Fantasy

Arterio by Sangaji Munkian – Aku ingin menjadi arteri sang pembuluh

Pengulas :  Ani Widihastuti  / @ randombooks_

Arterio by Sangaji Munkian – Aku ingin menjadi arteri sang pembuluh. Bagi kamu pecinta fantasi, mungkin novel satu ini bisa turut kamu nikmati. Arterio, dari judulnya saja sudah membuat penasaran. Bukankah itu terdengar seperti pembuluh arteri dalam tubuh manusia? Adakah hubungan antara Arterio dan arteri? Untuk menuntaskan rasa penasaranmu, simak sekelumit kisah tentang Arterio berikut!

Judul : Arterio

Penulis : Sangaji Munkian

Penerbit : Bitread Publishing

Tahun terbit : 2018

ISBN : 978-602-5634-1-6

Blurb

Seseorang yang menekuni bidang medis umumnya berperangai ramah, penyabar, dan punya kepedulian yang tinggi untuk menolong mereka yang terluka, tetapi itu tidak berlaku bagi Zag Waringga, dia tipikal pemarah, emosian, juga pendendam. Alih-alih menciptakan ramuan yang dapat menyembuhkan, Zag justru menciptakan racun paling mematikan. Lain halnya dengan Nawacita, dia adalah sosok yang begitu perhatian, penuh belas kasihan, tetapi terlampau naïf, padahal dia memiliki potensi istimewa yang selangka bintang jatuh, yakni merasakan detak jantung beserta aliran darah secara terperinci.

Arteri(o) akan mendenyutkan sebuah kisah yang berangkat dari pertanyaan: apakah tempat yang kini kau tempati sudah tepat? Bagaimana jika itu tidak sesuai dengan karakter dan tujuan hidupmu? Apakah petuah di mana pun kau ditempatkan, Tuhan selalu punya alasan, perlu direvisi?

Arteri(o) sebagai pembuluh yang mengalirkan darah dari jantung ke seluruh bagian tubuh, akan mengajakmu ke dunia yang lain daripada yang lain. Kisah yang meletupkan fantasi, aksi, konspirasi, dan tentu saja romansa yang tepa menghujam jantungmu.

Aku ingin menjadi arteri sang pembuluh, yang bersama degup terjujurmu mengarungi setiap ruas jaringan tanpa sekalipun berpikir melewatkannya.

Lebih Dekat dengan Arterio

Selayaknya negara pada umumnya, Kartanaraya juga memiliki akademi pendidikan. Ada lima jurusan akademi dalam Negara Kartanaraya yang patut kamu ketahui. Kelima jurusan tersebut ialah:

Lazuar, adalah mereka yang mencintai ilmu hayati, tantang apa yang ada di langit dan di bumi, baik itu makhluk hidup maupun benda mati.

Vitaera adalah mereka yang mendalami ilmu tentang manusia, segala hal tenang seluk beluk manusia mulai dari sejarah, bahasa, perilaku, dan seluruh budaya mereka pelajari secara komprehensif.

Arterio adalah mereka yang menggandrungi ilmu tentang kesehatan dan penyembuhan. Mereka mempelajarinya dalam rangka mengatasi masalah kerentanan manusia terhadap rival bernama penyakit.

Pragma adalah mereka yang menekuni ilmu praktis yang dapat dilihat, dihitung, dan dilakukan secara teknis. Mereka membangun suatu negeri dari balok-balok batu bata hingga menara tinggi yang seolah ingin menantang Tuhan di langit.

Dan yang terakhir ada Zewira. Mereka memaknai tentang kedalaman pikiran, kekuatan, struktur pemerintahan, perjuangan, dan ketertiban. Bagian dari masyarakat yang cenderung tertutup, penjaga keamanan yang memisahkan diri, tetapi terasa spesial dan penting.

Penempatan jurusan tersebut didasarkan pada hasil inisiasi. Tidak seperti murid lain yang bangga dengan jurusannya, Zag Waringga justru merasa penempatannya saat ini menjadi sebuah kesalahan fatal. Ia sangat ingin menjadi murid Zewira. Mengapa demikian?

Ketidaksukaan pada Arterio menjadikan Zag murid bandel yang kerap melanggar aturan. Termasuk saat ia diam-diam menyelinap masuk ke Laboratorium Tumbuhan Kuno dan Racun. Apa yang sebenarnya Zag lakukan di sana?

“Ingat, kau adalah seorang penyembuh, bukanlah seorang serdadu ataupun pembunuh.” Halaman 20

Memiliki lima jurusan yang berpengaruh terhadap peradaban tak serta merta membuat Kartanaraya bebas dari ancaman. Kabar bahwa para Jaharu telah mengepung Kota Purwa membuat para petinggi segera menyiapkan laskar patriot dari masing-masing jurusan yang akan melawan penjajah. Strategi yang awalnya dipastikan akan berhasil justru berakibat pada tertangkapnya pasukan kemah cadangan. Pasukan tersebut berisi Arterio strata muda yang bertugas sebagai tenaga medis untuk para pasukan lain yang terluka.

Zag Waringga menjadi salah satu pasukan yang disekap. Jaharu tak serta merta langsung memusnahkan mereka. Jou Ozlem yang merupakan pemimpin Jaharu sepertinya ingin membunuh secara perlahan. Laskar patriot dengan sisa tenaga serta luka di sekujur tubuh terpaksa harus melawan Jaharu one by one. Bisa dibayangkan saat satu per satu rekanmu tumbang di depan mata? Sungguh mengerikan.

Ketika tiba saatnya Zag bertarung, dengan jumawa ia ingin langsung berhadapan dengan Jou Ozlem. Keinginannya disanggupi. Rupanya ada misi khusus yang menyebabkan ia ingin sekali membunuh pemimpin Jaharu. Berbekal latihan dengan murid Zewira secara diam-diam dan berbagai ramuan yang berhasil ia racik saat menyelundup ke Laboratorium Tumbuhan Kuno dan Racun, Zag beberapa kali berhasil menangkis serangan Jou Ozlem. Lalu berhasilkah Zag membalaskan dendamnya?

Hasil pertarungan tersebut sedikit banyak mengubah tatanan Kartanaraya, khususnya bagi Zag. Apa yang sebenarnya terjadi? Benarkah Jaharu berhasil mengambil alih Kartanaraya?

Sudut Pandang dan Karakter

Arterio diceritakan melalui sudut pandang orang pertama sebagai Zag, lalu kemudian berganti Nawacita. Penggunaan sudut pandang seperti ini membuat pembaca lebih mendalami karakter masing-masing tokoh. Meski pada bagian Nawacita saya merasa sedikit bosan.

Di bagian awal cerita, kamu akan menemui Zag yang tengil, keras, serta pendendam. Ketidaksukaannya terhadap Arterio terlihat jelas dari awal cerita ini dimulai. Namun, sikap Zag yang terkesan buruk itu tak membuat Zag dikucilkan dari lingkup pertemanan. Ada Nawacita dan Datroit. Tanpa Zag minta, mereka berdua menjanjikan sebuah persahabatan. Ketiganya bernaung di jurusan yang sama. Meski Zag tak menyukai penempatannya, namun seringkali ia mengungguli teman-temannya, tentu saja saat membuat ramuan. Sepertinya Zag memang berbakat menjadi peracik handal.

Bicara soal Nawacita, dia merupakan tokoh sentral kedua setelah Zag. Cantik, manis, dan cerdas. Seolah belum lengkap itu semua, Cita dianugerahi sebuah bakat yang semakin menyempurnakannya, yaitu merasakan detak jantung orang lain. Cita bisa memanipulasi detak jantung orang lain sesuai keinginannya. Sangat cocok dengan perangai Cita yang lembut dan penuh perhatian. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Benar memang, dari sekian banyak sifat baik Cita, dia memiliki beberapa sikap yang cukup buruk. Salah satunya bahwa Cita terlampau naif.

Konflik, Plot dan Setting Cerita

Konflik yang cenderung cepat justru membuat saya lebih penasaran. Akan seperti apa ending dari cerita ini. Plot twist yang disajikan penulis cukup membuat saya tercengang. Saya dibuat bertanya-tanya, bagaimana bisa hal tersebut terjadi? Hal yang sungguh diluar prediksi saya.

Penulis membungkus Arterio dengan pilihan diksi yang tepat. Jujur, saya kagum akan kepiawaian penulis merangkai kata hingga menjadi indah saat dibaca. Meski masih ada beberapa kata yang menurut saya kurang baku, namun itu tak begitu mengganggu.

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, setting cerita berada di Negara Kartanaraya. Namun tidak dijelaskan dibelahan bumi mana negara tersebut berada, penulis pun menyebut negara ini sebagai negara antah-barantah yang tidak jelas keberadaannya. Disini, saya diajak untuk berimajinasi pada keadaan negara tersebut. Bagaimana, mau berimajinasi juga?

Arterio merupakan salah satu karya fantasi penulis dalam negeri. Berbeda dengan fantasi lain, novel ini bernafaskan fantasi lokal. Ada cukup banyak hal-hal yang begitu dekat dengan Indonesia. Seperti Sungai Moesi yang sekilas memang mirip dengan Sungai Musi di Palembang. Lalu ramuan krakatoa yang merupakan penyebutan dalam bahasa Inggris untuk Krakatau. Saya cukup kagum dengan daya imajinasi penulis. Penggunaan nama karakter yang unik dan langka, juga nama yang tidak hanya sekedar nama, namun juga mempunyai arti di dalamnya.

Cover Novel

People said, don’t look book by covers. Namun saya pribadi seringkali terpesona ketika melihat buku dengan cover yang cantik. Mungkin kamu juga sependapat dengan saya?

Arterio memiliki filosofi tersendiri dalam covernya. Jika dilihat sepintas memang seperti layaknya cover pada umumnya. Namun coba perhatikan gambar berikut..

Arterio by Sangaji Munkian  Arterio by Sangaji Munkian

 

Yap! Arterio bisa dibaca secara bolak-balik. Ini baru satu keunikan. Coba lihat lebih detail. Sudah menemukan keunikan lain? Mari saya beri tahu hal unik lainnya.

Dapat dilihat bahwa ada dua siluet wajah disana. Satu laki-laki dan satu lagi perempuan. Bisa dipastikan bahwa ini adalah penggambaran dua karakter utama dalam Arterio, Zag Waringga dan Nawacita Lumie. Siluet wajah dengan latar berwarna biru dengan bagian otak yang bersinar menggambarkan karakter Cita yang tenang, lemah lembut, penuh perhatian dan berotak cemerlang.

Sementara siluet dengan warna gradasi merah dan oranye merupakan penggambaran sosok Zag yang pemarah, ambisius, tempramental dan keras. Siluet wajah Zag ini adalah sebuah lukisan milik seniman Norwegia, Edvard Munch tahun 1893 yang diberi judul “The Scream”. Penulis memilih lukisan tersebut karena terdapat gejolak emosi, kegelisahan sekaligus kekacauan yang dialami seseorang. Menurutnya, “The Scream” sesuai dengan perangai Zag. Karena disamping sifat buruknya, Zag merupakan sosok yang jenius dan berani menjungkirbalikkan paradigma yang sudah ada.

Setelah mengetahui filosofi dibalik desain kover Arterio, saya hanya bisa berdecak kagum. Hal ini membuktikan bahwa penulis memang memperhatikan setiap detail dari Arterio. Sungguh, filosofi yang sangat luar biasa.

“Sebab cinta sejati mengalir sampai ke jantung.”

Kalimat tersebut menjadi tag line dalam novel ini. Penuh makna dan terkesan mendalam bukan? Tag linenya saja sudah seindah itu, bagaimana isinya? Pastinya lebih keren.

Kesan – Kesan Arterio

Ada cukup banyak novel fantasi yang saya baca, namun baru kali ini saya menemukan kisah fantasi penuh inspirasi. Merenung, itu yang saya lakukan setelah melahap novel ini. Seperti yang pernah Zag tanyakan, tepatkah penempatannya di Arterio? Saya pun begitu, apa posisi saya saat ini merupakan sebuah kesalahan? Lama saya terpekur, hingga akhirnya saya menemukan banyak alasan mengapa saya ditempatkan di posisi saya saat ini. Posisi yang awalnya saya kira sebagai bentuk ketidakadilan Tuhan. Namun berkat perenungan itu, saya semakin yakin bahwa ini adalah cara Tuhan untuk membuat saya lebih bersyukur. “Oh, jadi begini. Syukurlah saya berada di sini. Mungkin jika tidak, semuanya akan lebih rumit.” Arterio mengajarkan saya tentang sebuah penerimaan dan bersikap legowo, untuk tidak berambisi melebihi batas kuota, untuk tidak menyimpan dendam pada siapapun. Karena setelah dendam itu terbalaskan, justru rasa kosong yang akan kita rasakan.

“Aku sadar bahwa balas dendam dan keadilan adalah hal yang berbeda.” Halaman 384

Mungkin kamu sedang merasa dimana penempatanmu saat ini salah. Ketahuilah, dimanapun kamu ditempatkan, Tuhan pasti punya alasan. Kamu mungkin belum menemukan alasan yang tepat, namun seiring berjalannya waktu, kesadaran itu pasti datang.

Kisah romansa antara Zag dan Nawacita didalamnya menurut saya hanya sekedar bumbu. Kisah cinta mereka justru yang akan mengantarkan pembaca pada sebuah rasa sejati yang tak bisa mati. Bahwa ramuan yang paling mujarab adalah cinta kasih tulus seseorang. Saya rasa masih banyak nillai moral yang penulis sampaikan, saya yakin kamu pasti bisa dengan mudah menemukan.

“Tak cukup menjadi rangka yang merengkuh. Aku ingin menjadi arteri sang pembuluh, yang bersama degup terjujurmu mengarungi setiap ruas jaringan tanpa sekalipun berpikir melewatkannya.” Halaman 405

Drama Dibalik Penulisan Arterio

Ide cerita Arterio tercetus sejak penulis berada di bangku Sekolah Menengah Pertama. Khayalan fantasinya sebagai peramu handal penulis tuangkan dalam aksara demi aksara. Kedekatannya dengan tokoh, lokasi, dan karakter dalam cerita semakin membuatnya semangat untuk merampungkan naskah. Namun semesta seolah belum mengizinkan penulis merealisasikan impiannya. Karena di bangku kuliah, file naskah tersebut hilang termakan monster komputer. Saya bisa membayangkan bagaimana kecewanya penulis, semangat yang awalnya membara pun lenyap tertelan amarah.

Hingga pada akhirnya, muncul sebuah ilham yang membuat penulis memulai semuanya dari awal. Dengan dukungan orang-orang sekitar, penulis berhasil menyusun kembali angan-angannya. Disela kesibukan sebagai karyawan di sebuah perbankan, penulis menyempatkan untuk merampungkan naskah Arterio hingga kemudian dipersunting oleh penerbit Bitread.

Mengenal Sangaji Munkian

Sangaji Munkian, pria kelahiran Bandung ini merupakan karyawan di sebuah bank yang mendedikasikan waktu luangnya untuk menulis. Tergabung dalam FLP di Jawa Barat semakin membuatnya mendalami dunia literasi. Ada satu kutipan yang saya ingat sampai saat ini, “kau bisa saja mengerangkeng raga seorang penulis ke lapisan bumi paling dalam, tetapi tidak imajinasinya.” Kalimat ini saya temukan pada lembar awal sebelum ucapan terimakasih penulis. Dan memang benar, tak ada batasan untuk menghasilkan karya.

Arterio by Sangaji Munkian
Instagram @sjmunkian

Kabarnya, ada kelanjutan dari kisah Arterio. Penulis berencana untuk membuat beberapa seri dan sudah mencapai 75% saat Arterio diterbitkan. Wah saya tidak sabar menunggu seri berikutnya. Akankah membahas jurusan lain di Kartanaraya? Kita lihat saja nanti. Selain Arterio, penulis lebih dulu menerbitkan novel Maneken (Republika, 2015), antologi bersama komunitas literasi FLP serta Kawah Sastra Ciwidey: Melepas Hati, tetapi ingin Dicintai (Bitread, 2017) dan Martil Kembar (Bitread, 2017).

Penulis juga bisa disapa melalui e-mail: sjmunkian@gmail.com serta akun media sosial IG/FB/Goodreads: @sjmunkian.

Reviewer :  Ani Widihastuti  / @ randombooks_

Hai kawan. Aku Ani Widihastuti. Kerap disapa Ani. Lahir di Kebumen, 22 September 1997. Saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta jurusan Manajemen.

Mempunyai hobi membaca, makan dan tidur. Sesekali menulis jika sedang dalam mood baik. Bisa disapa melalui akun facebook Ani Widihastuti, Instagram @randombooks_ sebagai akun bookstagram dan instagram pribadi @andisti_

Salam bahagia semua!

Karakter
Plot
Cerita

Saya rekomendasikan novel ini bagi kamu para pecinta fantasi. Mungkin akan lebih baik jika dibaca untuk usia 17+ mengingat konflik yang cukup rumit dan butuh konsentrasi lebih untu memahaminya.

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan senang jika Anda berkunjung ke toko buku kami. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close