Women's Fiction

Review Aroma Karsa Karya Dee Lestari Bagian 1 – Menilik Lahirnya Aroma Karsa

Oleh Artrias Setiawan

Review Aroma Karsa Karya Dee Lestari Bagian 1 – Menilik Lahirnya Aroma Karsa. Pertama saya ucapkan terima kasih kepada Bookslife.co yang sudah memberikan undangan untuk datang ke acara #AromaKarsaGathering yang diadakan di IFI – LIP Yogyakarta, pada tanggal 22 April 2018. Tentu saja undangan ini saya dapatkan sebagai anggota Digital Tribe Aroma Karsa dan Priority Pass. Juga saya ucapkan terima kasih kepada penulis Aroma Karsa mbak, Dee Lestari untuk berbagi ceritanya dan Bentang Pustaka yang pastinya berperan dalam acara ini.

Jujur untuk menilik proses lahirnya Aroma Karsa saya menunggu waktu yang tepat. Kita tahu diluar sana dari berbagai media sudah menuliskan kehebohan Aroma Karsa. Alasan saya menunggu untuk menuliskan ini adalah demi mendengar langsung kisah dari mbak Dee Lestari tentang Aroma Karsa. Tidak ada sumber lain yang lebih tepat selain dari penulisnya, itulah kira-kira pemikiran saya. Baiklah, tanpa menunggu waktu dan kata-kata untuk basa-basi, saya akan mencoba mengungkap proses lahirnya Aroma Karsa.

Mengapa Aroma?

Diantara banyaknya penulis di Indonesia, mbak Dee Lestari memang salah satu penulis yang mengeluarkan karya-karya dengan ide yang tidak biasa. Kembali kita melihat kisah serial Supernova yang menghidupkan science fiction di ranah tanah air. Pembaca masih dibuat tergila-gila dengan karya ini sampai akhirnya ditutup dengan lahirnya Inteligensi Embun Pagi pada tahun 2016. Lalu bagaimana dengan Aroma Karsa?

Jika kita melihat sekilas, maka aroma ini memang seperti yang kita pikirkan. Kata ini dekat dengan bau. Ternyata alasan dan ide untuk membuat karya Aroma Karsa benar-benar di dalami oleh mbak Dee Lestari. Dalam penuturannya mbak Dee mengatakan jika hidung sebagai indra yang mencium aroma, menjadi bagian pertama dalam pertumbuhan janin. Menurut saya ini pemikiran ide yang luar biasa. Dee Lestari mampu mengolah penalaran aroma dalam kisah Aroma Karsa. Aroma menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam hidup. Bahkan ketika kita makan atau minum maka aroma menjadi bagian pertama yang menentukan selera makan. Lewat aroma manusia juga bisa menentukan siapa dirinya dan bahkan cita-cita.

Proses Riset

Dalam kisah berbagi pengalaman dan tanya jawab lewat surel di blog-nya mbak Dee Lestari, beliau sering berpesan “jangan terjebak dengan proses riset saat akan menulis, sampai-sampai menghabiskan waktu hanya untuk riset tapi tidak segera mulai menulis”. Ketika membaca Aroma Karsa Part 1, saya sudah tertegun dengan proses aroma yang diceritakan dalam karakter Jati Wesi.

Pergerakan udara di sekitar mereka berdua mengantarkan bau amonia berbaur sampo aroma apel yang sudah dibiarkan semalam di rambut.

Bagaimana mungkin aroma bisa sekuat itu sampai-sampai tahu bahwa aroma itu sudah berumur satu malam. Kebanyakan kita, manusia biasa akan acuh dengan aroma ini. Perjalanan aroma ini membuat pembaca merasa sangat penasaran, bagaimana proses riset yang dilakukan oleh mbak Dee Lestari. Dalam acara kemarin, ada beberapa hal yang dibahas mengenai proses riset, diantaranya begini:

Riset memang bagian yang tidak bisa ditinggalkan oleh penulis, tapi itu juga bukan satu-satunya bagian utama. Ketika kita membaca Aroma Karsa maka aroma yang kuat memang harus dirasakan oleh penulis, dimana ini adalah posisi mbak Dee Lestari. Bukan main, ternyata mbak Dee Lestari ini benar-benar datang langsung ke pusat aroma yang digambarkan dalam Aroma Karsa. Melibatkan banyak tempat, banyak sumber, banyak ahli, perjuangan dan tentunya waktu. Beberapa bukti yang diungkap, seperti:

  • Kunjungan ke gunungan sampah di Bantar Gebang. Mbak Dee Lestari benar-benar mendaki sampai puncak tumpukan sampah di Bantar Gebang. Ditemani oleh pegawai, bertemu dengan orang-orang yang ada di situ. Menurut sumber – sumber yang menemani riset ini, saat proses riset mbak Dee Lestari tidak banyak bertanya, tidak banyak mengeluh dan hanya menjalani riset biasa. Mbak Dee juga melakukan banyak interaksi dengan penduduk yang ada dikawasan ini. Dalam ceritanya, proses ini memang berkaitan dengan kisah Jati Wesi dari Bantar Gebang.
  • Berkomunikasi dengan ahli. Seperti yang kita rasakan ketika membaca Aroma Karsa, maka ada banyak hal berat di dalamnya. Prasasti, sejarah, dunia balap, kehidupan keraton, Majapahit, anggrek, parfum, bahasa jawa kuno dan pegunungan Lawu. Untuk menghidupkan cerita dan menyeimbangkan dengan berbagai hal yang nyata, mbak Dee mendatangi berbagai sumbernya langsung. Berkomunikasi dan konsultasi dengan Arkeolog di Universitas Indonesia, bertemu dengan ahli bahasa jawa Kuno, bertemu dengan kolektor anggrek. Dalam satu ceritanya, mbak Dee mengatakan jika tujuan riset langsung ini untuk mencari apa-apa yang tidak sesuai. Padahal ini adalah novel fiksi, sehingga pembaca yakin bahwa mbak Dee benar-benar total saat melakukan riset langsung.
  • Mendaki gunung Lawu. Sebagai salah satu penduduk yang tinggal disekitar gunung Lawu, area ini memang sangat biasa untuk pendaki. Tapi bagi seseorang yang tidak ada minat menjadi pendaki atau suka mendaki pasti proses mendaki Gunung Lawu akan sangat sulit. Demi mendapatkan cerita dan menghidupkan kisah Jati Wesi, mbak Dee berkata kalau beliau benar-benar mendaki sampai puncak. Mbak Dee bertemu dengan juru kunci Gunung Lawu, melihat sejarah yang ada di gunung ini, dan berusaha memasukkan dalam cerita fiksi.
  • Bertemu Ananda Mikola untuk salah satu adegan. Dalam satu adegan pembaca juga akan menemukan adegan di sirkuit Sentul. Dan lagi-lagi kita akan bertemu aroma yang dibaui oleh Jati Wesi. Demi mendapatkan kedalaman adegan ini ternyata mbak Dee juga bertemu langsung dengan pembalap Andana Mikola. Ini bisa jadi salah satu bukti riset yang total dan hasilnya lebih dari yang diharapkan oleh penulis sendiri.
  • Mempelajari secara khusus aroma di Institut yang khusus untuk mendidik pembuat parfum. Dalam prosesnya mbak Dee benar-benar belajar tentang parfum, dimana beliau belajar di Singapura. Berhubungan dengan trainer pembuat parfum dari Prancis. Saya rasa inilah yang membuat cerita aroma parfum dalam Aroma Karsa menjadi tidak biasa. Pembaca akan dibuat untuk mencari batas, apakah aroma itu ada dan tidak.
  • Melibatkan Mustika Ratu. Kemara sebagai perusahaan yang dikendalikan oleh Raras Prayagung, ternyata dicontohkan oleh Mustika Ratu. Ingat ya, ini hanya bagian fiksi dan bukan berarti Mustika Ratu itu perusahaan Kemara. Dalam proses risetnya, mbak Dee benar-benar berhubungan dengan Mustika Ratu.

Aroma Karsa Menembus Batas Fiksi dan Non Fiksi

Sebagai pembaca Aroma Karsa, kemungkinan Anda juga akan merasakan efek yang sama seperti saya. Saat membaca saya sering bertanya pada orang-orang, apakah benar di Gunung Lawu seperti itu. Apakah kisah-kisah Majapahit dalam cerita Aroma Karsa ini benar, apakah prasasti Planggatan itu ada. Dan akhiarnya saya terjebak dengan banyak pertanyaan, karena itu. Aroma Karsa adalah karya Fiksi, bukan Non Fiksi. Dalam penjelasan mbak Dee, beliau mengatakan jika, banyak penulis yang bertanya mengapa Aroma Karsa dibuat seperti itu. Bukankah Aroma Karsa seharusnya karya fiksi yang dibuat dengan bebas, sesuai khayalan si penulis sebagai dalang cerita. Tapi ternyata tidak seperti itu.

Mbak Dee mengatakan jika Aroma Karsa diolah dari jahitan kisah-kisah nyata yang dibangun dalam fiksi.

Saya merasa puas dengan penjelasan ini. Nyatanya Aroma Karsa memang dirancang seperti itu. Pertanyaan nyata atau tidak dalam Aroma Karsa terjawab sudah. Sekarang pembaca akan menghargai, betapa rumitnya proses penulisan Aroma Karsa ini. Bagaimana mungkin karya fiksi ini terasa seperti nyata? Bagaimana mungkin pembaca dibuat bertanya-tanya kisah-kisah yang samar dalam Aroma Karsa. Akhirnya kita tahu, bahwa perasaan seperti ini juga dirasakan oleh para arkeolog, ahli yang terlihat dalam penelitian mbak Dee dalam Aroma Karsa. Secara pribadi, saya pikir mbak Dee sangat berhasil dalam tahap ini.

Digital dan Versi Cetak

Review Aroma Karsa Karya Dee Lestari Bagian 1
Versi Digital dan Versi Cetak

Aroma Karsa berbeda dengan karya-karya lain Dee Lestari. Pertama Aroma Karsa dikenalkan dalam versi Digital sebagai cerbung Digital yang dinaungi oleh Bookslife.co. Setiap penikmat penuh Aroma Karsa bisa menikmati cerbung versi digital ini setiap hari Senin dan Kamis, selama tiga bulan. Ini konsep yang sangat menarik, dan mbak Dee mengatakan bahwa versi digital dan versi cetak bukan pesaing, tapi posisi mereka sama.

Versi Digital memberikan efek seperti sinetron (menurut saya). Ketika setiap part berakhir, maka itu memberi efek penasaran yang luar biasa. Adegan yang terpotong seperti menggantung dan itu membuat pembaca tidak sabar menunggu cerita selanjutnya. Dalam penjelasannya, mbak Dee mengatakan jika versi digital lebih memberi keleluasaan untuk merevisi sampai final dan kemudian baru dikirim ke pembaca setiap Senin dan Kamis. Namun untuk versi cetak sudah di tetapkan 1,5 bulan sebelum terbit. Artinya untuk versi Cetak sudah tidak bisa direvisi lagi. Karena itulah versi digital, cetakan pertama dan cetakan kedua pasti pembaca akan menemukan perbedaan penyuntingan, meskipun bagian cerita tidak akan dirubah.

Pesan mbak Dee, pembaca tidak perlu merasa menyesal telah membaca versi digital, cetakan pertama atau cetakan kedua nanti. Semua memiliki eksistensi dan peran yang berbeda untuk hati pembaca. Yaa,,saya setuju dengan mbak Dee.

Kemerdekaan Dee Lestari

Review Aroma Karsa Karya Dee Lestari Bagian 1
Hayooo,,cari saya, nyempil dimana nie ya? hehhehe,,(22 April 2018)

Dalam penuturannya, mbak Dee Lestari merasakan bahwa Aroma Karsa telah membuatnya merasa merdeka. Merdeka bukan dalam artian yang sebenarnya. Tapi karya Aroma Karsa membuatnya bisa bekerja sepenuhnya, jiwa dan raga bahkan perasaan. Ini salah satu karya yang membuat mbak Dee merasa dewasa secara karya.

Sebagai pembaca, saya ikut merasakan efek ini. Ada banyak hal yang saya dapatkan ketika cerita berakhir. Saya menyimpan perasaan untuk tidak membahasnya dengan siapapun. Aroma Karsa benar-benar membuat penilaian saya tentang novel fiksi berubah. Ada batasan yang bisa dilanggar ketika menulis sebuah cerita fiksi. Dan itu tidak mengapa, ketika karya bisa menjadi luar biasa.

Jujur secara pribadi, saya berharap Aroma Karsa menjadi salah satu karya dari Indonesia yang akan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Aroma Karsa akan menjadi karya yang dibaca oleh penikmat fiksi dari luar Indonesia.

Semoga,,,dan akhirnya saya hanya bisa mengucapkan terima kasih untuk mbak Dee Lestari yang sudah bekerja keras menuliskan Aroma Karsa. Terlepas dari hal, apakah karya ini akan difilmkan seperti harapan penikmat penduduk digital tribe Aroma Karsa, atau apakah karya ini akan dibuat sekuel, saya serahkan kepada mbak Dee Lestari. Jika itu terjadi, saya harap itu tidak terjadi dengan cepat, agar pembaca yang belum menikmati Aroma Karsa masih bisa mendapatkan kesempatan membaca dan merasakan keaslian Aroma Karsa.

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan senang jika Anda berkunjung ke toko buku kami. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close