Klasik

Review The Tea Lords Karya Hella S. Haasse : Novel Fiksi Sejarah Tapi Bukan Fiksi

Novel Fiksi Sejarah yang Tapi Bukan Fiksi

Review The Tea Lords Karya Hella S. Haasse : Novel Fiksi Sejarah Tapi Bukan Fiksi – Melalui novel karya Hella S.Haasse saya ingin mengajak kita semua untuk mengingat kembali ketika Jakarta masih bernama Hindia Belanda. Ya, saat itu memang periode yang sangat menyakitkan untuk diingat kembali. Begitu juga ketika membaca novel ini, saya pun merasa seperti menjadi rakyat Indonesia yang menjadi pembantu Belanda. Tapi karena banyak sekali yang mendebatkan cerita dalam novel ini, akhirnya saya tergerak juga untuk membacanya.

Review Buku


Pertama Haasse menceritakan novel ini dengan bahasa yang jelas. Dan terkadang di beberapa bagian menjadi terlalu detail tapi tidak membosankan.

1 Januari 1873

Cerita diawali dari mulai 1 Januari 1873 dengan setting cerita di Gamboeng. Rudolf Kerkhoven sudah menetapkan hatinya untuk merubah sebuah tanah basah dan lembab di Gamboeng menjadi perkebunan kopi. Ia melakukan itu untuk melampiaskan perasaanya, mengapa ayahnya selalu membela saudaranya. Sementara Ia dianggap sebagai anak sulung yang berpendidikan tinggi tapi tidak bisa diandalkan. Sejak awal ini saya sudah terkejut dengan penggunaan beberapa bahasa Jawa, seperti mangke.  Namun rasa terkejut saya berubah menjadi menderita karena tokoh asli penduduk Jawa di memiliki peran sebagai pembantu. Pembantu yang hormat pada majikan yaitu Rudolf Kerkhoven yang disebut dengan kata “Djoeragan”. Meskipun saya tahu juga ini adalah fiksi sejarah, tapi membayangkan betapa hormatnya penduduk saat itu dengan bangsa Belanda memang sangat menyedihkan. Terlebih karya The Tea Lord sudah dibaca ribuan penikmat buku di Belanda sejak tahun 1992. Dan kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 2010.

Tahun 1869 – 1873

Meskipun hati saya sakit dan menderita, tapi saya tidak bisa meninggalkan buku ini. Bagian kedua buku ini di mulai pada tahun 1969 – 1873. Setting cerita kembali ke Belanda, ketika Rudolf menjadi seorang pelajar di Deflt. Saat itu penulis kembali menceritakan kemajuan Belanda saat itu. Benar-benar membuat iri. Kehidupan masyarakat Belanda sangat maju dan kehidupan Rudolf yang sempurna karena kaya dan mapan. Rudolf mengikuti keinginan orang tuanya untuk belajar dengan keras, dan mereka menjanjikan sebuah posisi di perkebunan teh keluarga itu. Tentu saja itu perkebunan teh yang disewa (hmm, saya tidak yakin saat itu di sewa atau kita yang dijajah) oleh orang tuanya. Sementara Rudolf muda adalah orang yang penuh dengan ambisi dan ingin terlihat kuat. Ia juga memiliki pemikiran yang benar-benar maju. Ketika Rudolf kembali ke Hindia Belanda, Ia mengharapkan sebuah posisi pekerjaan yang baik. Tapi itu semua tidak menjadi kenyataan. Sampai awal tahun 1873, Ia hanya menjadi pegawai ayahnya yang tidak memiliki masa depan. Tentu inilah yang mendorong Rudolf untuk membuka Gamboeng menjadi pusat perkebunan kopi, teh dan tanaman kina.

Tahun 1873 – 1876

Inilah masa-masa ketika Rudolf memperlihatkan pikirannya yang keras. Ia mencari investor yang mendukung usahanya untuk merubah sebuah perkebunan di Gambeong. Tahun ini dikatakan dalam judul sebagai masa untuk pembersihan lahan dan penanaman. Rudolf memperkerjakan mandor atau pengawas yang ditulis dengan kata “mandoer”.  Banyaknya pertentangan sama sekali tidak menyurutkan langkah Rudolf.

Tahun 1876 – 1907

Perjuangan Rudolf untuk membuka perkebunan itu memang berhasil, meskipun selalu ada beberapa hal yang gagal. Pernikahannya dengan Jenny awalnya juga dikisahkan sangat romantis.  Tidak ada masalah, tapi setelah kelahiran dua anaknya, Jenny mulai merasa tidak nyaman. Tinggal di sebuah perkebunan yang lembab bukanlah gaya hidupnya yang sebenarnya. Pernikahan itu dikenang sebagai kehidupan yang semakin hancur tapi tidak pernah terpusu.

Pada tahun-tahun ini kita juga akan melihat beberapa fakta yang tidak ditutupi oleh penulis. Misalnya masalah penduduk asli Indonesia yang mengalami ekploitasi tenaga, dengan upah yang sangat murah, kerja keras yang tidak ada habisnya dan kehidupan pekerjaan yang sangat keras. Bahwa pada masa itu juga Belanda mengatakan ingin membangun pulau Jawa agar bisa membuat Indonesia menjadi negara maju seperti negara lain. Pada masa ini juga sangat jelas kehidupan kolonial yang sangat berbeda dengan penduduk asli Indonesia  – jujur sangat menyakitkan )

1 Februari 1918

Perkebunan Gamboeng sudah maju pesat. Rudolf mengingatnya ketika kedua kakinya baru menapak tanah basah dan lembab. Tapi beberapa tahun ini Rudolf lebih sering tinggal di Bandoeng dengan anak perempuannya, Bertha. Rudolf menikmati kehidupan di rumah itu yang di belinya sejak tahun 1907. Tapi sekarang Ia tidak bisa berjalan karena bagian bawah tubuhnya yang terus membengkak, meskipun tidak sakit (atau belum).

Keberanian Cara Menulis Hella S. Haasse


Meskipun sebagai orang Indonesia yang membaca fiksi sejarah yang terjadi di negara sendiri, tentu ada beberapa fakta yang sangat menyakitkan. Secera menyeluruh kisah ini menggambarkan kehidupan keluarga koloni yang sangat berbeda jauh dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang hanya bekerja sebagai buruh kasar.

Tapi jika dilihat lagi Haasse sudah bisa menuliskan dengan sangat lengkap tentang perkembangan enonomi, sosial dan politik saat itu. Kehidupan Rudolf sendiri digambarkan dengan keluarga Belanda yang kaya tapi diliputi dengan kecemburuan, iri, taktik, salah paham, rasa benci, kecemasan ekonomi dan kematian.

Haasse juga menggambarkan setiap cerita dengan jelas dan detail. Perpaduan tokoh-tokoh dengan gaya dan narasi yang sangat unik. Meskipun detail tapi tetap layak untuk dinikmati. Nah sekarang kembali kepada Anda, apakah mau membaca fiksi sejarah dengan latar belakang Hindia Belanda ini. Saya tidak menyesalinya, karena di beberapa bagian ini sangat penting untuk mengetahui apa yang terjadi dengan sejarah negara kita.

Pesan Penulis


Pada beberapa bagian, jurnal yang digunakan sebagai sumber tulisan oleh Haasse terlihat sangat nyata. Dan ini ternyata benar terjadi. Semua itu juga didukung oleh ucapan terima kasih penulis pada bagian belakang, seperti kutipan ini.

The Tea Lord is a novel, but it is not ‘fiction’. The interpretation of personalities and events is based on private correspondence and other documents kindly placed at my disposal by The Indies Tea and Family Archive, a foundation established by descendants and kindred of the characters in my book. I am especially grateful to Dr. K. A. van der Hucht for this stimulating interest and willingness to provide me with additional material in the course of my writing.

Many thanks are also due to J.Ph. Roosegaarde Bisschop, for the use of his family archives.

The material is therefore not invented; rather, it has been chosen and arranged to meet the demands of a novel. This means that all manner of factual details pertaining to a properly historical account have been omitted, and that the emphasis is on the lives of a select group of individuals. (H.S.H)

Mengenal Hella S. Haasse


Review The Tea Lords Karya Hella S. Haasse Hella S. Haasse was born in 1918 in Batavia (Jakarta) and died September 29, 2011 in Amsterdam, Netherlands. She moved to the Netherlands as a young woman. She started publishing her fiction in 1945 and many of her books have gained classic status in the Netherlands. Haasse has received several prestigious literary awards, among them the Dutch Literature Prize in 2004, and her work has been translated into many languages. The Tea Lord is her first work to be translated into English for 15 years.

 

 

*Pesan: Saya membaca karya ini yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, bagi siapapun yang berminat membaca buku ini, saya bisa mengirimkannya kepada Anda. 

Terima kasih sudah membaca review ini, silahkan meninggalkan komentar pada kolom komentar dibawah


Review The Tea Lords Karya Hella S. Haasse
Glossary bahasa Indonesia dan Jawa yang digunakan dalam cerita
Review The Tea Lords Karya Hella S. Haasse
Peta Preanger Tahun 1921
Karakter
Plot
Setting

Novel ini diceritakan dengan cara yang sangat terbuka. Pada beberapa bagian kita akan menemukan kenyataan bahwa saat itu penduduk Indonesia menjadi pelayan dan si tokoh adalah tuan besar dari Belanda. Ini adalah salah satu bagian kenyataan dan sejarah yang tidak bisa dihindari, tapi ini mengingatkan kita beberapa peninggalan bangsa penjajah yang masih bermanfaat untuk negara kita.

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan senang jika Anda berkunjung ke toko buku kami. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close