Non Fiksi

Review Groningen Mom’s Journal Karya Monika Oktora

Jejak Mimpi Keluarga Kecil Di Ujung Utara Belanda

Review Groningen Mom’s Journal Karya Monika Oktora – Jejak Mimpi Keluarga Kecil Di Ujung Utara Belanda. Setelah menikah, tak lantas impian pribadi pupus. Memiliki suami dan anak sesungguhnya menambahkan satu lagi energi dan dukungan dalam hidup. Dukungan tersebutlah yang menguatkan langkah Monika untuk melanjutkan studi Master ke Benua Eropa. Keluarga kecilnya pun ikut diboyong untuk mengarungi petualangan empat musim di benua tersebut.

Monika membagi pengalaman hidup barunya di belahan dunia yang jauh dari Indonesia dalam catatan yang merangkum pengembangan dirinya. Catatan harian ini juga membedah dari mulai kehidupan komunitas Indonesia di Groningen, strategi bertahan hidup di Belanda, strategi menempuh pendidikan di Belanda, parenting dan juga kuliner. Sebuah panduan lengkap bagi Anda yang ingin mengenal Groningen.

Judul : Groningen Mom’s Journal

Penulis : Monika Oktora

Penerbit : PT Elex Media Komputindo

Genre : Self Improvement

Tahun : 2017

ISBN : 978-602-04-5180-0

Harga : Rp.64.800;

“Dear Monika Pury Oktora,

After reviewing your application, the Admissions Board has decided that given your educational background you are unconditionally admitted to the 2014/2015 academic year of the Master of Science (MSc) programme in Medical Pharmaceutical Sciences.

Congratulation!

Halaman – 11

Adakah yang merinding membaca kutipan itu? Adakah yang merasa surat yang berisi keputusan itu sulit untuk diterima? Adakah yang merasa kecewa karena gagal berkali-kali untuk mendaftar beasiswa ke luar negeri? Adakah yang merasa putus asa dengan sekolah, kuliah, karir dan pekerjaan?

Peringatan!

Jurnal ini untuk Anda yang merasa gelisah karena bosan dengan pekerjaan.

Jurnal ini untuk Anda yang sedang menantikan sebuah pengumuman di terima kerja.

Jurnal ini untuk Anda yang merasa semua langkah untuk menggapai cita-cita terasa gagal.

Dan peringatan keras, untuk semua ibu-ibu yang merasa galau karena harus keluar kerja demi anak, harus meninggalkan karir demi menikah, harus menunda kuliah karena orang tua sakit dan semua wanita yang merasa hidupnya sempit hanya karena menjadi wanita.

Mbak Monika Oktora telah membuat semua pembaca  jurnal ini membuncah, ikut girang, ikut sedih, ikut cemas dan pada akhirnya ikut gembira. Ada banyak wanita diluar sana yang merasa tidak bisa mengejar “sesuatu” karena menjalani perannya sebagai wanita, sebagai ibu dan sebagai istri. Tapi secercah harapan dalam buku ini akan memecut semangat siapa saja yang membacanya.

Buku yang diawali dengan ucapan syukur dan diakhiri dengan informasi jelas dari mbak Monika sebagai penulis ini benar-benar luar biasa. Mengapa jurnal ini bukan sekedar jurnal biasa. Saya akan mengeluarkan apa yang saya rasakan setelah membaca buku setebal 246 halaman ini.

Diawali dengan “Jalan Menuju Groningen Oktober –  Desember 2013” saya bisa membaca dengan jelas bahwa bagi seorang ibu rumah tangga yang awalnya berkarir lalu keluar demi anak, lalu membuat keputusan untuk mencari beasiswa S2 adalah hal yang cukup sulit. Jelas bagi saya sendiri pun itu seperti keputusan mencabut takdir. Diluar zona nyaman sebagai ibu rumah tangga yang tidak perlu susah payah berpikir dan cukup mengasuh anak, meneruskan pendidikan adalah hal yang sangat utama. Dan pastinya semua wanita akan berpikir, “apakah aku harus bekerja setelah selesai S2?, mau jadi apa aku”.

Ditambah lagi bumbu-bumbu dari lingkungan sekitar. Pola pikir kita masih banyak yang melihat bahwa wanita bekerja, menikah, lalu keluar kerja dan mengurus rumah tangga adalah hal yang menjadi takdirnya. Semua pemikiran ini akan dirubah hampir 360 derajat hanya dengan membaca jurnal ini.

Tapi jika Anda tidak setuju, jangan dulu memberi penilaian yang buruk.

Ada begitu banyak hal positif dari jurnal ini yang justru mengajari kita untuk berpikiran terbuka, bahwa wanita bisa mengejar mimpi meskipun sudah menikah.

Jurnal yang terdiri dari 5 bagian cerita ini membuat kita belajar dari banyak peristiwa.

Mulai dari kisah mbak Monika yang mencari beasiswa sampai mendapatkan beasiswa bahkan sampai berangkat ke Groningen bersama putrinya, Runa dan suami tercinta. Di balik lancarnya tahap itu ternyata tidak semudah yang kita pikirkan. Ada masalah ketika harus mencari dana untuk membayar biaya kuliah, ada pertanyaan yang membuat isak tangis mbak Monika pecah di dewan penguji beasiswa, ada masalah visa suami dan anak yang kemungkinan tidak diluluskan oleh pemerintah Belanda, bahkan keputusan sulit ketika suami mbak Monika harus meninggalkan karir yang mapan demi mengikuti mbak Monika ke Belanda.

Lalu saat sudah sampai di Belanda pun, juga tidak semua berjalan lancar. Ada masalah bahasa dan cuaca Belanda yang cukup menusuk tulang. Ada saatnya perbedaan budaya Indonesia dan Belanda yang sangat besar namun mau atau tidak mau harus dihadapi.

Saya tidak akan membocorkan terlalu banyak isi dari jurnal ini, ya supaya teman-teman bisa membaca sendiri.

Tapi yang jelas jurnal ini memberikan gambaran yang sebenarnya ketika kita ingin masuk ke tahap yang lebih lanjut dalam hidup. Baik itu untuk mencari beasiswa, untuk mencari sekolah, untuk bekerja dan mencapai karir. Selalu ada hal-hal positif yang dikatakan mbak Monika dari peristiwa – peristiwa yang terjadi.

Jurnal ini juga nyaman dibaca karena kata-kata mbak Monika yang lembut, mudah dicerna dan tidak ada bagian yang menggurui pembaca. Jadi seolah-olah kita membaca buku harian terbuka dari mbak Monika. Dan bagi yang sedang mencari beasiswa, mbak Monika juga membagi tips-tipsnya. Intinya di setiap judul pada bagian akhirnya dilengkapi dengan tips untuk mengatasi masalah yang terjadi.

Nilai plusnya, buku ini sangat layak untuk dibaca jika Anda ingin mencoba berjuang mendapatkan beasiswa atau ada pandangan mencari beasiswa ke Belanda.

Beberapa dari mereka cukup heran juga ketika tahu saya berstatus menikah dan memiliki anak perempuan yang berusia dua tahun (saat saya mulai kuliah, Runa berumur 1,5 tahun). Mungkin bukan sesuatu yang biasa untuk mereka sekolah sambil mengurus anak. Untuk saya, ini merupakan hal yang baru sama sekali. Kebanyakan dari teman-teman saya yang lanjut master di jurusan ini masih fresh graduated dari studi S1-nya, ada juga yang sudah selesai masternya di bidang lain dan lanjut di bidang ini, ada juga yang hanya mengambil short course saja dari program pertukaran pelajar. Halaman 212.

Selain menemukan banyak sekali kelebihan jurnal ini, sebagai pembaca saya juga menemukan kelemahan.

Kelemahan dari cerita

Saya kurang puas dengan kurangnya aktifitas kuliah yang diceritakan mbak Monika, mungkin ini juga lebih ke keluarga ya. Walau ada bagian saat kuliah dan mengerjakan tugas yang diceritakan tapi tetap masih kurang.

Kelemahan dari fisik buku

Jujur ada beberapa hal yang disayangkan dari cetakan buku ini, seperti:

  • Warna kertas yang cenderung buram, kurang putih, jarak tulisan yang terlalu dekat dan ukuran huruf yang terasa padat. Daripada begini kok saya berpikir lebih bagus kalau desain bukunya dibuat benar-benar seperti jurnal.
  • Foto yang digunakan untuk isi jurnalnya dicetak hitam putih. Duh, ini benar loh disayangkan. Padahal lebih bagus kalau fotonya dicetak warna.
  • Tidak ada pembatas buku. Ya, memang untuk harga buku ini tergolong tidak terlalu mahal, tapi lebih baik kalau harga naik sedikit tapi ada bonus pembatas buku.

Soal kekurangan fisik dari buku ini tentunya sudah dipertimbangkan dari penerbit termasuk mengingat biaya produksi. Jadi sebenarnya ya tidak masalah, toh pembaca lebih fokus melihat isinya. Hanya saja lebih cantik kalau bukunya dibuat dalam bentuk jurnal seperti judulnya : Groningen Mom’s Journal Karya Monika Oktora – Jejak Mimpi Keluarga Kecil Di Ujung Utara Belanda.

Review Groningen Mom’s Journal Karya Monika Oktora
Foto yang lebih bagus kalau di cetak warna

Oh ya, sebenarnya ada buku sejenis yang menceritakan pengalaman hidup di negeri asing. Saya membuatnya di judul Surat untuk “Out Of The Truck Box Karya Iqbal Aji Daryono”.

Untuk rekomendasi yang mengangkat isu-isu tentang peran wanita ada di judul:

Review The Dragon Queen By William Andrews

Review What Comes With The Dust Karya Gharbi M. Mustafa

Kisah Mileva Maric` Dalam The Other Einstein Karya Marie Benedict

Profil Penulis Monika Oktora

Review Groningen Mom’s Journal Karya Monika Oktora Monika Oktora, lahir di Padang, 17 Oktober 1987. Masa kecilnya dihabiskan di Bandung. Masa pendidikan sejak TK sampai kuliah ia jalani di kota kembang tersebut. Ia menyelesaikan studi sarjananya di Institut Teknologi Bandung, jurusan Farmasi Klinik dan Komunitas, yang dilanjutkan dengan Pendidikan Profesi Apoteker di tempat yang sama. Selepas lulus kuliah, Monik sempat  bekerja di Jakarta sebelum melahirkan anak pertama dan memutuskan menjadi ibu rumah tangga. Di tahun 2014, ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi master di Universitas of Groningen, Belanda, jurusan Medical Pharmaceutical Sciences. Ia merantau ke negeri kincir angin bersama suami dan puterinya. Saat ini Monik dan keluarga masih berdomisili di Groningen, untuk kembali melanjutkan studi ke jenjang doktoral.

Sejak kecil, Monik sudah senang menulis dan membaca semua buku. Ia sering mengisi artikel untuk majalah sekolah sampai buletin kampus. Beberapa buku antologinya yang sudah pernah terbit antara lain: Dear Mama #4 (NulisBuku, 2013), Inspiring Teacher (Biovison Writing Competition – NulisBuku 2013), Kampung Bocah, Kumpulan Kisah dan Hikmah (2012), 30 Days on Fire (Raditeens, 2017). Hobinya menulis dituangkan dalam blog pribadinya di monikaoktora.com. Monik dapat dihubungi melalui email oktora.monika@gmail.com atau media sosialnya di Instagram @monikaoktora. (Profil penulis ini diambil dari halaman terakhir buku.

Cerita, Bahasa, Konsep

Mbak Monika Oktora telah membuat semua pembaca  jurnal ini membuncah, ikut girang, ikut sedih, ikut cemas dan pada akhirnya ikut gembira. Ada banyak wanita diluar sana yang merasa tidak bisa mengejar “sesuatu” karena menjalani perannya sebagai wanita, sebagai ibu dan sebagai istri. Tapi secercah harapan dalam buku ini akan memecut semangat siapa saja yang membacanya.

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan senang jika Anda berkunjung ke toko buku kami. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close