Non Fiksi

Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan – Rusdi Mathari

Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan – Rusdi Mathari – Ketika konsentrasi kepemilikan media meningkat, senjakala media cetak hampir tiba, tsunami hoax dan berita palsu muncul, gejala ketidakpercayaan terhadap media arus utama membesar, jurnalisme sedang berada dalam episode-episode menegangkan. Di buku ini, Rusdi membaca situasi tersebut dan mengajukan berbagai refleksi serta kritik untuk dunia media dan jurnalisme yang ia geluti lebih dari 25 tahun.

Judul : Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan

Penulis : Rusdi Mathari

Genre : Non Fiksi 

Penerbit : Buku Mojok

Tahun : 15 Agt 2018

ISBN : 9786021318645

Harga : Rp. 78.000,-

Era kecepatan informasi membuat media saling berlomba untuk menyampaikan informasi secara cepat dan tepat. Wartawan menjadi salah satu pilar dalam peyebaran informasi tersebut.

Kebebasan informasi, kebebasan menyampaikan pendapat telah mendorong riuhnya penyebaran informasi dan berita, baik di media televisi, radio,media konvensional, blog dan internet. Wartawan arus media utama tak lagi menjadi satu-satunya orang yang bisa menyampaikan informasi, namun semua orang bisa ikut andil dalam penyebaran informasi secara cepat dengan mengunggah tulisan /opini dalam blog pribadi, stasus facebook, twitter dll.

Namun sering kali informasi yang diterima dan disebarkan tidak didasarkan pada pertimbangan jurnalistik yang benar, kaidah-kaidah tentang kode etik jurnalistik seolah terabaikan. Hingga terjadilah apa yang dinamakan dengan istilah “Tsunami Hoax” yaitu munculnya media-media palsu dan adanya gejala ketidak percayaan terhadap media arus utama yang semakin besar.

Rusdi Mathari atau yang biasa dipanggil Cak Rusdi salah satu orang yang telah lama berkecimpung dalam dunia jurnalistik, ia sebagai seorang wartawan banyak menulis dan menyoroti serta mengkritik tentang independensi media dan perkembanganya.

Buku “Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan” ini merupakan kumpulan dari beberapa tulisan Cak Rusdi yang dikumpulkan dari blog pribadinya, status facebook, dan bahan-bahan dalam pelatihan jurnalistik yang ia gunakan. Buku ini menjadi warna tersendiri di tengah buku-buku tentang jurnalistik yang terbatas.

Awal Istilah Hoax

Pada tulisan yang berjudul “Hoax, Para Monyet dan Wartawan” ia menulis  tentang bagaimana seorang wartawan bisa terjebak dalam penyampaian berita palsu/hoax. Istilah Hoax sendiri berasal dari sebuah judul film drama yang dibuat 2005.  Film yang berkisah tentang kisah hidup Clifford Michael Irving seorang reporter investigasi yang  cukup terkenal di AS. Ia juga menulis buku biografi Howard Huges salah satu orang kaya di AS. Buku ini kemudian diangkat ke layar lebar berjudul “The Hoax” belakangan diketahui banyak yang ditulis oleh Irving dalam bukunya banyak dihilangkan dan diubah, dan tidak muncul dalam film The Hoax. Irving menyebut film ini penuh kebohongan dan dikemudian hari The Hoax menjadi terkenal bukan karena filmnya namun karena menjadi istilah baru untuk menyebut suatu kebohongan (hal 18-19).

Bagaimana Dengan Kondisi di Indonesia?

Akhir-akhir ini produk berita hoax dan penyebaranya sudah semakin meresahkan, terutama menjelang pemilu yang sebentar lagi akan digelar, dibalik maksud dan tujuan pembuatan hoax ada orang-orang yang bersembunyi dibaliknya untuk mengambil keuntungan dari penyebaran hoax tersebut, mereka ini yang disebut sebagai The Clicking Monkeys.

The Clicking Monkeys adalah julukan untuk orang  yang dengan riang gembira mengklik telepon selulernya untuk menyebar luaskkan hoax kesana-kemari, me- retweet atau memposting ulang di media sosial. Mereka seperti kumpulan monyet riuh saling melempar buah busuk di hutan (hal:18)

Buku ini terdiri dari 38 artikel yang diambil dari beberapa tulisan di rentang 2007-2016 yang membahas tentang sisi-sisi jurnalistik baik yang ia tulis berdasarkan pengalamannya dalam mengarungi dunia jurnalistik selama ini.

Sumber Berita

Hal yang tak kalah penting dalam sebuah berita atau liputan adalah sumber berita itu sendiri, ini menjadi komponen yang utama. Pada tulisan yang berjudul “Sumber Berita” seorang wartawan atau penyampai berita dituntut untuk menyampaikan berita dan mencari sumber berita secara kredibel, akurat dan harus  diverifikasi kejelasan dan kebenarannya. Sumber berita harus bisa dipertanggung jawabkan kebenaranya.

Salah satu cara pencarian sumber berita adalah melalui wawancara.  Dalam buku ini juga dibahas tentang tips untuk menghadapi wawancara seorang narasumber diantaranya mempersiapkan data-data awal, mendalami calon sumber (karakter, posisi, situasi dll), persiapkan pertanyaan, tentang off the record boleh tidaknya sumber dipublikasikan.

Kehidupan dunia jurnalistik tidak melulu soal arus besar media resmi, ketika arus besar media resmi sudah memonopoli berita dan  membungkam pihak-pihak tertentu maka jurnalistik warga pun bisa menjadi alternative dalam menyampaikan kebenaran sebuah berita atau peristiwa.

Wael Abbas seorang blogger asal Mesir contohnya ketika ia menyampaikan laporan tentang situasi Mesir saat terjadi demontrasi besar-besaran, ketika arus media utama di Mesir tidak memberitakan kondisi saat itu . Ia melalaui blog pribadinya mampu mengabarkan dan menyampaikan informasi terkini tentang situasi Mesir saat itu, blog menjadi salah satu alternative yang ia gunakan untuk menyampaikan kabar terkini kondisi Mesir ke penjuru dunia. Kisah blogger ini bisa dibaca pada tulisan yang berjudul “Wael, Blog dan Produk Jurnalistik”.

Masih banyak lagi sebenarnya kisah dalam buku ini yang menarik, terutama tentang jurnalistik untuk dibedah sebagai bahan pembelajaran dan pengetahuan dan menambah wawasan kita. Tulisan-tulisan dalam buku ini rasanya masih sangat relevan dengan kondisi saat ini, berita-berita hoax masih begitu mudahnya menyebar, berita tetang politik identitas juga masih menghiasi dalam pemberitaan akhir-akhir ini.

Membaca buku ini rasanya membaca kritikan pedas pelaku jurnalistik terhadap dunianya, kritikan seharusnya menjadi perhatian bagi pelaku dan pekerja pada dunia jurnalistik pada umumnya. Buku ini juga membawa kita kembali ke peristiwa beberapa tahun lalu yang menjadi bahasan dalam media pada masanya diantaranya tulisan –tulisan yang berjudul “Balibo, Setelah 34 Tahun”,” Bahkan Hingga Mati, Soeharto tak Berpihak ke Tempo”, “Peta Kematian Wartawan dan Pers”, “Serangan Untuk Leluon Harlie Hebdo”dan banyak lagi

Karena jurnalisme bukan monopoli wartawan selayaknya setiap orang bisa turut andil dalam menyampaikan informasi yang benar-benar bermanfaat, baik untuk sebuah informasi, kritik sosial,sanggahan, opini dll. Dan tentunya dalam penyampaian dan penyebaran informasi kaidah-kaidah kebenaran dan kode etik dasar pada dunia jurnalistik selayaknya selalu diperhatian dengan serius.

Profil Penulis Rusdi Mathari

Rusdi MathariRusdi Mathari menekuni profesi jurnalistik sejak 1990-an. Ia telah melanglang karier sebagai wartawan di Suara Pembaruan, lalu bekerja di InfoBank, detikcom, Pusat Data dan Analisa Tempo, dan Trust. Pada 1999, dia terpilih sebagai salah satu wartawan investigatif terbaik versi ISAI dan dikirim ke Bangkok untuk mengikuti crashprogram penulisan jurnalistik tentang HAM.(dilansir dari halaman Goodreads)

Rusdi Mathari meninggal dunia pada 2 Maret 2018 setelah berjuang melawan kanker. Karya-karya tulisan beliau senantiasa dirindukan. Semoga beliau senantiasa mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya

Bahasa dan Kritik

Membaca buku ini rasanya membaca kritikan pedas pelaku jurnalistik terhadap dunianya, kritikan seharusnya menjadi perhatian bagi pelaku dan pekerja pada dunia jurnalistik pada umumnya. Buku ini juga membawa kita kembali ke peristiwa beberapa tahun lalu yang menjadi bahasan dalam media pada masanya diantaranya tulisan –tulisan yang berjudul “Balibo, Setelah 34 Tahun”,” Bahkan Hingga Mati, Soeharto tak Berpihak ke Tempo”, “Peta Kematian Wartawan dan Pers”, “Serangan Untuk Leluon Harlie Hebdo”dan banyak lagi

Tags
Show More

Budhi Sugeng

Budhi Sugeng – Lelaki generasi 80-an yang lahir di kota Jogja, merindukan hal-hal tentang masa kecil, menyukai perjalanan menuju tempat-tempat indah, kota demi kota, hutan dan gunung. Lelaki yang bercita-cita membuat rumah baca di desa kelahiran.
Suka membaca buku, apa lagi ketika hujan turun bersama secangkir kopi, suka menulis hal-hal gak jelas dibuku harian, bekerja sebagai seorang karyawan di Bekasi dan sebenarnya sudah jenuh dengan status sebagai karyawan.
Memimpikan suatu saat semua anak Indonesia mudah mengakses buku-buku berkualitas, semua anak Indonesia gemar membaca dan berpetualang. Mau chit chat langsung di Twitter: @budhisugeng, email:budhisugeng@gmail.com dan blog: www.budhisugeng.com

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close