakan

Penulis : Seplia ( @liaseplia )

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit : 2018

Tebal : 280 halaman

ISBN : 9786020613611

Harga : Rp 69.000 (Pulau Jawa)

 

Sebab hidup dengan kenangan menyedihkan lebih baik ketimbang lupa akan segala hal, seolah-olah kembali serupa kertas kosong. Hal. 235

Bagaimana jadinya jika ingatanmu perlahan memudar? Ketika kamu melupakan hal remeh hingga penting dalam hidupmu? Ketika memori besama orang-orang tersayang perlahan hilang tak berbekas dan hanya menyisakan ruang hampa. Mungkin apa yang Flo alami ini bisa menjadikan kita untuk lebih menghargai sebuah kenangan.

Hal pertama yang menjadi pertanyaan terbesarku adalah kenapa Flo bisa kehilangan daya ingatnya? Apa karena sebuah kecelakaan yang menyebabkan ia amnesia atau ada suatu penyakit yang menyerang daya ingatnya? Bagaimana Flo, diumurnya yang masih remaja harus mengalami penurunan daya ingat. Supaya kalian nggak penasaran, yuk simak ulasan ini.

Setting cerita

SMA Collase menjadi latar awal dan mengambil sebagian besar kisah ini. Sebuah sekolah swasta yang digambarkan dengan begitu mewah, bahkan terdapat ruangan khusus untuk masing-masing ekstrakulikuler. Tidak dijelaskan dengan detail dimana letak SMA ini, tapi menurutku masih berada di daerah Ibu kota.

Setting tempat yang digunakan berikutnya adalah Pulau Sepa. Pulau yang letaknya di sebelah utara Kepulauan Seribu ini digunakan ketika Ellio mengajak Flo dan teman yang lain untuk menikmati liburan bersama. Penjelasannya cukup detail hingga aku bisa membayangkan kondisi pulau tersebut meski aku belum pernah ke sana.

Mereka yang Memainkan Peran

Seperti yang tertera dalam blurb, karakter utama dalam novel ini adalah Flo dan Ellio. Florissa digambarkan sebagai remaja manis, polos, dan lugu. Hal yang menjadi ciri khas Flo adalah sebuah note dengan gambar lampu taman temaram yang seringkali ia genggam. Sementara Ellio atau yang kerap disapa Yoyo adalah cowok penggemar fotografi, pribadinya hangat dan perhatian.

Selain mereka berdua, karakter yang menarik perhatianku adalah kemunculan Egga, dia adalah bagian yang justru berusaha untuk dilupakan. Lalu ada Nana, cewek yang menjadi kekasih Ellio. Keberadaan teman-teman sekelas Flo juga semakin membuat kisah ini lebih hidup.

Sekelumit tentang memori Flo

Seolah-olah setiap orang harus kuat, nggak boleh mengenang kesedihan. Ini hati, Bang, bukan batu. Hal 255

Menjadi siswa baru di SMA Collase membuat Flo beberapa kali lupa letak kelasnya dan berakhir dengan ia yang tersesat. Bahkan flo sampai menggambar denah sekolahnya dan mencatat hal penting di dalam notenya. Flo juga kesulitan untuk mengingat nama-nama teman satu kelasnya, hingga ia harus membaca name tag orang yang berbicara dengannya terlebih dahulu. Mungkin itu masih terlihat wajar apabila terjadi di minggu pertama Flo bersekolah, namun apa jadinya jika kesulitan itu berlanjut ke minggu-minggu berikutnya?

Pertemuannya dengan Ellio menjadi kisah yang nantinya mungkin akan Flo sesali. Berawal dari ia yang tidak sengaja menabrak Ellio hingga menyebabkan kamera cowok tersebut rusak, dan berlanjut ketika Flo menyetujui menjadi model foto untuk kompetisi yang diadakan klub fotografi.

Semakin hari keduanya semakin dekat, apalagi mereka satu kelas. Kehidupan remaja Flo yang awalnya hampa kini lebih berwarna berkat kehadiran Ellio. Sayangnya, Ellio sudah memiliki Nana. Dan Flo, gadis polos yang tidak tahu apa-apa terkena imbasnya. Ellio pun harus menelan kenyataan pahit ketika perlahan Flo tidak mengingat namanya, wajahnya, dan semua kenangan tentang keduanya. Hingga pada akhirnya, Flo menghilang.

Novel ini tidak hanya menyajikan cerita remaja, kondisi keluarga Ellio yang tidak baik-baik saja turut membuat novel ini lebih menarik. Satu sisi, ada yang berusaha untuk menjaga kenangan, sedang di sisi lain justru mati-matian melupakan. Ada persahabatan yang kental di sini, rivalitas, impian, cita-cita dan sebuah keikhlasan untuk menerima takdir yang telah digariskan.

Suatu saat nanti, Ellio akan tahu bahwa ke depannya hanya kumpulan foto Flo yang dia punya, yang terus dia pandangi sampai air matanya mengering. Hal. 79

Plot dan Sudut Pandang

Diceritakan menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu membuatku berfikir lebih luas. Walau begitu, rasa yang disampaikan penulis tentang Flo benar-benar sampai. Aku bisa merasakan ketika Flo kesulitan mengingat jalan pulang, ketika Flo melupakan sesuatu yang bagi orang lain itu bukanlah hal yang penting untuk diingat, atau bahkan tanpa mengingatpun mereka sudah hafal. Alur yang dominan maju membuat cerita ini semakin mengalir dan enak untuk dinikmati.

Gaya Penulisan

Hening yang panjang seketika menyelimuti mereka. Udara seakan dirampas. Semua warna mengabur. Hangat berganti dingin. Ramai seolah direnggut, diganti dengan kehampaan. Hal. 223

Berbeda dengan novel Kak Lia sebelumnya yang terkesan dark, Bingkai Kenangan menyajikan sesuatu yang ‘dalam’ dengan bahasa santai khas sehari-hari. Ada beberapa bagian yang ditulis dengan diksi indah. Penyakit yang dideria Flo tidak dijelaskan secara detail, namun justru itulah yang membuatku lebih memahami kemelut hati Flo. Sedari awal, pembaca akan disuguhkan keanehan-keanehan Flo. Bagaimana ketika Flo melupakan hal-hal kecil, seolah ketika ia mengingat nama salah satu temannya adalah suatu hal yang luar biasa. Dan memang sesederhana itu untuk Flo.

Ada banyak hal yang bisa didapat setelah membaca novel ini, aku jadi bisa lebih menghargai setiap memori yang terukir. Kenangan-kenangan baik indah maupun buruk biarlah menjadi bagian dalam ingatan. Karena benar, itu akan terasa lebih berarti ketika kita tak memilikinya lagi.

Menariknya, seolah memang dihubungkan dengan kenangan yang harus disimpan, novel ini turut mengulas dunia fotografi. Bahkan di beberapa bagian dijelaskan secara detail tentang bagaimana mengambil gambar yang baik dan benar.

Hal yang paling aku suka dari novel ini adalah penyelesaian yang terkesan realistis. Aku cukup jarang menemukan penulis yang mengambil ending seperti ini. Tentang Egga, rivalitas antara Ellio dan Noah, kesetiakawanan teman-teman Flo, dan akhir dari hubungan Flo-Ellio-Nana. Bagaimanapun, semuanya butuh proses. Karena tak selamanya apa yang diharapkan bisa terwujud begitu saja.

Novel ini tidak sampai membuatku menangis tersedu-sedu, namun berhasil menyayat kalbuku. Coba saja kamu baca, lalu rasakan setiap kenangan yang berhasil kamu dapatkan.

Ada ego yang harus dituruti. Ada gengsi yang dijunjung tinggi. Sebab bagi beberapa orang, hanya dengan membuat orang lain tumbang, hati akan senang. Hal. 10

Rivalitas memang bukan hal baru lagi, bahkan di dunia pendidikan sekalipun. Melalui novel ini, pembaca akan belajar bagaimana bersaing secara sehat.

Jika keluarganya sendiri menolaknya, sudah tentu dunia dengan senang hati akan memperolok-oloknya. Jika keluarganya sendiri membencinya, sudah tentu dunia dengan bebas menyerangnya. Jika keluarganya sendiri menghapusnya, apa lagi yang tersisa? hal. 92

Karena bagaimanapun, seburuk apapun keluarga, mereka adalah tempat ternyaman untuk pulang.

Profil Penulis

Review Bingkai Kenangan : Yang Terlupakan Karya SepliaSeplia, perempuan yang lahir di Kota Padang pada 28 September 1991 ini memiliki hobi membaca, menonton film dan mendengarkan musik. Meski mengaku banyak makan, namun tubuhnya tetap kurus dan ia menganggap ini adalah anugerah. (Kita sama Kak, toss….)

Penulis telah menerbitkan beberapa karyanya, antara lain Replay (2015), Insecure (2016), dan Three Sisters (2017). Kalian bisa menyapa penulis lewat akun instagram dan twitter @liaseplia serta kunjungi juga blognya di liaseplia.blogspot.com

Karakter, Plot, Cerita

Hal yang paling aku suka dari novel ini adalah penyelesaian yang terkesan realistis. Aku cukup jarang menemukan penulis yang mengambil ending seperti ini. Tentang Egga, rivalitas antara Ellio dan Noah, kesetiakawanan teman-teman Flo, dan akhir dari hubungan Flo-Ellio-Nana. Bagaimanapun, semuanya butuh proses. Karena tak selamanya apa yang diharapkan bisa terwujud begitu saja. Novel ini tidak sampai membuatku menangis tersedu-sedu, namun berhasil menyayat kalbuku. Coba saja kamu baca, lalu rasakan setiap kenangan yang berhasil kamu dapatkan.

Tags
Show More

randombooks

Ani Widihastuti juga dikenal “randombooks_” . Kerap disapa Ani. Lahir di Kebumen, 22 September 1997. Saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta jurusan Manajemen.
Mempunyai hobi membaca, makan dan tidur. Sesekali menulis jika sedang dalam mood baik. Bisa disapa melalui akun facebook Ani Widihastuti, Instagram @randombooks_ sebagai akun bookstagram dan instagram pribadi @andisti_
Salam bahagia semua!

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close