Historical Fiction

Hari Anjing – Anjing Menghilang: Kumpulan Cerpen Umar Affiq dkk

Membuka Luka Lama Indonesia Kita Oleh Elsa Nisa

Hari Anjing – Anjing Menghilang: Kumpulan Cerpen Umar Affiq dkkMembaca kumpulan cerpen pilihan kampus fiksi emas 2017 ini, membuat saya merasa benar-benar mengalami tragedi 98 yang merah dan mencekam. Secara tidak langsung cerita-cerita dalam kumcer ini saling melengkapi dan mengisi lewat sudut pandangnya yang beragam. Akan digambarkan secara gamblang tragedi 98 lewat fakta sekaligus imajinasi dari para penulis-penulisnya.

Judul : Hari Anjing – Anjing Menghilang

Penulis : Umar Affiq dkk.

Penerbit : DIVA Press

Cetakan Pertama : Mei 2017

ISBN : 978-602-391-406-7

Tebal : 312 halaman

Daftar Cerpen

  1. Kesaksian Ia yang Direnggut dari Tuannya, pada Hari itu, saat Langit Murung dan Jalanan Berwarna Merah (Fakhri Cahyono)
  2. Sepasang Serasah Cokelat (Reni FZ)
  3. Rekaman – Rekaman yang Diselamatkan oleh Tuhan (Aris Rahman)
  4. Peluru di Rumah itu (Majenis Panggar Besi)
  5. Obituari Rindu dan Pembebasan (Dhanica Rhaina)
  6. Negasi Kebahagiaan (Bella Fazrine)
  7. Napak Tilas (Yenita Anggraini)
  8. Mimpi Lelaki Tua (Mas Agus)
  9. Migrasi Keluarga Sakinah (Ghyna Amanda)
  10. Menjahit Bibir Marie (Dini Meditria)
  11. Lengsernya Paman Gober (Alfanie Bican Mery)
  12. Komedi-Tragedi (Farrahnanda)
  13. Kamis Kedua di Bulan Mei (Dhamala Shobita)
  14. Hari Anjing – Aning Menghilang (Umar Affiq)
  15. Bunga Ngarot yang Menjadi Layu (Frida Kurniawati)
  16. Aku dan Peranku (Mufidatun Fauziyah)

Saya jadi ingat tentang perkataan seseorang, entah siapa saya lupa, bahwa untuk melahirkan sejarah baru harus menghapus sejarah yang lama. Atau mengutip dari Orhan Pamuk, ‘Jika ingin tumbuh dewasa seorang anak harus “membunuh ayah” agar bisa lepas dari bayang-bayangnya’. Sepertinya pendapat itu memang benar, karena untuk mencapai masa reformasi Indonesia juga harus berkorban banyak.

Dalam buku kumcer ini kita akan disajikan secara lengkap sudut-sudut terpencil dari sebuah tragedi besar, Kerusuhan Mei 1998. Misalnya bagaimana pandangan seekor kucing atas tragedi tersebut dalam cerpen Migrasi Keluarga Sakinah karya Ghyna Amanda. Bahkan dalam cerpen Lengsernya Paman Gober tragedi yang mencekam bisa diparodikan. Saya hanya akan menceritakan 3 cerpen yang menurut saya paling bagus dari 16 cerpen. Keenambelasnya bagus, hanya saja, setiap orang pasti punya pertimbangan tersendiri untuk memilih sesuatu.

Menjahit Bibir Marie karya Dini Meditria

Cerpen ini disajikan dengan bahasa yang liris dan indah. Menceritakan tentang Marie, gadis korban pemerkosaan pada tragedi 98 yang mengalami gangguan mental. Awalnya dia sedang menyelamatkan seorang gadis Tionghoa yang tengah menjadi incaran para penjarah. Gadis itu selamat, namun tidak dengan dirinya. Marie mengalami trauma berat hingga akhirnya harus tinggal di ‘rumah sakit’. Ia dirawat oleh seorang dokter yang ternyata adalah ayah dari gadis yang diselamatkannya dulu.

‘Kamu membenci bibir Marie sampai terkadang harus susah payah menggantinya dengan bibir-bibir lain yang, meski sama busuknya, masih dapat diloloskan ke hatimu tanpa air mata sama sekali.’

Seperti kata Tia Setiadi sendiri dalam kata pengantarnya, ‘Cerpen ini adalah tentang kehilangan dan penemuan kembali, peristiwa-peristiwanya lebih banyak berlangsung dalam benak ketimbang dalam kenyataan.’

Kesaksian Ia yang Direnggut dari Tuannya, pada Hari Itu, saat Langit Murung dan Jalanan Berwarna Merah, karya Fakhri Cahyono

Yang menarik dari cerpen ini menurut saya adalah sudut pandang yang penulis gunakan, yaitu dari sudut pandang sebuah jas almamater Universitas Tarumanegara. Jas itu adalah milik dari seorang gadis keturunan Cina. Ia direnggut dari gadis itu oleh para provokator massa, para tentara yang menyaru sebagai masyarakat untuk memprovokasi orang-orang.

Seragam hijau yang menumpuk di satu tempat mulai berbisik-bisik.

“Ini tidak benar”, kata seragam dengan bintang tiga di lengannya.

“Ya. Ini sangat tidak benar. Mencoreng nama baik, merusak negara!” Seragam lain menambahi.

Cerpen ini secara gamblang mengatakan bahwa terdapat oknum yang berdasar penampilannya berlatar belakang militer, seperti yang terdapat dalam ‘Laporan TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta)’. Di akhir cerita akan diceritakan bagaimana nasib jas itu setelah kerusuhan berakhir.

Hari Anjing-Anjing Menghilang, karya Umar Affiq

Sangat tepat menjadikan cerpen ini sebagai judul dari buku kumcer ini. Menurut saya, inilah cerpen yang paling bagus. Cerpen ini mengisahkan tentang Nyo, seorang bocah lelaki keturunan Tionghoa yang menjadi korban dari kerusuhan Mei. Konfliknya, pada saat itu lima orang pria masuk ke rumahnya dan memukuli papanya. Orang-orang itu juga membunuh ketiga anjing Nyo.

Cerpen ini diceritakan begitu mengalir, menggabungkan antara masa lalu, masa saat kejadian itu, dan setelah tragedi itu berlalu. Bahkan Tia Setiadi memuji-muji dengan bangganya, ‘Tak ragu lagi kukatakan: Umar Affiq adalah seorang cerpenis muda yang sangat berbakat.’

Berikut sedikit kutipan cerpennya:

“Anjing ini mati dengan cara sebagaimana seekor anjing mati. Betapa malang makhluk taat satu ini.”

Anjing adalah anjing. Mereka adalah makhluk penurut, bahkan saat dipanggil untuk direbut maut. Mereka hanya penurut. Mereka tak akan bertanya, apakah salah menjadi hamba yang taat?

Kekurangan

Dalam beberapa cerpen seperti ‘Rekaman-Rekaman yang Diselamatkan Tuhan’ dan cerpen ‘Komedi Tragedi’, saya rasa penulis terlalu berlebihan menggunakan kata-kata kotor dan kasar. Mengapa saya hanya menyebut berlebihan? Karena menilik lagi pada tema yang disajikan, buku kumcer ini bertemakan Kerusuhan Mei 1998, yang notabene merupakan perkosaan massal bagi kaum perempuan etnis Tionghoa. Saya rasa wajar jika terdapat beberapa kata, atau deskripsi untuk menjadi penguat cerita. Tetapi, dalam kedua cerpen itu, saya malah jadi risi ketika membacanya.

Mengenal Elsa Nisa

Elsa Nisa

Dyah Pitaloka, adalah sebuah nama pena. Sekarang masih berstatus sebagai pelajar. Tidak suka baca buku selain novel dan cerpen. Suka ikut lomba nulis meskipun belum pernah menang. Puisi dan cerpen amatirnya terdapat di beberapa antologi. Kritik dan saran: elsanisa2002@gmail.com

 

Karakter, Plot, Cerita

Membaca kumpulan cerpen pilihan kampus fiksi emas 2017 ini, membuat saya merasa benar-benar mengalami tragedi 98 yang merah dan mencekam. Secara tidak langsung cerita-cerita dalam kumcer ini saling melengkapi dan mengisi lewat sudut pandangnya yang beragam. Akan digambarkan secara gamblang tragedi 98 lewat fakta sekaligus imajinasi dari para penulis-penulisnya.

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan menyukai perjalanan. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close