Teens & YA

Sea Prayer Karya Khaled Hosseini – Royalti untuk Bantuan Pengungsi Terdampak Perang

Undangan Terbuka untuk Berpartisipasi

Tahun 2015


Sea Prayer Karya Khaled Hosseini – Royalti untuk Bantuan Pengungsi Terdampak Perang – Saat itu Uni Eropa mengambil sikap tegas untuk menerima imigran atau tidak? Banjir imigran, krisis imigran, kekhawatiran tentang wabah penyakit dan ancaman kemiskinan. Tidak ada kesepakatan yang jelas dengan pemerintah dan terlalu banyak pembicaraan internasional. Sementara relawan dari warga negara Uni Eropa yang bersimpati terus bergerak. Mereka tidak selalu khawatir dan menyambut setiap imigran yang sampai ke sudut-sudut negara Uni Eropa.

Gambaran ini nyata saya dengar dari teman satu pesawat ketika perjalanan ke Abu Dhabi. Ibu ( yang saya lupa namanya) adalah WNI dari Bogor yang tinggal di Jerman, karena menikah dengan suaminya yang berasal dari Jerman. Masih teringat jelas bagaimana beliau bercerita. Tentang banyaknya pengungsi, bagaimana warga di komplek tempat tinggalnya berusaha membantu pengungsi. Itu nyata dan benar-benar terjadi. Gambaran dan perasaan saya saat itu, hampir sama dengan cerita – cerita dari buku yang mengkisahkan tentang perjuangan seorang imigran dengan keluarganya.

 

2 September 2015


Hari itu menjadi hari paling mengerikan dan mengusik perasaan. Sebuah berita dari layar televisi berwarna membuat mata saya terbelalak. Ngeri, menyedihkan dan merasa tidak berguna. Seorang bocah laki-laki ditemukan tengkurap, tergulung ombak di pantai yang dekat dengan kawasan paling modis, resort Bodrum, Turki.

Hari Rabu pagi itu menjadi bagian yang sangat menyedihkan. Seorang anak telah kehilangan nyawanya, melarikan diri dari perang, pergi dari rumah yang begitu indah dan penuh kasih sayang. Apa yang Ia dapatkan? Allah telah mengambil nyawanya di tengah laut ketika Ia berjuang untuk pergi dari situasi yang kacau karena perang.

Ya, Alan Kurdi saat itu masih memakai dua sepatu hitam yang masih lengkap, celana pendek biru dan kaos merah. Tidak ada yang bisa membuatnya mencapai impian untuk keluar dari wilayah perang, dimana itu terjadi di kota kelahirannya. Seorang polisi Turki dengan wajah sendu mengambil jasadnya dengan perasaan yang kita tidak pernah tahu.

Dunia terguncang dan virus hastag  #KiyiyaVuranInsanlik yang berarti “manusia terdampar di pantai” telah menjadi viral. Saat itu setidaknya yang bisa kita lakukan untuk menggugah hati nurani PBB dan dewan-dewan yang berkepentingan pada kondisi krisis pengungsi di wilayah Uni Eropa.

Alan Kurdi menjadi salah satu dari 12 warga Suriah yang ditemukan tenggelam dalam perjalanan ke pulau Kos di Kosovo. Ia berjuang bersama dengan saudara laki-lakinya dari kota Kobani, Suriah Utara. Sayangnya saudara Alan Kurdi juga meninggal tenggelam dalam peristiwa itu. Takdir bahwa keluarga Alan Kurdi dan orang-orang yang berusaha keluar dari kota Kobani, sama sekali tidak bisa dilawan.  Kota itu menjadi tempat pertempuran antara gerilyawan negara Islam dan pasukan Kurdi.

Perang telah menyakiti semua orang. Tidak terhitung berapa ribu orang yang tenggelam dan bertekat untuk mencapai Pulau Kos. Kehidupan yang lebih baik, keselamatan yang lebih terjamin, kebersamaan dengan keluarga, pertanian, ekonomi dan semua hal ingin mereka dapatkan. Sama seperti kita yang bisa minum kopi, teh, makan roti, sayuran, ikan dan aneka makanan lainnya serta nikmat lainnya yang tidak terhitung.

Saudara kita di Suriah, Afganistan, Irak, Somalia dan negara-negara konflik lainnya tidak ingin menjadi penjajah. Mereka ingin mencari kehidupan yang lebih baik dan tidak ada perang. Bukankah nikmat itu sangat luar biasa.

 

Sea Prayer Oleh Khaled Hosseini


Khaled Hosseini yang sudah mengeluarkan karya-karya epik seperti The Kite Runner, A Thousand Splendid Suns, dan The Mountains Echoed, menjadi sangat sensitif dengan kematian menyedihkan anak yang bernama Alan Kurdi. Tanggal 2 September 2015 telah membuat hatinya hancur dan merasa sangat sedih. Kematian Alan Kurdi menggerakkan nurani Khaled Hosseini untuk berbuat lebih banyak, daripada hanya sekedar memiliki peran penting sebagai Duta Besar Kehormatan UNHCR sejak tahun 2006.

Karya-nya yang berjudul Sea Prayer ini terinspirasi oleh perjuangan Alan Kurdi. Itu adalah perjuangan antara seorang ayah dan anak yang ingin keluar dari wilayah perang. Bagian sinopsis Sea Prayer sudah menyentuh hati kita dan membuat kita benar-benar kembali ketika berita-berita tentang Alan Kurdi muncul di berbagai chanel televisi.

“My dear Marwan, I look at your profile in the glow of this moon, my boy, your eyelashes like calligraphy, closed in guileless sleep. And I say to you, `Hold my hand. Nothing bad will happen.’

On a moonlit beach a father speaks to his sleeping son of his childhood days, recalling his grandfather’s house outside Homs in Syria, the stirring of olive trees in the breeze, the bleating of his grandmother’s goat. And he remembers Homs as it was before the skies spat bombs, the bustling city with its crowded lanes, its mosque and grand souk.

When dawn breaks they and those around them will embark on a perilous sea journey in search of a new home”

Tidak seperti karya-karya lain dari Khaled Hosseini, karena Sea Prayer termasuk karya pendek. Disusun dalam 48 halaman dengan cover Hardback, berisi cerita-cerita dengan alur bahasa yang sangat kuat, dilengkapi dengan ilustrasi yang membuat cerita sangat hidup oleh seorang artis seni dari London, Dan Williams.

Karya ini menjadi sangat sensitif dengan konsep surat-surat dari seorang ayah untuk anak lelakinya, dalam sebuah perjalanan malam yang sangat panjang. Perjalanan malam panjang dengan kapal di tengah lautan menjadi tidak mengerikan, ketika ayah mengawasi dan merawat anak yang sedang tidur. Juga ketika  bagaimana mereka harus meninggalkan kota Homs, Suriah. Kehidupan yang sangat indah, pertanian, ternak kambing nenek dan kota yang dingin tapi hangat ketika terkena sinar matahari.

Itu sebuah proses transformasi yang cepat ketika tempat tinggal mereka, tiba-tiba menjadi tempat perang. Bom dimana-mana, teman-teman yang meninggal di depan mata, kehilangan keluarga dan kesakitan.

Ini bukan cerita biasa sebab Khaled Hosseini, mempersembahkan ini semua untuk mereka yang menjadi korban. Persembahan ini khusus untuk warga imigran yang terpaksa keluar dari kota mereka yang indah, dipaksa keluar dengan kapal yang terombang-ambing tanpa nasib selamat atau tidak.

Khaled Hosseini akan menyumbangkan setiap lembar keuntungan dari penjualan buku ini untuk UNHCR dalam rangka menyelamatkan hidup pengungsi yang ada di seluruh dunia. Khaled Hosseini juga akan menyalurkan setiap royalti dari penjualan buku ini di seluruh dunia lewat Yayasan Khaled Hosseini untuk memberi jaminan kesehatan, dan bantuan kebutuhan hidup untuk semua pengungsi di seluruh dunia yang terimbas perang di seluruh dunia.

Khaled Hosseini dan Guardian juga telah merilis sebuah video yang berjudul : Sea Prayer A 360. Anda bisa menonton video ini dari YouTube dan silahkan menguatkan hati untuk menelisik kisah dalam Sea Prayer. Ditulis dengan sangat indah tapi juga menyakitkan oleh Khaled Hosseini.

 

Tentang Khaled Hosseini


Khaled Hosseini lahir di Kabul, Afghanistan yang kemudian mencari suaka ke Amerika Serikat pada tahun 1980. Novel pertamanya yang berjudul The Kite Runner telah menjadi buku terlaris di dunia dan diterbitkan di 38 negara. Sejak tahun 2006, Khaled Hosseini telah ditunjuk sebagai Duta Besar Kehormatan UNHCR  untuk bidang Godwill. Dan sekarang lebih banyak tinggal di California Utara.

Komitmennya sebagai Duta Besar UNHCR, PBB membuat Ia bekerja keras untuk menghormati dan memberikan bantuan bagi warga negara di wilayah konflik yang harus keluar negara dan menjadi pengungsi. Mengapa Ia begitu perduli dengan urusan ini? Dirinya pernah merasakan sebagai pengungsi. Sehingga semua peristiwa itu sangat tidak mudah. Khaled juga telah melakukan berbagai pekerjaan kemanusiaan dan kunjungan ke berbagai negara yang terkena musibah seperti Afghanistan, Chad, Irak, Yordania dan Uganda.

 

Undangan Terbuka Untuk Pecinta Literasi


kertasbuku.com  sepenuhnya mendukung misi sosial Khaled Hosseini dalam buku Sea Prayer. Dengan ini kertasbuku.com menawarkan kepada semua pihak dan perorangan yang ingin ikut andil dalam membantu pengungsi di seluruh dunia untuk mengatasi rasa sulit yang sudah dilewati, agar tidak terjadi lagi kasus Alan Kurdi lain. Kami akan memfasilitas pembelian Sea Prayer secara Pre Order, tanpa mengambil keuntungan sedikitpun. Berikut keterangan detail buku

Judul     : Sea Prayer

Penulis  : Khaled Hosseini

Tanggal : 30 Aug 2018

Bahasa  : Inggris

Format    : Hardback

Hal          : 48 halaman

Penerbit : Bloomsbury Publishing PLC

ISBN10  : 1526602717

ISBN13  : 9781526602718

Harga    : Rp. 226.300,- (ini harga pre-order yang bisa berubah-ubah sewaktu-waktu sesuai dengan informasi dari pihak seller dan penerbit) (Harga juga bisa berubah sesuai dengan negosiasi kami dengan pihak seller dan penerbit)

Ongkir   : Silahkan menambahkan ongkos kirim Rp.17.000 (jika sisa akan dikirimkan lagi oleh kertasbuku.com, jika kurang akan kami tanggung)

Jika Anda berminat membeli buku ini dan ikut berpatisipasi untuk bantuan UNHCR bagi dana pengungsi, silahkan menghubungi Nana lewat WA di : 0821-3889-3127.

Kami tegaskan lagi, bahwa ini adalah salah satu program dukungan untuk penulis Khaled Hosseini, dimana semua royalti penjualan buku ini akan disumbangkan melalui UNHCR dan Yayasan Khaled Hosseini bagi pengungsi di seluruh dunia akibat kekejaman perang. kertasbuku.com akan memfasilitasi progam-progam amal seperti ini dan tidak mengambil keuntungan sedikitpun. Ini juga salah satu misi kami terlepas dari penjualan buku secara komersial dari toko kami. Terima Kasih

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan senang jika Anda berkunjung ke toko buku kami. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close