Women's Fiction

Pulau Sae Karya Mizuki Tsujimura : Ada yang Pergi, Ada yang Datang

Novel Pemenang Naoki Prize 2012

Shima Wa Bokura To – Pulau Sae Karya Mizuki Tsujimura :  Ada yang pergi, ada yang datang – Tinggal di Pulai Sae yang terpencil di tengah laut Seto, Jepang, setiap hari Akari, Kinuka, Genki dan Arata harus naik feri menuju daratan utama untuk bersekolah. Lahir dan besar di pulau itu, mereka akrab dengan penduduk desa, termasuk dengan para pendatang yang memulai hidup baru di Pulau Sae.

Akari, Kinuka, Genki dan Arata sangat mencintai Pulau Sae, tetapi menghabiskan sebagian waktu di daratan utama memberi mereka perspektif baru. Keempat remaja tersebut mulai mengamati dan menilai keputusan orang-orang yang datang untuk tinggal dan warga yang meninggalkan kenyamanan pulau.

Dan musim ini adalah tahun terakhir mereka bersama-sama, karena setelahnya, anak-anak pulau itu harus memutuskan ke mana mereka akan mengejar masa depan: pergi atau bertahan di Pulau Sae

Judul : Shima Wa Bokura To , Pulau Sae

Penulis : Mizuki Tsujimura (Pemenang Naoki Prize 2012)

Genre : Novel remaja (+15)

Alih Bahasa : Faira Ammadea

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun : 2017

ISBN : 978-602-03-6668-5

Harga : Rp. 89.000,-

“Ada yang pergi, ada yang datang. Ada pula yang meninggalkan sesuatu meski mereka sudah tidak ada di sana. Seperti itulah hari-hari yang dilalui di Pulau Sae.” – halaman 162

Jauh sebelum membaca novel ini saya membayangkan jika Pulau Sae ibarat seperti daerah-daerah yang jauh dari Jakarta. Lalu saya mengilustrasikan bahwa daratan utama itu seperti kota Jakarta. Akan banyak generasi muda yang merantau ke ibukota, untuk sekolah, untuk bekerja dan mencari pekerjaan yang lebih baik. Akhirnya kampung-kampung halaman menjadi sepi dan akan ramai lagi kalau musim mudik, yaitu saat lebaran Iedul Fitri. Tapi lupakan saja, karena itu hanya ilustrasi saya,,,sebelum benar-benar membaca kisah empat remaja di Pulau Sae yaitu, Akari, Kinuka, Genki dan Arata. Supaya teman-teman juga tidak terjebak dengan ilustrasi saya yang ngawur itu, mari kita bedah apa saja kisah dari Pulau Sae.

Setting Cerita

Setting cerita yang diambil dari novel ini adalah sama seperti judulnya. Pulau Sae, sebuah pulau kecil dan terpencil di tengah laut Seto. Saya membayangkan musim panas yang penuh terik matahari, wisatawan asing seperti di Pulau Bali atau Lombok, hotel-hotel, kehidupan yang menyenangkan untuk pendatang dan melepas stres. Memang seperti itulah Mizuki Tsujimura, menggambarkan pulau ini. Dalam berbagai ceritanya sering dideskripsikan dengan warna laut yang hijau, teluk yang diselimuti kabut menjelang musim semi, kapal feri yang membawa penumpang dari daratan utama ke Pulau Sae dan keindahan lain.

Cerita ini bahkan sudah dituliskan dalam paragraf pertama cerita:

Seperti biasa di musim panas, pelabuhan feri dihiasi warna perak yang menyilaukan mata. Butiran-butiran perak yang tak terhitung jumlahnya berkilauan di permukaan laut. Menjelang pukul 16.00, matahari yang sangat terik membakar permukaan aspal dan tidak menimbulkan bayangan. Biasanya bayangan akan muncul di ruang tunggu beratap rendah di sisi dermaga yang menjorok ke laut setelah pukul 16.30. Tingginya cahaya matahari menimbulkan kesan seolah bayangan atap bangunan itu tengah melarikan diri ke laut. – halaman 5

Menurut saya sendiri semua kalimat di bagian itu sudah membawa pembaca seperti apa keadaan Pulau Sae itu. Sebuah paragraf yang bisa mengajak pembaca untuk terus membuka halaman-halaman lain. Menikmati setiap kalimat dengan pelan karena bagaimanapun ini novel terjemahan dari Bahasa Jepang ke Bahasa Indonesia.

Karakter

Dalam blurb cerita sudah dikatakan bahwa ada empat karakter utama yang merupakan remaja Pulau Sae karya Mizuki Tsujimura. Dan empat karakter utama ini juga digambarkan dalam cover novel. Namun ketika kita masuk ke dalam cerita maka sebenarnya ada banyak karakter lain yang muncul. Semua karakter ini memiliki peran pada cerita. Ada karakter yang muncul sejak awal, menjadi teka teki dalam cerita, kemudian pada akhirnya terhubung dengan akhir cerita pulau Sae yaitu Haiji Kirisaki.

Kemudian juga ada karakter pelengkap dari empat tokoh remaja ini, yaitu keluarga mereka, seperti ayah, ibu, adik maupun kakek dan nenek. Yang menurut saya ini juga penting karena latar belakang mereka yang berada di sebuah Pulau.

Kemudian penulis juga dengan sangat baik memasukkan karakter yang membuat cerita ini memiliki inti konflik, seperti Yukiko, Yoshino, Motoki, juga kepala desa. Setiap karakter tambahan selain karakter utama dibuat memiliki peran dalam cerita. Menurut saya ini yang membedakan novel-novel karya penulis barat (baca dari Amerika, Inggris atau Australia – dalam novel keluarga) yang sering menambahkan karakter hanya untuk isi saja. Artinya karakter itu hanya digambarkan untuk cerita dan tidak memiliki peran sama sekali.

Jadi dari awal sampai akhir, pembaca akan menemukan banyak karakter yang terlibat dalam cerita.

Cerita

Cerita tinggal di Pulau Sae memang menarik tapi juga memiliki beberapa kelemahan. Cerita utama jelas sudah disebutkan dalam judulnya, Pulau Sae. Meskipun inti masalah dari cerita ini akan bertahan atau tetap tinggal di pulau, tidak tidak sesederhana itu. Kehidupan di Pulau Sae yang kecil dibagi menjadi dua kelompok, yaitu penduduk asli Pulau Sae dan para pendatang yang menetap dengan sebutan komunitas I-Turn.

Pulau Sae yang kecil menyimpan semua rahasia dan konflik-konflik antara masyarakat asli dan pendatang. Semua ingin berjalan selaras tapi tetap saja ada konflik yang tidak terduga. Komunitas I-Turn adalah orang-orang yang ingin melarikan diri dari kehidupan nyata, bosan dengan berbagai pertanyaan pribadi di tempat asal dan juga orang-orang yang ingin terlihat menghilang seperti di telan bumi. Dari semua konflik ini juga memunculkan dilema para tokoh utama yaitu sebutan “kampung halaman”.

Lalu juga ada hubungan antara penduduk asli Pulau Sae antara laki-laki dan laki-laki  yang mengikat tali sumpah “persaudaraan” dengan pertemuan darah dalam cawan. Semua memiliki tujuan untuk mengikat persaudaraan seumur hidup dan tinggal di Pulau. Tapi ikatan itu juga bisa dilakukan dengan komunitas I-Turn, ya meskipun kedengarannya memang janggal sih.

Plot dan Sudut Pandang

Plot cerita dalam Pulau Sae digambarkan dengan alur maju mundur dalam ikatan konflik yang muncul seperti teka-teki. Sejak awal ada konflik yang seperti tidak sabar untuk muncul dalam cerita yaitu pencarian Haiji Kirisaki untuk mencari naskah legendaris di Pulau Sae. Kedatangan Haiji Kirisaki semakin terasa untuk membuka rahasia para karakter di Pulau Sae. Ini bertahan sampai akhir cerita, tapi yang mengecewakan ada pada bagian tengah cerita.

Memasuki pertengahan cerita semua seperti hilang arah. Saya tidak yakin jika Mizuki Tsujimura, ingin menulis cerita ini. Saya berpikir apa mungkin penulis membuat seperti ini, atau sengaja seperti ini. Entahlah,, saya penasaran sampai ingin tanya langsung ke penulis.

Kemudian pada akhir cerita justru baru dibuat seolah-olah pembaca menemukan akan kemana masa depan tokoh utama, Akari, Kinuka, Genki dan Arata. Semua ada jawabannya di bagian akhir, tapi buat saya sendiri semua alur ini kurang memuaskan. Ya, mungkin saja memang kurang tepat juga jika diceritakan sejak awal. Karena pembaca pasti tidak akan melanjutkan ke halaman lainnya.

Gaya Penulisan dan Terjemahan

Saya yakin memang tidak mudah untuk menterjemahkan karya bahasa Jepang ke bahasa Indonesia. Ini juga yang membuat saya merasa ragu akan mengambil novel ini atau tidak. Saya takut gaya penulisan aslinya tidak bisa dirasakan oleh pembaca, karena hasil terjemahan yang kurang relevan. Tapi ternyata semua itu diluar dugaan saya.

Alih bahasa novel ini dikerjakan oleh Faira Ammadea, yang menurut saya ini pekerjaan yang benar-benar baik. Karena kebetulan saya pernah mempelajari bahasa Jepang jadi semua hasilnya sangat memuaskan pembaca. Setiap pemilihan kata dan kesinambungan kalimat juga tidak aneh. Bahkan ini sangat berbeda dengan novel-novel terjemahan lain.

Untuk gaya penulisan sendiri, memang sangat menarik. Deskripsi cerita yang lengkap dan sangat detail membuat pembaca bisa membayangkan kehidupan di Pulau Sae. Hal-hal mengejutkan dalam beberapa cerita juga dibuat tidak berlebihan, hingga tidak membosankan.

Pelajaran Moral dari Cerita Pulau Sae

“Selain itu kami juga menggarap tempat-tempat wisata: bisa dengan membantu menimbulkan ketertarikan masyarakat pada daerah yang relatif tidak populer atau tidak memiliki produk khas. Bagi orang luar sepertiku, sesuatu yang dianggap biasa-biasa saja oleh orang lokal bisa saja dijadikan atraksi pariwisata yang hebat, misalnya kelezatan ikan dan buah kesemek lokal. Semua itu dianggap sesuatu yang wajar oleh mereka, tetapi bagi kami itu bisa menjadi alasan untuk menempuh jarak ratusan kilometer hanya untuk mendapatkannya.” – dialog Yoshino di halaman 106-107.

Inilah yang maksud dengan adanya karakter yang dibuat untuk memiliki peran khusus di Pulau Sae. Jika diterjemahkan dengan kondisi Indonesia, tips itu bisa membuat semua daerah terpencil di Indonesia bisa maju. Ya, karena sekarang juga semakin banyak traveller lokal yang menjejaki pulau-pulau terpencil di Indonesia. Bayangan saya adalah ada lebih dari 10 juta orang seperti Yoshino untuk Indonesia – ah seandainya…

“Karena ruang halaman yang terbatas, mereka harus menulis melewati garis pembatas hitam hingga tulisan mereka tidak terbaca. ‘Aku ingin buku itu dalam format buku harian’, kata klienku. Alasannya supaya para ibu bisa menyerahkan buku yang sudah penuh itu pada anak-anak mereka yang akan meninggalkan pulau demi melanjutkan sekolah.” – dialog Shiina halaman 121.

Saya jadi sadar jika penulis sudah membuat ibu-ibu di Pulau Sae itu selalu siap untuk berpisah dengan anak mereka ketika mereka sudah lulus SMU. Anak-anak akan menyiapkan ujian masuk perguruan tinggi saat tahun terakhir SMU kemudian keluar dari Pulau Sae. Menurut saya mungkin ini pengorbanan yang paling besar sebagai penduduk pulau. Akan bertahan atau pergi dari pulau demi masa depan…setelahnya anak sendiri yang memutuskan akan kembali atau benar-benar meninggalkan pulau.

“Manusia tidak hanya mendompleng ketenaran, tapi juga mencari arti dalam berbagai hal demi menciptakan kisahnya.” – halaman 132.

Sebuah kalimat yang tidak pendek dan tidak panjang tapi artinya sangat dalam. Banyak manusia yang memiliki karakter seperti ini dan kita tidak pernah tahu mereka akan berbuat apa. Menurut saya bagian yang penting dalam kehidupan adalah jujur, jujur pada diri sendiri dan pada orang lain.

“Begitu melihat dia menangis sambil mengucapkan kata itu, aku langsung berpikir ingin menemaninya. Setelah itu, tak pernah terpikir lagi olehku untuk meninggalkan pulau. Dialah alasanku masih tinggal disini…Di antara ayah dan ibu, aku tidak memiliki ayah.” – dialog Genki halaman 158.

Saya menemukan satu kekurangan dari novel ini tapi saya menemukan banyak kelebihan lainnya. Tokoh Genki yang menjadi tokoh utama sebenarnya memang bukan penduduk asli Pulau Sae. Ia adalah keluarga pendatang dan ternyata Genki bahkan sudah memilih untuk tinggal di Pulau Sae sejak masih kecil ketika ayah dan ibunya harus berpisah karena bercerai. Menurut saya sih, ini pilihan cerdas yang dibentuk penulis untuk satu karakter utamanya. Cerita yang membuat ini drama dalam novel ini hidup.

Profil Penulis Mizuki Tsujimura

Pulau Sae Karya Mizuki Tsujimura Mizuki Tsujimura adalah novelis Jepang yang lahir pada 29 Februari 1980. Ia telah menyukai membaca sejak sekolah dasar dan kemudian tertarik dalam dunia kepenulisan sejak sekolah menengah. Novel sastra pertamanya yang berjudul Tsumetai kosha no toki wa tomaru (冷たい校舎の時は止まる), telah memenangkan penghargaan Mephisto Prize pada tahun 2004. Kemudian pada tahun 2010 novelnya yang berjudul  Kagi no nai Yume wo Miru (鍵のない夢を見る) atau I Saw a Dream Without a Key telah memenangkan penghargaan Naoki Prize pada tahun 2012. Baru-baru ini novelnya yang berjudul The Solitary Castle in the Mirror telah memenangkan Japanese Booksellers Award 2018, yang baru saja diumumkan pada 10 April 2018.

Berbagai karya novelis lulusan Universitas Chiba ini juga telah diadaptasi dalam bentuk film dan drama, seperti:

  • Taiyou no Suwaru Bashiyo (2014) yang terbit pada 15 Desember 2008 dan Until The Break Of Dawn (2012) yang terbit pada Oktober 2010 telah diadaptasi menjadi film.
  • Honjitsu wa Taian Nari atau Today is the Best Day terbit 25 Februari 2011, menjadi drama seri di NHK TV tahun 2012.
  • Kagi no nai Yume wo Miru terbit 16 Mei 2012, menjadi drama seri tahun 2013.
  • Comes Morning (Asa ga Kuru) terbit 15 Juni 2015, menjadi drama seri di Fuji TV pada tahun 2016.

Dan tentu saja banyak penggemar novel Pulau Sae karya Mizuki Tsujimura yang mengharap, kelak cerita ini diadaptasi menjadi drama. Semoga…

Pulau Sae Karya Mizuki Tsujimura

Karakter
Plot
Cerita

Saya menemukan satu kekurangan dari novel ini tapi saya menemukan banyak kelebihan lainnya. Dari sudut pandang mana saja cerita dalam novel ini menyentuh dan memaksa mata kita terbuka lebar, terutama karena Indonesia juga negara Kepulauan.

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan senang jika Anda berkunjung ke toko buku kami. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close