Women's Fiction

Review The Dragon Queen By William Andrews – Novel Fiksi Dengan Fakta Sejarah Ratu Min

Review The Dragon Queen By William Andrews

Review The Dragon Queen By William Andrews – Novel Fiksi Dengan Fakta Sejarah Ratu Min – Pernahkah teman-teman mendengar tentang kisah Ratu Min dari Korea Selatan? Belajar sejarah memang menjadi salah satu cara untuk mengerti berbagai kejadian di masa lalu, termasuk kejadian yang paling mengerikan sekalipun. Hal ini juga yang saya alami ketika menerima tawaran untuk membaca novel fiksi The Dragon Queen yang ditulis oleh William Andrews. Perlu diketahui juga bahwa novel ini termasuk dalam kategori Women’s Fiction atau Fiksi Wanita Dewasa dan akan diterbitkan pada 20 Maret 2018.

Sebelumnya William Andrews juga sudah menulis Daughters of the Dragon yang sudah dirilis pada 28 Juni 2016. Dan novel ini juga sukses di buat film yang kemudian menarik perhatian dunia literasi. Inti utama dari novel ini adalah ketika Jepang dan China menduduki Korea pada Perang Dunia II, wanita Korea mendapatkan tingkah laku yang sangat kejam. Mereka disuruh untuk melayani kebutuhan seksual para tentara penjajah yang dikenal dengan nama “comfort women”  Kisah dalam novel ini dihantarkan dengan narasi dari tokoh yang bernama Anna Carlson, yang melakukan perjalanan dari Amerika ke Korea untuk bertemu jejak ibu kandungnya. Sebelumnya Anna menerima paket sisir antik dengan pahatan gading berupa naga berkepala dua.

Hingga akhirnya Anna bertemu dengan Hong Jae-hee. Saat itu juga narasi dari Hong Jae-hee membantu Anna menemukan silsilah dalam keluarganya, keberanian dan juga misteri sisir kuno yang sudah sampai ke tangannya.

Itulah sedikit pengantar novel Daughters of the Dragon yang memang masih berhubungan dengan novel Dragon Queen. Lain kali saya akan memberikan review juga untuk Daughters of the Dragon agar cerita ini bisa lebih lengkap.

Jadi siapkah Anda menelusuri The Dragon Queen? Simak dulu sinopsisnya berikut ini:

Sinopsis Dragon Queen

From the bestselling author of Daughters of the Dragon comes the story of one of the most extraordinary queens in history.

As tensions rise on the Korean peninsula, US diplomat Nate Simon is sent to Seoul to gauge the political situation and advise the president. He also needs to find out why someone sent the president an ancient, intricately carved comb with an ivory inlay of a two-headed dragon. Though familiar with Korea’s language and culture, Nate knows little of its troubled history. Beautiful and mysterious embassy aide Anna Carlson believes it’s time he learns, starting with the extraordinary story of Korea’s last queen.

Seoul, 1866. The beautiful orphan Ja-young is chosen to be the child bride of Gojong, Korea’s boy king. Highly intelligent but shy, Ja-young faces a choice: she can be a stone queen—silent and submissive—or she can be a dragon queen and oppose enemies and empires that try to rule Korea during the age of imperialism. Her choice leads her to forge a legend that will endure far beyond her lifetime.

The more Nate discovers, the more he comes to realize that Queen Min’s story is still relevant today. Now the choice is up to him: be submissive and accepting…or change the world.

Awal Cerita

Digambarkan dengan perjalanan Nate Simon seorang Diplomat AS dari AS ke Korea. Tugas ini diberikan setelah terjadi ketegangan di semenanjung Korea dan Presiden telah menerima kiriman berupa sisir antik dengan tatahan berwarna gading dengan bentuk naga berkepala dua. Presiden meminta Nate untuk mencari semua informasi tentang semua kejadian politik di Korea dan Presiden berharap Nate bisa  memberikan nasehat politik yang tepat sesuai dengan situasi Korea.

Dalam perjalanan itu Nate digambarkan sangat akrab dengan budaya dan bahasa Korea. Juga sedikit gambaran Nate yang memiliki istri seorang warga Korea bernama Jin-ee dan sudah memiliki dua anak. Tapi juga ada masalah dalam pertemuan mereka karena tugas Nate sebagai seorang diploma.

Jadi sebenarnya tujuan perjalanan ini disebut sejak awal sebagai usaha untuk mencegah Perang Dunia III. Jujur menurut saya ini opsi yang sangat sensitif dan penulis dengan berani mengatakan itu sejak awal. Tapi ketika melihat beberapa referensi penulis, saya percaya bahwa pilihan konflik yang dikatakan sejak awal memang sudah diteliti dengan tepat.

Dalam pertemuan diplomatik antara perwakilan Korea dan Amerika, Nate bertemu dengan ajudan kedutaan yang bernama Anna Carlson (lihat lagi cerita di Daughters of the Dragon). Pertemuan itu tidak memberikan hasil apa-apa dan membuat Nate merasa sangat jenuh. Setelah beristirahat di hotel Ia berjalan-jalan ke Istana Gyeongbok. Saat merasa sudah jenuh dan ingin kembali datang ke pertemuan resmi, Ia mendengar suara “One Korea” dari seorang wanita. Itu adalah suara Anna yang kemudian dilanjutkan dengan percakapan mengenai sejarah Raja Taejo pada tahun 1934 yang terpilih menjadi Raja pertama dari Dinasti Joseon. Cerita dimulai lagi ketika Anna menyebutkan di tempat itulah Ratu Min hidup dan meninggal pada tanggal 8 Oktober 1895.

Setelah Anna dan Nate bercakap-cakap, berdebat mengenai siapa pengirim sisir antik ke Presiden akhirnya Anna memberi sebuah kejutan. Ada sedikit aksi penculikan yang membuat Nate merasa gelisah dan tercancam. Lalu hingga akhirnya Nate dibawa ke sebuah tempat rahasia. Dan Anna mulai menceritakan kisah Ratu Min. Anna meminta Nate untuk menggunakan bahasa Korea meskipun Nate awalnya menolak, tapi akhirnya mengikuti keinginan Anna. Lalu narasi mulai ceritakan ketika masuk ke bulan Maret tahun 1866 di Seoul, saat pagi hari di musim semi yang indah, bertempat di rumah Gamgodang.

Baiklah itu, adalah sedikit awal dari bagian pembukaan sampai ke narasi cerita dimana William Andrews mengajak pembaca seperti memasuki masa lalu Korea pada tahun 1866. Saya tidak akan menjelaskan atau menulis cerita secara urut. Tapi saya akan memberikan ulasan mengenai hal-hal yang tidak akan pernah dilupakan dari sejarah Ratu Min.

Ja-young Muda di Rumah Gamgodang

Ja-young diterangkan lahir pada tanggal 19 Oktober 1851 dari pasangan yang bernama Min Chi-rok. Ayah Ja-young meninggal ketika Ia berusia 11 tahun. Kemudian sejak hari itu ibu Ja-young mengalami masa kesedihan yang berat. Ibunya mengatakan sering mendengarkan suara-suara untuk Korea bahwa itu akan menurun pada Ja-young. Pada suatu pagi ibu Ja-young bangun untuk pertama kalinya, tapi ternyata Ia menghanyutkan diri ke sungai Han.

Sekarang Ja-young tinggal bersama dengan paman (Chul-jo Min) dan bibinya (Su-mi Kim) yang berasal dari Klan Min. Keluarga paman Ja-young sangat dekat dengan keluarga kerajaan. Hingga suatu pagi keluarga ini menerima utusan dari Taewon-gun, yang meminta pamannya untuk segera datang menemuinya.

Inilah awal mula Ja-young akan dipertemukan dengan anak laki-laki Taewon-gun yaitu Raja Gojong Muda. Lady Min istri Raja Taewon-gun bertemu dengan Ja-young di rumah Gamgodang. Setelah melihat Ja-young yang kecil dan kurus, Ia merasa bahwa Ja-young lah yang akan menjadi istri Raja Gojong Muda.

Akhirnya Taewon-gun benar-benar memilih Ja-young sebagai istri Gojong. Alasannya adalah karena Ja-young hanyalah yatim piatu, tidak memiliki keluarga dengan latar belakang politik yang kuat dan kemungkinan tidak mengancam kekuasaan Taewon-gun.

Tapi ternyata Taewon-gun salah besar. Ja-young adalah gadis muda yang sangat cerdas, menghabiskan banyak waktu untuk belajar, membaca kisah klasik, dan membaca puisi. Pada jaman itu digambarkan bahwa wanita tidak bisa melakukan aktifitas belajar sesuai adat. Namun paman Ja-young memberi kesempatan kepada Ja-young untuk banyak belajar dan membaca di ruang studinya.

Sifat ini digambarkan ketika pagi hari dan Ja-young menerima permintaan bibinya untuk menemui Ratu Min. Di dalam novel di gambarkan pada bagian :

“Someday, child, you will fall into a book and have to live the rest of your life among the pages. Come, the king’s mother is coming to see you.”

Sementara Raja Gojong muda digambarkan sebagai pemalas, tidak suka belajar, dan menganggap bahwa dirinya benar-benar akan menjadi raja yang berkuasa. Dan Ia juga tidak merasa dimanfaatkan oleh ayahnya  sendiri karena Taewon-gun sama sekali tidak ingin kehilangan kekuasaan.

Pernikahan Raja Gojong dan Ja-young.

Meskipun Ja-young memiliki keluarga yang dekat dengan istana, tapi Ia sama sekali bukan keturunan kerajaan. Setelah Ia melewati masa-masa latihan yang berat dari Tuan Euno sebagai utusan Ratu Min, untuk mempelajari cara-cara menjadi keluarga kerajaan, akhirnya tiba ke hari pernikahan. Saat menikah Ja-young baru berusia enam belas tahun dan Raja Gojong satu tahun lebih muda. Pernikahan itu dilakukan pada bulan Maret 1866 dengan perayaan yang sangat mewah.

Ja-young yang kurus, kering dan sangat kecil harus berpakaian seperti Ratu saat hari pernikahan. Penata rambut memberikan wig yang besar dan berat. Hingga pelayan harus menahan dari bagian belakang. Tapi Ja-young muda berusaha menegakkan bahu agar kuat dan ingin menunjukkan kemandiriannya.

Setelah menikah Ja-young yang sekarang menjadi Ratu memanfaatkan semua fasilitas di kerajaan. Ia juga tahu bahwa Gojong muda sama sekali tidak senang belajar dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan temannya. Ratu Min sama sekali tidak menyukai hal-hal yang menghibur, jadi Ia lebih senang menghabiskan waktu untuk membaca berbagai buku. Ia meluaskan studinya ke berbagai bidang seperti ilmu eksak, filsafat, politik, agama, ekonomi, geografi dan semua ilmu yang seharusnya hanya dipelajari oleh pria.

Peristiwa Politik

Setelah melihat Ratu Min akhirnya Taewon-gun baru sadar bahwa menantunya bukanlah anak perempuan biasa. Ia mendapatkan laporan bahwa menantunya belajar banyak dan Taewon-gun merasa terancam. Raja Gojong ingin mendapatkan anak dari Ratu Min. Tapi Ja-young atau Ratu Min baru hamil setelah lima tahun menikah. Anak yang dilahirkan memang laki-laki tapi sayangnya meninggal setelah tiga hari sejak dilahirkan karena cacat. Kelahiran ini dicatat dalam sejarah tanggal 9 November 1871. Ratu Min atau Ja-young menyalahkan Taewon-gun karena curiga sudah memberikan racun sehingga bayi itu meninggal dunia. Ratu Min akhirnya berjanji untuk membalas kematian anak laki-lakinya.

Permadani Naga Berkepala Dua (Dalam Novel)

Beberapa bulan setelah Ratu Min dan Raja Gojong menikah,  mereka menerima hadiah dari banyak pejabat dan kolega dari luar negeri. Taewon-gun meminta ahli untuk menjelaskan hadiah dan menilai berapa harganya. Ratu Min hanya diam saat proses itu namun mengamati apa yang sebenarnya terjadi. Setelah semua hadiah selesai dibawa ke gudang, ada pelayan yang mengantarkan sebuah hadiah berupa permadani. Dibandingkan dengan hadiah yang lain maka hadiah ini memang lebih sederhana. Hadiah itu memang tidak tertulis siapa pengirimnya namun tiba-tiba sudah tiba di pintu gerbang saat pagi hari. Surat yang ada di permadani itu bertuliskan “One Korea”.  Baik Raja Gojong dan Taewon-gun sama sekali tidak menyukai hadiah ini dan meminta pelayan untuk membakarnya. Ratu Min keberatan dan Ia akhirnya meminta kepada Taewon Gun dan Raja Gojong untuk memiliki permadani itu.

Peran Ratu Min untuk Raja Gojong

Setelah menikah Taewon-gun meminta Ratu Min untuk diam saja ketika bertemu dengan utusan dari Cina dan Jepang. Dalam hatinya Ratu Min hanya mengikuti permintaan Taewon-gun tapi Ia mempelajari semua hal dengan cepat. Ia tahu Raja Gojong sangat lemah dan terus terintimidasi oleh ayahnya sendiri. Raja Gojong sama sekali tidak memiliki keinginan politik.

Hingga akhirnya Ratu Min melihat bahwa Taewon-gun telah membuat kebijakan yang menyengsarakan rakyatnya. Rakyat hidup sangat susah dan harus membayar pajak yang tinggi. Ratu Min mulai mendukung Raja Gojong dan memberikan pengaruh yang sangat besar. Hingga akhirnya pada tanggal 5 November 1873, Raja Gojong menetapkan bahwa dia sendiri yang akan memerintah kerajaan dan mengasingkan Taewon-gun menjauh dari wilayah kerajaan.

Dalam novel, masa ini diceritakan ketika Gojong berhasil memiliki anak laki-laki dari selir. Ratu Min yang sedang mengasingkan diri menerima berita tersebut dari Raja Gojong sendiri. Namun Ratu bertekat dan berjanji untuk memberi anak laki-laki pada Raja Gojong agar bisa mewarisi tahta. Kemudian Ratu Min kembali ke Istana untuk mendampingi Raja Gojong. Ia memerintah pamannya yang menjadi utusan istana untuk berkeliling ke Amerika, Jepang, Cina, Rusia dan beberapa negara di Eropa. Dalam waktu dua tahun pamannya kembali dan membawa berita kemajuan negara-neraga lain yang sangat canggih. Ratu Min merasa bahwa selama ini Korea tidak bisa maju dan tertinggal akibat pemerintahan Taewon-gun yang tamak.

Tapi Taewon-gun yang sudah keluar dari istana juga tidak diam saja. Ia merencanakan sebuah serangan untuk membunuh Ratu Min. Beruntung Ratu Min mendengarkan bisikan dari permadani yang bergambar naga berkepala dua. Bisikan itu meminta agar Ratu Min segera pergi dari istana. Akhirnya Ratu Min meminta pengasuh membawa pangeran ke tempat yang aman sampai ada pesan dari Ratu Min.

Ratu Min pergi dengan pengawal khususnya meninggalkan istana. Dalam penyamaran banyak yang terjadi.  Ratu Min untuk pertama kalinya keluar dari lingkungan istana. Ia bertemu dengan rakyat biasa yang sengsara dan miskin. Dalam masa perjalanan itu ada berita bahwa istana Ratu telah dibakar dan Taewon-gun beserta pengikutnya percaya bahwa Ratu sudah tewas. Bahkan demi mendapatkan simpati dari rakyat, Taewon-gun mengadakan upacara pemakaman yang besar.

Korea Melawan Jepang

Ketika Raja Gojong baru saja menjalankan tugasnya sebagai Raja, tanpa intimidasi dari Taewon-gun, ternyata Jepang ingin menjajah Korea. Utusan Jepang mengenakan pakaian barat dan membuat Raja Gojong mengolok tingkah laku itu. Jepang meminta Korea membayar mahal upeti dan juga menerapkan sistem dagang monopoli dari Jepang. Kapal-kapal mulai mendekati Korea dan Raja Gojong sama sekali tidak takut. Pada awalnya Ratu Min mendesak suaminya untuk menolak semua perlakukan Jepang.  Pada tahun 1874 Jepang kembali memaksa Raja Gojong untuk menandatangani perjanjian dagang yang sangat merugikan Korea. Akhirnya kali ini Raja Gojong terbujuk demi perwakilan Kaisar Meiji agar Korea tidak kesulitan lagi. Tapi itu semua hanya pikiran Raja Gojong saja, sebab Ratu Min sama sekali tidak setuju.

Jepang akhirnya menyerang kawasan Ganghwa yang kemudian disebut dengan peristiwa Unyo. Korea harus bertahan dan akhirnya menyerang balik militer Jepang. Masalah ini melemahkan Raja Gojong karena akhirnya Jepang kembali mengirim enam kapal angkatan laut ke bagian perairan Korea. Raja Gojong kembali tunduk dan Ratu Min sudah tidak bisa membujuk lagi. Peristiwa Perjanjian Ganghwa yang juga ditekan dari permintaan Amerika Serikat ini melemahkan Korea. Perjanjian ini membuat Jepang bisa mengirim kapal-kapal ke lima pelabuhan Korea dan semua bagian perairan Korea. Korea menderita kerugian karena Jepang melakukan monopoli ekonomi dan perdagangan. Pertahanan Jepang di Korea sampai pada tahun 1945 dan selama itu Korea sangat menderita.

Peristiwa Imo

Karena perjanjian Ganghwa merugikan Korea, Ratu Min mencoba untuk menggerakkan militer. Semua itu juga didasari dari laporan perjalanan pamannya. Ratu Min berusaha meminta bantuan berupa pembelian alat militer dari Cina dan Rusia. Ratu Min bersiap untuk melindungi Korea. Korea pertama kalinya melakukan reformasi dengan membuka kesempatan besar bagi negara asing untuk menggerakkan militer Korea. Namun dampak usaha ini adalah pajak yang sangat tinggi untuk memenuhi kebutuhan peralatan militer Korea. Rakyat sebenarnya juga semakin menderita.

Hingga pada tahun 1882, Raja Gojong dan Ratu Min akhirnya terguling dari Istana. Semua terjadi karena pemberontakan militer dari beberapa pemimpin klan yang merasa reformasi yang dilakukan Ratu Min tidak sesuai dengan Korea. Peristiwa ini yang akhirnya juga membuat Taewon-gun kembali ke istana. Dalam sejarah ini sering disebut dengan insiden Imo.

Tapi kerjasama Ratu Min dan Cina sudah terjadi tanpa diketahui oleh Taewon-gun. Sejak awal Taewon-gun lebih memilih dekat dengan Jepang, padahal China sudah tahu apa maksud Jepang. Hingga akhirnya ketika Ratu Min meminta bantuan ke China, maka China dengan senang hati menghalau Jepang dengan kekuatan ribuan tentara. Taewon-gun tertangkap dan dibawa ke China untuk diadili sebagai pengkhianat. Peristiwa ini kembali memperkuat posisi Raja Gojong dan Ratu Min di Istana Gyeongbukgung.

Musim Gugur, 1894

Pajak yang semakin tinggi untuk memperkuat militer Korea memang menjadi kegagalan Ratu Min. Pada akhirnya di musim gugur 1894, semua petani dan pejabat desa Korea melawan pemerintahan Joseon. Dalam sejarah ini disebutkan dengan Pemberontakan Tonghak. Dimana warga Korea mulai menolak semua warga asing.

Menghadapi pemberontakan ini akhirnya Ratu Min meminta Raja Gojong untuk kembali menghubungi China. Hingga pada tanggal 6 Juni 1894 Cina memang mengirimkan tentara untuk membantu Korea. Dalam waktu tujuh hari pemberontakan ini akhirnya selesai tapi tentara Jepang dan Cina sama sekali tidak pergi ke Korea. Campur tangan pihak barat sama sekali tidak membantu. Dan akhirnya pada tanggal 23 Juli pasukan Jepang berusaha menangkap Raja Gojong dan Ratu Min. Tentu saja posisi ini membuat China dan Jepang saling memperebutkan wilayah Korea. Dua negara ini menabuh genderang perang.

8 Oktober 1895 (Pagi Yang Menyedihkan)

Pembunuh dari Jepang dan Korea disiapkan untuk menghabisi nyawa Ratu Min. Kala itu masih pagi dan Ratu Min mulai merasakan suara-suara yang menyuruhnya untuk pergi. Ia meminta pengasuh untuk membawa putranya pergi dari istana. Sekelompok pembunuh yang terdiri dari lima puluh (dalam novel ada 20), mencari masuk ke istana Gyeongbokgung dan menerobos tempat tinggal Ratu Min. Dalam jiwanya yang tenang peristiwa ini sudah ada di depan mata. Dalam balutan pakaian putih dan sangat tenang, Ratu Min terbunuh oleh pedang pembunuh kejam ini.

Dalam sejarah diungkapkan bahwa ada lima puluh pembunuh yang masuk ke Istana Gyeongbokgung. Dua puluh pembunuh bisa masuk ke ruangan Ratu Min. Orang yang merumuskan pembunuhan Ratu Min adalah Miura Goro (dalam novel disebut dengan nama Tuan Euno), seorang duta besar Jepang untuk Korea.  Beberapa pembunuh yang berhasil masuk istana juga menangkap Raja Gojong namun tidak membunuhnya.

Para pembunuh memaksa pelayan bahwa wanita yang tenang di tempat itu adalah Ratu Min. Setelah pembunuhan tersebut Jepang memamerkan mayat ratu ke semua orang asing untuk menegaskan bahwa sekutu mereka telah hancur. Jenazah ratu di seret keluar istana sampai ke hutan, kemudian menyiramnya dengan minyak tanah dan membakarnya dengan penuh kemenangan. Abu Ratu Min disebarkan sebagai tanda kemenangan mereka.

Para pembunuh ini juga menyiksa pelayan wanita di tempat peristirahatan Ratu. Mereka dilecehkan, diperkosa dan dibunuh.

Pendapat Pribadi

Tidak ada sejarah buruk yang bisa terlupakan karena semua begitu pahit. Saya mengamati saat ini musik K-POP menarik orang-orang dari negara lain untuk tahu tentang Korea. Bahkan Korea telah tumbuh dengan sangat pesat. Korea menarik perhatian dunia tidak hanya dengan budaya dan musiknya, tapi juga dengan kemajuan teknologi, otomotif dan dunia medisnya. Korea seperti membalas perlakuan kekejaman negara lain yang pernah menindas Ratu Min. Bahkan di beberapa peristiwa Korea berulang kali menyinggung kekasaran Jepang di masa lalu dan rakyat Korea masih sangat terluka. Baru-baru ini Korea dan China juga sempat bersitegang dengan kasus THAAD.

Novel yang ditulis oleh William Andrews ini menitikberatkan pada masalah sisir kuno dengan pahatan naga berkepala dua yang dikirimkan ke Presiden. Kemudian jalan cerita masuk kembali ke sejarah Ratu Min yang menerima hadiah permadani dengan gambar naga  berkelapa dua dan sebuah pesan, “One Korea” Pada akhirnya dua teka-teki di waktu yang berbeda ini memberi pesan bahwa cukup sulit jalan yang dilalui untuk mempertahankan benda dengan naga berkepala dua (sisir dan permadani). Siapapun itu, jangan memicu kekerasan dan perang yang akan melukai. “One Korea” juga bisa menjadi simbol Korea Utara dan Korea Selatan, seperti inspirasi yang didapatkan oleh penulis novel ini.

Cerita ini fiksi dimana beberapa peristiwa ditonjolkan dan berhubungan dengan sejarah Korea yang sebenarnya. Saya tidak bisa memberikan review yang baik tapi saya sudah berusaha menarik benang merah dari cerita ini. Mohon berikan kritik, saran atau pertanyaan ke komentar. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita yang panjang ini.

Data Buku The Dragon Queen

Format : Paperback

Page: 320 pages

Publisher: Lake Union Publishing (March 6, 2018)

Language: English

ISBN-10: 1503900347

ISBN-13: 978-1503900349

About The Author

For more than thirty years, william Andrews was a copywriter and a marketing/brand executive with several Fortune 500 companies. For fifteen years, he ran his own advertising agency. At night and on weekands (and sometimes during the workday), Bill wrote fiction. His first novel, The Essential Truth, won first place in the 2008 Mayhaven Contest for fiction.

The Dragon Queen is Bill’s fourth novel and is the second book in his trilogy about Korea, which includes Daughters of the Dragon : A Comfort Woman’s Story and a planned third book, The Society of the Two Headed Dragon.

Today, Bill is retired and focused on his writing. He lives in Minneapolis with his wife, who’s been an inner city schoolteacher for thirty-two years.

Review saya

Kisah yang seharusnya menginspirasi wanita modern, berkaca dari Ja-young yang diceritakan sebagai Ratu Min. Wanita cerdas, kuat dan sangat tegar, kisah fiksi yang layak membuat kita kembali melihat sejarah bangsa sendiri.

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan senang jika Anda berkunjung ke toko buku kami. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

1 thought on “Review The Dragon Queen By William Andrews – Novel Fiksi Dengan Fakta Sejarah Ratu Min”

  1. Ternyata Korea pernah diduduki baik Cina maupun Jepang dalam kurun waktu yang lumayan ya. Tidak heran jika Korea dan Jepang memiliki kebudayaan yang hampir sama. Belum lagi, dalam buku Memoar Genji, disebutkan bahwa Jepang pernah mengadaptasi kebudayaan Korea sebagai penghormatan persahabatan. Buku tersebut ditulis oleh Lady Murasaki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close