Teens & YA

Cerita Vitiligo Dan Konflik Lain Dalam The World’s Best Boyfriend Karya Durjoy Datta

The World's Best Boyfriend By Durjoy Datta

Cerita Vitiligo Dan Konflik Lain Dalam The World’s Best Boyfriend Karya Durjoy Datta – Akhirnya novel penulis berbakat dan sangat terkenal Durjoy Datta yang berjudul “The World’s Best Boyfriend”sudah bisa Anda dapatkan di toko buku langganan Anda. Perlu diketahui bahwa Durjoy Datta adalah salah satu penulis yang terkenal dengan alur, konteks bahasa dan plot yang bisa membuat pembaca marah, sedih atau menangis. Ini adalah novel ke sebelas Datta yang memang sudah diterbitkan sejak tahun 2015.

Kita harus mengakui bahwa beberapa novel sebelumnya memang selalu “mengoyak” pasar dan membuat dunia mengakui, bahwa Datta memang novelis yang cerdas. Oke, mari kita tinggalkan sejenak Datta dan siapkah Anda mengupas The World’s Best Boyfriend?

Tentang “The World’s Best Boyfriend”

Buku  ini termasuk dalam genre Romance yang sangat layak untuk usia dewasa ( atau remaja) dan diterbitkan oleh Penerbit Haru. Novel terjemahan bahasa Inggris ini memiliki tebal 388 halaman, jadi lebih banyak 100 halaman dari versi aslinya dalam bahasa Inggris. Novel yang terbit di bulan Januari 2018 ini mendapatkan poin 3.23 dari 1885 pembaca dan 156 pemberi review di Goodreads. Baiklah, jika dilihat sekilas memang judul ini tidak bisa mencapai poin 4 lebih tapi Anda tidak boleh kecewa dulu. Sebelumnya Anda juga bisa menyimak sinopsisnya, dibawah ini.

Kata orang cinta dan benci itu beda tipis. Dan terkadang, kita tidak bisa membedakannya.

Dhruv adalah berandalan tampan yang populer.

Aranya adalah gadis genius dengan penyakit memalukan.

Mereka pernah saling jatuh cinta, tapi suatu insiden membuat keduanya menjadi musuh bebuyutan dan melupakan satu sama lain.

Hingga akhirnya mereka bertemu kembali. Kali ini, mereka menghabiskan sebagian besar waktu dengan saling membenci dan mencoba menghancurkan satu sama lain.

Namun, entah kenapa mereka justru tidak dapat saling menjauhkan diri.

Inti Cerita

Dua karakter utama dalam cerita ini bernama Aranya dan Dhruv. Aranya terlahir dengan kondisi sakit  vitilio (saya akan jelaskan dibawah). Penyakit ini yang membuat orang tuanya sama sekali tidak menyukai Aranya. Aranya memiliki kakak yang dianggap orang tuanya lebih unggul meskipun ketika Aranya bisa memiliki nilai terbaik saat sekolah. Dhruv adalah karakter laki-laki yang merasakan tekanan mental karena orang tuanya bercerai. Masalah ini yang membuat Dhruv selalu emosi dan sangat kasar. Saat di sekolah kedua karakter ini diceritakan saling jatuh cinta.

Lalu karena ketahuan mereka akhirnya berpisah dan kembali bertemu lagi setelah beberapa tahun. Mereka tidak lagi saling mencintai tapi berusaha untuk saling membenci dan merusak alur yang damai. Tapi perlu ditebak lagi dari sinopsis bahwa  “Kata orang cinta dan benci itu beda tipis. Dan terkadang, kita tidak bisa membedakannya”. Akhirnya kebencian itulah yang akan membuat Aranya dan Dhruv berpikir jika kebencian hanya ada ketika kita menganggap orang itu memang penting untuk hidup Anda.

*Vitiligo : Penyakit ini akan membuat warna kulit asli hilang dan muncul menjadi bercak-bercak putih. Bercak putih bisa mengenai  bagian wajah dan semua bagian tubuh bahkan bisa mencapai bagian rambut dan dalam mulut. Penyakit terjadi ketika sel-sel tubuh yang memproduksi melanin tidak bisa berfungsi lagi. Penyakit ini tidak bisa menular atau meningkatkan resiko kematian karena penyakit, tapi sering membuat pencerita stres dan tidak nyaman. Obat untuk mengembalikan warna kulit sudah ada tapi tidak bisa mencegah penyebaran bercak putih yang terus meluas ke area sekitar lainnya –  “bayangkan, inilah yang diderita oleh Aranya”.

Cerita Sederhana Tapi Penuh Arti

Durjoy Datta membuat cerita ini berangkat dari sebuah kisah yang sederhana. Tapi itu bukan ukuran yang sederhana saat sudah melibatkan penilaian masyarakat ketika melihat orang lain menjadi berbeda. Hal ini digambarkan oleh karakter Aranya. Bagaimanapun vitiligo sering membuat orang memandang aneh dan jijik, terlebih jika orang lain tidak tahu tentang penyakit ini atau menganggap penyakit ini menular.

Alur Cerita

Alur cerita memang cukup sederhana namun sama sekali tidak kehilangan tujuan. Datta menulis seperti ingin membuat pembaca tertawa dengan beberapa bagian yang cukup lucu, menangis saat itu masuk ke bagian yang tidak kita bayangkan sebelumnya dan bahkan marah karena ada hal yang bisa membuat pembaca kecewa. Di beberapa plot mungkin juga membuat pembaca bingung karena itu terlihat tidak masuk akal. Ini bisa ditemukan pada bagian adik laki-laki Aranya atau pada Aranya ketika melakukan chatting dengan Skype. Saya yakin pembaca harus menemukan sendiri bagian ini sehingga tidak mungkin bisa diceritakan disini.

Pesan Penting

  • Melihat cerita Dhruv selalu mengingatkan kisah anak yang menjadi korban perpisahan orang tua. Dhruv benar-benar mengalami masalah mental yang serius yang berawal dari trauma. Di beberapa bagian ditunjukkan jika Dhruv sama sekali tidak mau bertemu dengan orang lain hanya karena takut saat mereka bertanya, “mengapa orang tuamu berpisah”. Berkali-kali menemukan cerita ini dalam novel memang sangat menyakitkan dan selalu berharap tidak pernah ada lagi anak-anak dengan posisi yang sama seperti Dhruv.
  • Warna kulit yang berbeda seperti hitam, putih atau bahkan bercak vitiligo seharusnya tidak pernah membedakan siapapun. Anda harus bangga dengan warna kulit Anda tanpa berusaha untuk menyakiti yang lain. Salut dengan perjuangan Aranya yang menghadapi vitiligo dalam kisah ini.
  • Orang tua, guru dan siapa saja yang lebih tua tidak perlu memperlakukan anak atau orang lain karena penyakit, cacat atau kelainan apapun. Anak-anak seperti ini hanya membutuhkan cinta yang ditunjukkan dengan perbuatan. (red- jujur saya pernah melihat adegan yang sangat mengharukan, ketika orang tua mengurus anak yang difabel untuk makan bersama di sebuah restoran. Orang tuanya rela makanan menjadi dingin dan lembek, untuk menyuapi anaknya – ) beginilah seharusnya orang tua, guru dan siapapun yang lebih dewasa.
  • Persahabatan antara Dhruv dan Sanchit menjadi salah satu bagian yang menghidupkan cerita ini. Jadi kisah persahabatan ini benar-benar bisa menghidupkan suasana novel yang terkadang membuat pembaca sedih pada beberapa bagian.
  • Komunikasi antara Dhruv dan ayahnya menegaskan pesan bahwa interaksi antara orang tua dan anak sama sekali tidak boleh hilang, ya meskipun orang tua memiliki kisah buruk karena perpisahan. Jadi anak tidak berhak dan tidak boleh menjadi korban karena masalah orang tua saja.
  • Memberi maaf benar-benar akan merubah sikap dan apa yang terjadi besok. Anda tidak boleh menunjukkan rasa benci atau bahkan balas dendam hanya karena tidak suka, marah dan sangat emosi. Tapi maaf benar-benar akan membawa Anda ke pengalaman hidup yang bermakna.

Pembaca Mungkin Merasakan…

  • Pernahkah Anda membaca cerita tapi Anda harus membenci karakter utama dalam cerita itu? Mungkin ini salah satu judul yang bisa membuat Anda bisa merasa seperti itu. Kadar kebencian atau ketidaksukaan Anda harus diukur sejak awal sehingga Anda bisa menerima akhir cerita sampai halaman terakhir.
  • Ada beberapa bagian alur terutama pada saat menjelang akhir cerita dimana mungkin Anda bisa merasa “mengapa seperti ini?”. Sepertinya Datta sengaja membuat kita tidak merasa nyaman atau enak dengan salah satu karakter (maaf saya tidak bisa menulis apa yang terjadi).
  • Anda bisa tetap menerima akhir cerita atau bahkan ingin merubah akhirnya. Pilihan ini harus Anda simpulkan sejak awal mulai membaca tapi jangan terlalu terikat dengan apa yang Anda inginkan. Karena itulah Datta membuat cerita novel ini benar-benar menarik untuk diikuti sampai akhir cerita.

Untuk Pembaca

Seperti ketika Anda membaca novel maka itu bisa melibatkan karakter, alur dan beberapa hal tambahan yang sengaja dibuat oleh penulis. Bagaimanapun membaca “The World’s Best Boyfriend” seperti menikmati jalan cerita yang terkadang sedih, lucu, penuh drama dan hal yang tidak menyenangkan atau yang diharapkan. Sebaiknya Anda juga tidak menyimpulkan apapun dari satu sisi sampai selesai membaca cerita ini

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan senang jika Anda berkunjung ke toko buku kami. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close