Romance

Review Bhumi dan Bulan Karya Eriska Helmi : Sekelumit Kisah Bhumi Menggapai Bulan

Pengulas : Ani Widihastuti / @randombooks_

Review Bhumi dan Bulan Karya Eriska Helmi : Sekelumit Kisah Bhumi Menggapai Bulan – “Mau satu persen, seratus persen, nggak ada yang mau saya pertanggungjawabkan. Saya akan menikah sama Mas Arman. Bapak lancang masuk dalam hubungan kami.”

“Kamu boleh saja menikah dengan Arman. Tapi saya pastikan sebelum itu, kamu akan jatuh cinta dengan Bhumi.”

Keberanian itu terpancar begitu nyata dalam manik hitam milik Bhumi. Menyiratkan tekad yang tidak akan mudah goyah sekalipun Wulan menolak berulang kali. Dan keyakinan itu menyiutkan hatinya. Dia takut dengan apa yang terjadi ke depan. Dia takut dengan Bhumi Prakarsa Harjanto. Pria terkenal yang mati-matian dia benci lantaran sifatnya yang tidak pernah menghargai kaum wanita selain urusan kepuasan.

“Sepertinya satu persen saya sudah naik menjadi dua persen sekarang.” Kerlipan nakal Bhumi berikan sebagai bentuk euphoria atas fakta baru yang dia dapatkan. “Persiapkan untuk tiga persen hingga delapan puluh persen, Bulan.”

Dan kalimat itu semakin membuat Aisyah Kana Wulandari ketakutan.

Judul : Bhumi dan Bulan

Penulis : Eriska Helmi

Penerbit : Grass Media

ISBN : 978-602-51253-4-8

Tahun Terbit : 2018

Tebal : 381 halaman

Harga : Rp. 99.900.-

“Mereka berdua tidak akan pernah tahu. Bahwa ada seseorang yang ingin berlari jauh, sementara seorang yang lain berusaha ingin mendekat.”

Sebagai pembaca Wattpad, saya merasa kecolongan karena telat mengetahui novel ini. Saya baru mengetahui novel ini ketika sudah naik cetak sedangkan versi wattpadnya hanya tinggal beberapa. Kenapa saya merasakan demikian? Mari kita lihat sekelumit kisah Bhumi dan Bulan Karya Eriska Helmi berikut.

Setting Cerita

Penulis memilih tempat untuk mengisahkan perjalanan kehidupan Bhumi dan Bulan di kota Jakarta. Lebih spesifiknya berada di gedung Cakrabuana tempat stasiun TV Lima. Tidak dijelaskan secara tersurat dimana TV Lima berada. Namun itu tak menyulitkan saya untuk membayangkan stasiun TV tersebut.

Karakter

Sudah bisa menebak siapa karakter utama novel ini kan? Menilik dari judul serta blurb, maka sudah bisa dipastikan bahwa Bhumi dan Bulan adalah tokoh utama dalam kisah ini.

Bhumi Prakarsa Harjanto adalah seorang news anchor di stasiun TV Lima. Cerdas, perfeksionis, dan gila kerja. Sedangkan untuk urusan kehidupan pribadinya, Bhumi memiliki sifat berbeda 180o dari dunia kerjanya. Memiliki wajah tampan dan profesi mapan membuat Bhumi menjadi buruan perempuan. Jangan ragukan sepak terjangnya sebagai playboy, sudah banyak wanita yang hilir mudik siang-malam dalam kehidupan Bhumi. Ini dimanfaatkan Bhumi untuk memenuhi kepuasannya.

Lain dengan Bhumi, Aisyah Kana Wulandari adalah mahasiswi Teknik Sipil yang magang di stasiun TV Lima dan ditempatkan sebagai asisten Bhumi. Bulan – begitu ia dipanggil oleh Bhumi – merupakan perempuan muslimah dengan hijab yang menghiasi kepala. Sikapnya polos khas orang desa. Namun jangan ragukan ia ketika mendebat atasannya, ada saja kata yang bisa membuat Bhumi diam tak berkutik.

Ada satu lagi karakter yang bisa dibilang mencuri perhatian. Ia adalah Cia Holmes alias Om Pel yang merupakan manajer Bhumi. Sikapnya lemah gemulai dengan gaya bicara khas bahasa salon. Bisa dikatakan, Om Pel ini adalah scene stealer namun tidak membunuh karakter utama. Berkat Om Pel juga, humor novel ini lebih hidup.

Masih ada beberapa karakter dalam novel ini yang bisa kalian temukan ketika membacanya sendiri.

Baca Juga: Arterio by Sangaji Munkian

Cerita

Bhumi dan Bulan menceritakan tentang kehidupan seorang atasan dan bawahannya. Sikap Bulan yang selalu menolak pesona Bhumi menjadikan pria itu tertantang untuk mendapatkannya. Apalagi Bulan sering menyelipkan kutbah kehidupan dalam omongannya, dan itu membuat Bhumi merasa tersindir sekaligu tertampar. Perlahan tapi pasti, perasaan Bhumi berubah. Perhatian-perhatian kecil diberikan Bhumi untuk menarik Bulan mendekat. Namun sayangnya, Bulan bukanlah wanita yang gampang tergoda. Bagi Bulan, fisik bukanlah nomor satu. Tetapi tanggung jawab terhadap Tuhan dan keluarga yang paling utama. Mengingat sosok Bhumi yang amburadul, Bulan tentu selalu antipasti berada di dekatnya.

“It matters not how a man die, but how he lived.” Halaman 74

Bhumi perlahan mengubah hidupnya. Sudah tak terlihat wanita malam yang menemaninya. Ia juga sudah mulai menunaikan kewajibannya. Ketika ia yakin bahwa bisa menggapai Bulan, satu kenyataan membuatnya limbung. Kenyataan bahwa Bulan terang-terangan menolak. Alasannya jelas, bahwa ia sudah dilamar oleh Arman, pria yang Bulan cintai di kampungnya. Kasihan ya, Bhumi.

Akankah Bhumi menyerah dan merelakan Bulannya bersama pria lain? Atau justru Bulan yang akan melepas Arman demi bisa menerangi Bhumi?

Plot dan Sudut Pandang

Penulis menggunakan alur maju dan sudut pandang orang ketiga. Meski tema yang diangkat cukup mainstream, namun penulis bisa mengakalinya dan membuat novel ini cukup bisa dibedakan dengan tema serupa. Harapan saya, penulis bisa lebih menggali lebih dalam tentang dunia pertelevisian agar bisa menambah pengetahuan pembaca.

Konfliknya cukup berat, tentang pergolakan batin dari masing-masing tokoh. Satu yang membuat saya kagum adalah, penulis mengangkat unsur religi dengan balutan bahasa renyah dan ringan tanpa terkesan menggurui.

Untuk ukuran novel debut, penulis berhasil mengeksekusinya dengan baik. Awalnya saya agak terganggu dengan bahasa salon yang cukup banyak digunakan. Namun setelah lembar demi lembar membaca, saya justru menikmati cara komunikasi seperti ini. Cocok untuk sejenak melupakan tekanan kehidupan nyata. Sayangnya, masih ada beberapa human error disini, tetapi itu masih bisa diperbaiki ketika novel ini cetak ulang. Tidak begitu mengganggu sebab alur novel ini akan menghibur dan mengocok perutmu.

Baca Juga: Jarrvis Chavali Karya Ainun Nufus

Pesan Moral

Moral yang ingin ditekankan penulis dalam novel ini adalah memanfaatkan kesempatan, sekecil apapun itu. Buatlah peluang yang hanya 1% naik menjadi 2% dan seterusnya. Percayalah bahwa hasil tidak akan menghianati usaha.

“Kurang dari satu persen masih bisa diperjuangkan, Pak. Minta sama Tuhan, pasti bisa. Jangan putus doa. Dari satu bisa jadi seratus. Percuma dong, Bapak udah berubah demi dia. Bapak nggak usah repot-repot deh, tinggal rayu saja Yang Maha Kuasa. Pasti dikasih kalau Bapak sungguh-sungguh.” Halaman 179

Dialog tersebut diucapkan Bulan ketika Bhumi mencurahkan perasaannya. Tanpa Bulan tahu bahwa perasaan itu ditujukan padanya. Dan berkat kata-kata itulah, Bhumi terpacu untuk berubah dan menggapai sang Bulan. Di sini bisa kita ambil pelajarannya, bahwa ketika kita mencintai sepenuh hati, kita harus berusaha untuk mendapatkannya. Termasuk merubah diri. Selagi untuk memperbaiki diri, kenapa tidak? Ingat, dekati pencipta-Nya, baru makhluk-Nya. Salam pejuang pencari jodoh. Hehe

Baca Juga: SIN Karya Faradita

Profil Penulis Eriska Helmi

Review Bhumi dan Bulan Karya Eriska Helmi Eriska Helmi merupakan seorang Guru Bahasa Indonesia di Dinas Pemkab Ogan Hilir. Telah memiliki tiga buah hati tak menghalangi beliau untuk terus melahirkan karya. Beberapa kisah telah dilurcurkan di wattpad, yuk kepoin karya beliau di akun @mommiexyz. Nama akunnya unik yah, itu diambil dari inisial nama masing-masing anaknya, X,Y dan Z.

Tipe emak-emak gaul yang suka mantengin akun gossip jaman now untuk bahan menulis di wattpad. Mengaku pecinta pempek dan suka mewek ketika nonton tayangan Termehek-mehek. Yuk sapa langsung Mba Eriska di Ig @eriskahelmi. Nantikan karya terbaru beliau “Gagal Move On” masih dari penerbit yang sama. See you…

Karakter, Plot dan Cerita

Untuk ukuran novel debut, penulis berhasil mengeksekusinya dengan baik. Awalnya saya agak terganggu dengan bahasa salon yang cukup banyak digunakan. Namun setelah lembar demi lembar membaca, saya justru menikmati cara komunikasi seperti ini. Cocok untuk sejenak melupakan tekanan kehidupan nyata. Sayangnya, masih ada beberapa human error disini, tetapi itu masih bisa diperbaiki ketika novel ini cetak ulang. Tidak begitu mengganggu sebab alur novel ini akan menghibur dan mengocok perutmu.

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan senang jika Anda berkunjung ke toko buku kami. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close