Klasik

Belajar Kehidupan Manusia Dari Nh. Dini Dalam Novel Gunung Ungaran

Lerep di Lerengnya, Banyumanik di Kakinya – Seri Kenangan

Belajar Kehidupan Manusia Dari Nh. Dini Dalam Novel Gunung Ungaran  – Diawali dengan banyak kesulitan demi keinginan hidup nyaman, akhirnya Dini berhasil “mapan” di Lerep, di lereng Gunung Ungaran. Berbagai kegiatan dihayati sambil tetap menulis dan bertahan sebagai seniman dan Lansia mandiri. Dini tak hentinya bersyukur karena masih di”butuh”kan oleh banyak pihak, lebih-lebih di bidang pendidikan. Ketika istilah ceramah berganti menjadi kuliah umum, Dini tetap melaksanakan perjalanan keluar kota, bahkan ke luar negeri. Pada kesempatan itulah dia membagi pengalamannya, menggelar proses kreatifnya di bidang penulisan.

Seiring dengan meningkatkan jumlah penduduk, Lerep yang semula diharapkan menjadi tempat tinggal hingga akhir hidupnya, ternyata ikut dijarah oleh kepadatan manusia: lingkungan menjadi bising, kekurangan air, dan ketidaknyamanan. Dini “harus” pindah lagi ke tempat lain yang sekiranya lebih nyaman. Untuk kesekian kalinya, Dini bersyukur karena Tuhan memberikan petunjuk ke mana arah yang akan dituju: secara kebetulan, dia “menemukan” Wisma lain yang dikelola secara profesional.

Sejalan dengan kondisi penuaan yang tidak bisa dihindari mahluk di bumi ini, Dini terus mengarungi kehidupannya sambil berkarya.

Judul : Gunung Ungaran

Penulis : Nh. Dini

Genre : Novel/ Sastra

Penerbit : Media Presindo

Tahun : 2018

ISBN : 978-602-5752-00-1

Harga : Rp. 85.000,- (Pulau Jawa)

Berkat prakarsa Gubernur Jawa Tengah, Bapak Mardianto bersama Ibu Efie yang dermawan, Dini kembali ke kawasan Semarang. “Monggo kundur dhateng Jawi Tengah!” (Silahkan pulang ke Jawa Tengah!), ajak Pejabat itu didampingi istrinya; kedua-nya adalah pecinta kebudayaan, peduli pada nasib seniman secara menyeluruh. Dan tentu saja mereka adalah penggemar bacaan bermutu.

Di atas sebidang tanah milik Ibu Efie, dibangun sebuah rumah mungil, dilengkapi 1 kamar tidur. Itu diberi nama Wisma Nh Dini (WND) – halaman  – v -.

Gunung Ungaran diterbitkan saat usia sastrawan Nh. Dini sudah 82 tahun. Sungguh bagi saya, Beliau adalah sastrawan yang menginspirasi untuk tetap aktif dalam berbagai keadaan. Gunung Ungaran juga menjadi salah satu seri kenangan yang membuat hati saya selalu tersentak, ketika membayangkan, “bagaimana seorang penulis bisa hidup dengan baik saat tua nanti?” Definisi “baik” mungkin tidak cukup untuk menyebutkan cara sastrawan menikmati hari tua di Indonesia.

Saya tidak akan muluk-muluk membandingkan dengan bagaimana cara penulis-penulis di negara luar sana bisa menikmati hasil jerih payahnya dengan bahagia dan tidak kekurangan. Terutama ketika royalti dan penjualan buku memang berjalan lebih baik dibandingkan negara ini. Tapi kita tidak perlu bersedih, sebab dengan membaca novel Gunung Ungaran, akan membuat kita terus berkaca. Kita akan tahu bagaimana memantaskan diri untuk hidup sebagai seorang manusia yang bijak.

Bagi saya membaca Gunung Ungaran seperti mendapatkan dongeng dari seorang nenek yang penuh kasih sayang pada cucunya. Setelah menyelesaikan buku ini, saya menyerap ada begitu banyak nasehat yang telah dirangkai oleh Nh. Dini, tanpa membuat pembacanya terluka. Baiklah, tanpa banyak basa basi, saya akan mencoba memaparkan bagian-bagian yang membuat kita belajar kehidupan manusia dari Nh. Dini  Dalam Novel Gunung Ungaran.

Betapa Rapuhnya Kehidupan Manusia

Pada bagian pendahuluan Nh. Dini memaparkan apa yang terjadi setelah bencana gempa bumi dahsyat yang terjadi di Yogya pada tahun 2006. Cerita Nh Dini tentang kakak Bu Yem yang mengorbankan dana hajinya untuk membangun kembali rumah yang sudah porak poranda setelah gempa. Apa yang terjadi memang tidak sesuai harapan, sebab rumah yang baru akan dibangun itu kembali terkena gempa. Dan yang lebih buruk lagi, kakak Bu Yem meninggal akibat tertimpa reruntuhan.

Juga seorang dosen UGM yang sedang melanjutkan kuliah di Bandung untuk mengejar gelar yang lebih tinggi. Saat itu libur panjang dan sang dosen ini pulang untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya. Setelah memastikan semua keluarganya keluar dari gang sempit menuju keluar rumah, sayangnya sang dosen meninggal karena tertimpa reruntuhan dinding saat gempa.

Apa yang bisa kita petik dalam dua kejadian ini. Nh. Dini menuliskan:

Tuhan sungguh Maha Kuasa, bisa memindahkan ke alam baka siapa pun, kapan pun, dengan cara apa pun yang Dia kehendaki…, halaman 9.

Manusia, Ujian dan Keikhlasan

Kepindahan Nh. Dini ke Lerep diharapkan bisa menjadi tempat untuk menghabiskan masa tua dengan nyaman. Namun apa yang diharapkan memang tidak seperti apa yang terjadi. Setelah Nh Dini pindah ada banyak hal yang terjadi dengan rumah itu, terutama hal-hal yang kurang menyenangkan. Kamar mandi yang menggenang dan dipenuhi dengan cacing, udara di Ungaran yang sangat panas sehingga beberapa bagian rumah harus ditutup dan disiasati agar nyaman, tanah teras yang becek saat hujan dan masalah lain. Beruntung adik sambungnya yaitu bapak Bondan Winarno yang menyempatkan mengunjungi Nh. Dini di wisma itu, meninggalkan sebuah amplop berisi uang yang bisa membantu membenahi bagian rumah yang kurang nyaman itu.

Tapi ujian tidak selesai begitu saja. Semua diawali dari mimpi tentang adik sambungnya yang lain, Johanna. Nh. Dini mendapatkan firasat yang tidak enak di hatinya. Benar ternyata saat itu Johanna sedang di rawat di sebuah rumah sakit di Singapura. Sebelumnya Johanna masih mengirimkan hadiah berupa uang Rp.500.000 sebagai hadiah ulang tahun Nh. Dini di bulan Februari. Kemudian pada awal bulan Maret, Nh. Dini menerima surat dari sekretaris Johanna. Surat itu menjelaskan bahwa Johanna meninggalkan surat di samping meja samping tempat tidurnya, untuk mengirimkan uang sebesar Rp. 5.000.000 kepada Nh. Dini.

Sungguh saat itu saya, sebagai pembaca juga merasa hancur dan sedih. Kebaikan adiknya tidak bisa dilihat tapi masih sangat terasa. Dalam bagian itu, Nh. Dini memaparkan sebuah nasehat yang diberikan oleh ibunya:

Dilakoni wae, Nduk! Lakonana kanthi ikhlas; yen koe rila, kuwi ora ilang! Gusti Allah ora sare, mesti bakal maringi  nugroho…! halaman 47

*Dijalani saja, Nak! Disandang dengan rela; karena jika kamu ikhlas, itu tidak sia-sia. Yang Maha Kuasa tahu, pasti Dia akan melimpahkan karuniaNya…

Kemandirian dan Menghargai Tubuh

Pada tahun 2007, Nh. Dini mendapatkan undangan untuk menghadiri Pertemuan 100 Pengarang Asia-Afrika yang diadakan di Jeonju, Korea Selatan. Saat itu Nh. Dini direncanakan akan datang bersama sastrawan Rendra, namun karena anak Rendra sakit, maka hanya Nh. Dini yang berangkat. Semua itu diceritakan mulai dari ular yang masuk ke wismanya, seperti pertanda untuk menghalangi pergi. Akhirnya beliau tetap pergi ke Korea Selatan.

Sesampainya di Korea, berbagai acara pertemuan penulis harus diikuti. Sungguh, bagi saya beliau adalah perempuan yang sangat mandiri. Pada pertemuan dengan penulis lain ada satu bagian yang mengusik batin. Diceritakan bagaimana penyair asal Malaysia, Saman Said, menerima gelar datuk karena perannya untuk sastra di negaranya. Juga tunjangan setiap bulan dari pemerintah sebagai wujud penghargaan dan jaminan hidup. Saat itu juga saya merasa sangat miris dengan nasib sastrawan di negara kita ini. Semoga suatu saat pemerintah memang menghargai upaya semua sastrawan. Semoga…

Setelah sampai di Indonesia dari acara tersebut, Nh. Dini merasakan tubuhnya lebih sehat. Ia tidak melakukan rawatan tusuk jarum di tempat Pak Tjiong. Tapi tidak lama setelah itu beliau merasakan tanda vertigo yang parah. Akhirnya beliau kembali menjalani rawatan tusuk jarum. Nh. Dini memberi pelajaran bahwa niat untuk menghemat uang dan tenaga akhirnya harus ditebus selama satu tahun. Sebab setelah itu Ia harus tetap melakukan rawat jarum sampai gejala vertigo itu mereda.

Apa yang bisa kita petik adalah bahwa manusia harus menghargai kemandirian dan tubuh sendiri. Tidak ada orang lain yang lebih mengerti tubuh kita dibandingkan kita sendiri. Karena itu merawat kesehatan, makan teratur, istirahat teratur adalah kunci utama untuk tubuh.

Nah, itulah beberapa nasehat yang bisa kita cuplik dari novel Gunung Ungaran. Sebenarnya masih banyak nasehat yang lain. Tapi saya ingin mengajak teman-teman untuk membacanya sendiri. Dengan memahami sendiri maka in shaa allah teman-teman mendapatkan manfaat yang lebih banyak. Dan tentunya dengan membeli novel ini maka paling tidak kita sedikit berperan untuk sastrawan Nh. Dini

Dalam hati saya sampaikan, terima kasih untuk Ibu, Eyang, Wanita hebat Nh. Dini. Terima kasih karena sudah menuliskan seri kenangan ini dengan indah. Terima kasih karena sudah memberikan wejangan dalam bentuk tulisan yang tidak membosankan, yang bisa menyentuh perasaan sampai dalam dan yang membangkitkan semangat kami ketika masih muda agar bertahan seperti Anda.

Profil Penulis Nh. Dini

Novel Gunung Ungaran Nama pena         : Nh. Dini atau N.H. Dini

Nama lengkap   :Nurhayati Sri Hardini

Lahir                      : 29 Feburari 1936 di Sekayu, Semarang, Jawa Tengah.

N.H Dini mulai tertarik menulis sejak kelas tiga SD. Buku-buku pelajarannya penuh dengan tulisan yang merupakan ungkapan pikiran dan perasaanya sendiri. Ia sendiri mengakui bahwa tulisan semacam itu semacam pelampiasan hati.

Bakatnya menulis fiksi semakin terasah di sekolah menengah. Waktu itu, ia sudah mengisi majalah dinding sekolah dengan sajak dan cerita pendek. Nh. Dini menulis sajak dan prosa berirama dan membacakannya sendiri di RRI Semarang ketika usianya 15 tahun. Hingga kini, Nh. Dini telah menulis lebih dari 20 buku. Buku-bukunya banyak dibaca kalangan cendekiawan sebagai karya sastra.

Cerita dan Bahasa

Dalam hati saya sampaikan, terima kasih untuk Ibu, Eyang, Wanita hebat Nh. Dini. Terima kasih karena sudah menuliskan seri kenangan ini dengan indah. Terima kasih karena sudah memberikan wejangan dalam bentuk tulisan yang tidak membosankan, yang bisa menyentuh perasaan sampai dalam dan yang membangkitkan semangat kami ketika masih muda agar bertahan seperti Anda.

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan senang jika Anda berkunjung ke toko buku kami. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close