Non Fiksi

Review EDUCATED Karya Tara Westover : Keluarganya Kejam Tanpa Pendidikan Layak , Tapi Ia Bisa Mencapai Ph.D

Review EDUCATED Karya Tara Westover : Keluarga Kejam Tanpa Pendidikan Layak , Tapi Ia Bisa Mencapai PhD – Pertama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada penerbit Educated, yaitu Random House, Inggris. Ini adalah kisah memoar yang ditulis oleh Tara Westover dengan narasi yang indah, menggetarkan menyiksa dan merusak hati. Ketika pertama kali mendapatkan tawaran untuk membaca ini, terus terang saya hanya membaca sekilas dan sempat mundur beberapa kali. Tapi mengapa tidak, karena saya ingin menyampaikan pesan dari memoar ini kepada Anda semua.

Sinopsis


Tara Westover grew up preparing for the End of Days, watching for the sun to darken, for the moon to drip as if with blood. She spent her summers bottling peaches and her winters rotating emergency supplies, hoping that when the World of Men failed, her family would continue on, unaffected.

She hadn’t been registered for a birth certificate. She had no school records because she’d never set foot in a classroom, and no medical records because her father didn’t believe in doctors or hospitals. According to the state and federal government, she didn’t exist.

As she grew older, her father became more radical, and her brother, more violent. At sixteen TAra decided to educate herself. Her struggle for knowledge would take her far from her Idaho mountains, over oceans and across continents, to Harvard and to Cambridge. Only then would she wonder if she’d travelled too far. If there was still a way home.

EDUCATED is an account of the struggle for self-invention. It is a tale of fierce family loyalty, and of the grief that comes with the severing of the closest of ties. With the acute insight that distinguishes all great writers, Westover has crafted, from her singular experience, a universal coming-of-age story, one that gets to the heart of what an education is and what it offers – the perspective to see one’s life through new eyes, and the will to change it.

Review


Sejak halaman pertama buku ini sulit untuk dibaca meskipun Anda tetap akan mengerti maksudnya. Tapi kekejaman yang menjadi poin utama buku ini benar-benar menyayat hati. Karena kisah ini akhirnya membuat dunia membuka mata. Kekejaman yang diceritakan dalam kisah ini juga sedikit tidak layak di lukiskan dengan narasi yang indah. Tapi itulah cara Tara Westover menggambarkan sebuah non fiksi yang membuat kita terpikat sampai akhir halaman.

Secara jujur dan terang-terangan Tara Westover menceritakan dengan lengkap dan gamblang. Ia dibesarkan oleh ayah yang kejam, yang dikenal dengan manusia anti pemerintahan federal atau Mormon. Rumah keluarga itu terletak di sebuah kawasan terpencil di pegunungan Idaho. Karena sikap ayahnya yang tidak percaya dengan pemerintah, maka sejak lahir Tara tidak memiliki akta kelahiran. Tidak berhenti di situ, karena ayahnya menganggap bahwa pendidikan di rumah lebih baik daripada pendidikan umum milik pemerintah. Tara Westover sama sekali tidak menerima pendidikan, dan satu-satunya buku yang dipelajarinya adalah kitab suci. Namun sejak Tara berusia tujuhbelas tahun semua takdir pendidikannya berubah. Ia bisa mencapai MPhil dan PhD dalam sejarah dari Universitas Cambridge. Prestasinya tumbuh seperti keinginannya hingga menjadi rekan tamu di Universitas Harvard.

Ayah dan Ibu Tara Westover

Saya ingin mengatakan jika kehidupan keluarga ini sangat buruk dan sama sekali tidak manusiawi – bolehkah saya katakan begitu? Tara Westover adalah anak terakhir dari tujuh bersaudara dan ayahnya menjadi orang yang paling dipatuhi. Dalam buku ini diceritakan ayah Tara bernama Gene, dimana ini bukan nama aslinya. Mereka tinggal dalam sebuah wilayah peternakan di bagian bawah pegunungan. Ayahnya memiliki temperamen yang sangat keras, pemarah dan penyiksa. Sementara ibunya yang benama Faye – ini juga nama samaran – menjadi bidan dan penyembuh, namun tanpa sekolah sama sekali.

Ibunya memiliki karakter yang bersimpati pada anak namun tidak berani melawan suaminya, sehingga sangat patuh pada ayah Tara. Ibunya menjadi penyembuh dengan menggunakan herbal-herbal dan getah tanaman di sekitar rumah mereka. Dan mereka percaya bahwa kegagalan pengobatan sudah menjadi takdir.

Ayah Tara sama sekali tidak mau berhubungan dengan dunia luar, dan itu juga diterapkan untuk semua keluarganya. Anak pertama keluarga ini sempat masuk sekolah, namun kemudian dihentikan oleh ayah Tara. Namun Tara juga menceritakan bahwa semua saudara-saudaranya menerima pendidikan di rumah. Jadi anak-anak keluarga ini hanya mengisi waktu dengan membantu orang tua agar keluarga ini tetap hidup secara ekonomi.

Tara menceritakan jika sejak ayahnya berusia 20 tahun, dimana ayahnya mulai menarik dari semua aktifitas yang berhubungan dengan pemerintah dan sosial. Kemudian kondisi itu lebih parah lagi ketika usia ayahnya masuk ke awal 30 tahunan. Dalam kondisi ini, ada beberapa kesimpulan bahwa Ayah Tara menderita gangguan bipolar parah.

Kekejaman, Penyiksaan dan Pelecehan

Beberapa hal diceritakan dalam memoar ini dengan cara yang sangat terbuka. Di beberapa bagian kita akan menemukan jari yang terpotong, jari yang hilang, luka bakar, ledakan bensin, luka kepala yang mengerikan dan semua luka yang sulit untuk diterima. Sekali lagi ayah Tara menghindari semua hubungan dengan dunia luar. Tidak ada obat medis, dokter, rumah sakit atau bidan untuk semua masalah luka itu. Hanya obat herbal dari ibu Tara. Ketika mereka mengalami kecelakaan, maka tetap tidak ada rumah sakit. Walaupun itu menyebabkan luka kepala yang parah dan mengerikan.

Berbagai penyiksaan diterima dengan sangat menyakitkan. Setiap kesalahan walau hanya sedikit akan menyebabkan pukulan. Bahkan pukulan dengan palu silinder pada perut adalah hal yang biasa dan siksaan yang paling rendah. Kehancurkan keluarga dimulai ketika salah satu kakak Tara Westover juga bersikap sangat kejam. Mulai menyiksa, melecehkan secara seksual dan berbagai sikap kejam lain. Dari peristiwa inilah yang membuat keluarga ini hancur.

Pendidikan Tara

Selama Tara membantu keluarganya, pikirannya melanglang jauh. Diantara kepingan – kepingan kekejaman dan siksaan, Tara mulai berpikir. Dia ingin menjadi berani untuk keluar dari wilayah ini. Namun di satu sisi yang lain Ia ingin menjadi anak yang setia, dan bagaimanapun Ia mencintai keluarganya.

Pertama kali dalam sejarah akhirnya Tara Westover berhasil mengikuti ujian ACT yang kemudian mendorongnya untuk masuk ke Brigham Young University. Saat itu ayahnya masih tidak mengakui apa yang dilakukan Tara. Justru ini membuat ayahnya bangga karena terbukti pendidikan di rumah sama baiknya atau bahkan lebih baik dari sekolah umum milik pemerintah. Lalu apa yang terjadi dengan Tara? Pertama kalinya saat memasuki universitas, Tara seperti anak yang berasal dari peradaban kuno. Ketika belajar sejarah bahkan Tara tidak tahu tentang Holocaust, dan memaksanya untuk bertanya pada orang lain dikelasnya.

Masa sulit dan paling buruk itu tidak membuat Tara menyerah. Bahkan Ia pernah mengalami fase yang paling buruk ketika masih tinggal dengan keluarganya. Tara tumbuh menjadi mahasiswa yang haus dengan sejarah, melahap semua materi pendidikan dan bertemu dengan beberapa profesor yang mendukungnya. Kemudian Tara juga berhasil masuk ke Universitas Cambridge untuk menghadiri beberapa kelas. Hingga akhirnya berhasil mendapatkan gelar MPhil.

Kehidupan berpihak pada Tara Westover. Ia mendapatkan beasiswa lain untuk pergi ke Universitas Harvard. Lalu setelah itu selesai Tara juga tetap kembali ke Cambidge untuk menyelesaikan studi Ph.D nya dalam sejarah. Entah bagaimana keberanian Tara Westover telah menembus batas-batas kekejaman dan siksaan yang mungkin masih di terima oleh penduduk di ngarai pegunungan Idaho. Saat mencapai semua fase itu, Tara selalu berpikir, bahwa Ia hanya anak muda yang pergi keluar rumah untuk bersekolah, meskipun dalam hatinya merasa terus memandang keluarganya.

Benang Merah


Tara Westover berjuang sejak kecil, berusaha mencari jati dirinya, siapa dirinya, dan mengapa Ia hidup dengan keluarga yang kejam. Tapi sekarang Ia adalah wanita berpendidikan, penulis, seorang sarjana, dan seorang wanita muda yang terlepas dari penderitaan lama. Kisah ini sangat menakjubkan, sekaligus membuat hati terluka. Anda mungkin akan merasa dihantui oleh bayang-bayang yang kejam tapi Anda tidak bisa meninggalkan buku ini hanya untuk sejenak.

Terima kasih kepada Tara Westover yang menuliskan memoar ini. Mungkin Anda terluka dan sedih tapi kekuatan Anda telah menyebar ke semua pembaca.

Judul     : Educated : A Memoir

Penulis : Tara Westover

Bahasa  : Inggris

Terbit    : 06 Mar 2018

Harga    : Rp 425.300 (Hardback),

Rp 325.500 (Paperback) (Silahkan kontak Nana jika berminat: WA : 0821-3889-3127)

Halaman: 352 halaman

ISBN      : 0399590501

Pesan Penulis


This story is not about Mormonism. Neither is it about any other form of religious belief. In it there are many types of people, some believers, some not; some kind, some not. The author disputes any correlation, positive or negative, between the two.

The following names, listed in alphabetical order, are pseudonyms: Aaron, Audrey, Benjamin, Emily, Erin, Faye, Gene, Vannessa, Judy, Peter, Sadie, Shannon, Shwan, Susan, Robert, Robin.

Mengenal Tara Westover

Review EDUCATED Karya Tara Westover Tara Westover was born in Idaho in 1986. She received her BA from Brigham Young University in 2008 and was subsequently awarded a Gates Cambridge Scholarship. She earned an M.phil from Trinity College, Cambridge, in 2009 and in 2010 was a visiting fellow at Harvard University. She returned to Cambridge, where she was awarded a Ph.D in history in 2014. Educated is her first book. (pict credit to : https://magazine.byu.edu)

Diskusi Educated (Terima Kasih untuk Jawaban Anda di Komentar)


  1. Bagaimana perasaan Anda setelah membaca review ini?
  2. Apakah dengan membaca review ini Anda bisa membayangkan menjadi Tara Westover?
  3. Apa yang Anda lakukan jika menjadi Tara Westover?
  4. Bagaimana pendapat Anda tentang pendidikan di negara kita Indonesia?
  5. Apakah Anda pernah berpikir, bahwa masih ada anak-anak di Indonesia yang tidak boleh sekolah seperti cerita Tara Westover?

Terima kasih sudah membaca review ini 🙂

Review Saya

Tara Westover berjuang sejak kecil, berusaha mencari jati dirinya, siapa dirinya, dan mengapa Ia hidup dengan keluarga yang kejam. Tapi sekarang Ia adalah wanita berpendidikan, penulis, seorang sarjana, dan seorang wanita muda yang terlepas dari penderitaan lama. Kisah ini sangat menakjubkan, sekaligus membuat hati terluka. Anda mungkin akan merasa dihantui oleh bayang-bayang yang kejam tapi Anda tidak bisa meninggalkan buku ini hanya untuk sejenak. Terima kasih kepada Tara Westover yang menuliskan memoar ini. Mungkin Anda terluka dan sedih tapi kekuatan Anda telah menyebar ke semua pembaca.

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan senang jika Anda berkunjung ke toko buku kami. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

3 thoughts on “Review EDUCATED Karya Tara Westover : Keluarganya Kejam Tanpa Pendidikan Layak , Tapi Ia Bisa Mencapai Ph.D”

  1. Review yang keren. Cerita yang luarbisa. Menjawab pertanyaan di atas
    1. Ingin memiliki buku ini setelah membaca review di sini.
    2. Ya, karena setiap kata akan menjelma jadi imajinasi nyata.
    3. Tidak membayangkan jika ini terjadi oda saya.
    4. Pendidikan di Indonesia msih belum jelas hasilnya akan menjadikan siswa seprti apa. Akhlakkah atau lainnya.
    5. Banyak anak-anak yang kurang beruntung di Indonesia, tidak sekolah, hidup dijalanan dan juga diperlakukan tidak layak.

  2. Semoga komentar saya gak telat. Pisss…

    menjawab beberapa pertanyaan di atas:
    1. Haru. juga merasa ajaib. Karena Tara yang selama belasan tahun hidupnya terisolasi, bisa menjadi sosok yang hebat.
    2. Bisa, tapi gak mau. Terlalu perih, dan saya rasa saya tidak sekuat itu untuk berusaha merasakan apa yang Tara rasakan. Membaca review ini saja sudah cukup menyakitkan.
    3. Entahlah. Membayangkannya saja sudah sangat menyakitkan dan mengerikan.
    4. Jujur, saya prihatin. Saya berharap ke depannya, pendidikan di Indonesia bisa jauh lebih baik dari sekarang. Bisa mencerdaskan bangsa tanpa terlalu menyulitkan.
    5. Mungkin saja. Tapi saya tidak tahu pasti, karena saya jarang sekali bepergian, apalagi untuk tujuan meneliti pendidikan di Indonesia.

    1. terima kasih Kak Reika Dj, diskusinya. Semoga semua WNI juga semakin perduli dengan tingkat pendidikan dan mental murid serta pendidik semakin baik. Ya, karena mendidik itu tidak mudah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close