Non Fiksi

Bayangan Kasus Ucok dalam Buku Just Mercy dan The Sun Does Shine

Just Mercy Dan The Sun Does Shine

Bayangan Kasus Ucok dalam Buku Just Mercy dan The Sun Does Shine – Beberapa waktu yang lalu saya menerima tawaran untuk membaca buku “The Sun Does Shine” yang ditulis oleh Anthony Ray Hinton dan Lara Love Hardin. Buku ini baru akan diterbitkan secara resmi nanti tanggal 27 Maret 2018. Perlu waktu beberapa hari untuk memberikan jawaban, apakah saya akan membaca buku ini atau tidak. Sebenarnya tidak ada masalah apapun bagi saya, selain harus menyiapkan mental untuk membaca buku ini. Dan setelah berpikir panjang, akhirnya saya menerima tawaran ini.

Hingga akhirnya saya menemukan sebuah berita tentang kasus Ucok alias  Rian Nopriansyah. Apakah Anda mengikuti atau setidaknya membaca kasus ini? Saya sudah sepakat untuk tidak menuliskan masalah hukum, politik dan isu sensitif lain dalam web ini. Tapi kasus ini mengingatkan sebuah kisah dalam buku Just Mercy yang ditulis oleh Bryan Stevenson.

Dari beberapa media yang saya baca, tertulis bahwa Ucok dituduh melakukan penganiayaan suporter salah satu klub sepakbola yang bernama  Alfarizi sampai meninggal dunia.

Jika Anda membaca beberapa media menyebutkan bahwa Ucok dipaksa mengakui perbuatan itu dibalik proses intimidasi yang kejam. Hasilnya tidak hanya fisik Ucok yang terluka, saya percaya mentalnya juga mengalami hal serupa. Usaha pertama Ucok mencari keadilan dengan menuliskan permohonan pertolongan kepada salah anggota DPD RI utusan Sumsel lewat dua lembar kertas bungkus (langkah ini dilakukan akhir Agustus 2017.

Kemudian sidang pada tanggal 25 Januari 2018 yang dilakukan di Pengadilan Negeri (PN) Palembang memutuskan jika Ucok dihukum selama 8 tahun. Dan kemarin saya menemukan berita jika adik Ucok menulis statusnya di Facebook akun Rian Nopriansyah (data yang tertulis : 28 Januari pukul 18:53). Dalam surat yang juga ditujukan untuk presiden RI Bapak Joko Widodo, Ucok sekali lagi menjelaskan kronologi penangkapan sampai mengapa Ia akhirnya terpaksa mengakui perbuatan yang menurut dia memang tidak dilakukan (Saya tidak tahu apakah status itu benar-benar di tuliskan oleh adik Ucok atau bukan)

Saya sendiri tidak kenal siapa Ucok ini. Tapi sebagai manusia biasa, saya mencoba untuk melihat apakah kasus ini bisa berakhir secara adil atau tidak. Bahwa hukum bukan masalah ringan dimana orang biasa bisa menarik kesimpulan. Jika Anda membaca juga diterangkan bahwa Ucok sudah memiliki istri dan dua anak yang berumur 6 tahun dan 2 tahun. Saya tidak percaya jika kejadian ini benar-benar terjadi di Indonesia.

Tanpa memberikan review atau kritik apapun, saya akan berusaha memandu Anda untuk menyusuri kisah dalam Just Mercy karya Bryan Stevenson dan buku The Sun Does Shine karya Anthony Ray Hinton dan Lara Love Hardin, yang paling tidak ada sedikit kimiripan dalam masalah Ucok.

Just Mercy Karya Bryan Stevenson

Buku Just Mercy diterbitkan sejak  25 Sep 2015 dan telah menjadi salah satu buku yang masuk ke jajaran A New York Times Bestseller. Buku ini menceritakan tentang usaha keras untuk mencari keadilan dan penebusan. Silahkan jika Anda mengambil kuliah hukum, buku ini sangat sesuai untuk rekomendasi.

Bryan Stevenson melewati masa kehidupan yang kurang beruntung. Tinggal di kawasan Selatan dengan kehidupan yang sangat miskin dan menderita karena isu rasial yang panas saat itu. Bertahan dengan kemiskinan tetap membuatnya menempuh pendidikan hingga mendapatkan gelar hukum dari Harvard Law School. Ia mendedikasikan hidupnya untuk membantu orang-orang dan anak-anak yang menjadi korban ketidakadilan. Sebuah proyek yang dinamakan Equal Justice Initiative atau EJI masih aktif sampai saat ini. Lembaga ini berpusat di Montgomery, Alabama.

Hal paling sensitif dari buku ini adalah ketika menceritakan tentang orang-orang yang miskin dan tidak bisa memperoleh penanganan kasus hukum secara wajar. Akhirnya Stevenson menceritakan beberapa kasus yang sangat menyedihkan dengan bahasa yang sangat mengalir. Ada kalanya Stevenson menceritakan kisah orang yang dihukum mati akibat kecurangan hukum dan ini sangat menyedihkan. Cerita lain seperti kasus rasial antara kulit hitam dan kulit putih serta kasus hukum anak yang ditangani dengan cara tidak benar.

Stevenson menceritakan setiap kasus secara terbuka dengan narasi yang terkadang juga menyakiti hati pembaca. Ini membuat saya berpikir bahwa mencari keadilan adalah hal yang mahal dan sulit, terlebih untuk orang miskin.

Bagian cerita yang sangat jelas dalam buku ini adalah pertemuan Stevenson dengan seorang klien yang bernama Ian Manual. Laki-laki yang baru berumur tigabelas tahun ini mendapatkan dakwaan perampokan bersenjata dan dugaan percobaan pembunuhan. Jujur ini hal yang membuat saya sedih tapi tidak bisa menemukan alasan apa yang paling tepat.

Ian Manuel saat itu beraksi dengan dua orang anak yang lebih tua. Mereka berusaha untuk mendapatkan harta dari pasangan dan kemudian korban wanita berusaha untuk menolak. Ian menembak hingga menembus  bagian pipi korban wanita.

Kelalaian hukum terjadi ketika pengacara yang bekerja untuk Ian Manuel membujuknya untuk menerima hukuman pembelaan selama lima belas tahun. Tahu apa yang terjadi? Untuk kedua masalah itu Ian Manuel harus mendapatkan hukuman seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat. Ian tidak tahu apa-apa tentang hukum. Ia tidak menyadari bahwa hakim memberikan keputusan untuk hukuman mati tanpa pembebasan bersyarat. Saat itu Ian yang masih tergolong anak-anak juga harus masuk ke sebuah lembaga pemasyarakatan orang dewasa di kawasan Apalachee, Florida.

Tidak hanya itu saja karena Ian masih harus menghadapi hal yang paling mengerikan. Karena Ian masih anak-anak sehingga tidak mungkin campur dengan narapidana dewasa. Mereka berpikir bahwa menempatkan Ian di penjara dewasa bisa memojokkan Ian pada masalah kekerasan seksual. Akhirnya mereka memasukkan Ian ke sebuah penjara khusus yang berfungsi sebagai ruangan isolasi. Ukuran ruangan ini sangat kecil dan petugas akan mengirimkan makanan dari bilik khusus. Sejak saat itu Ian tidak bisa bertemu dengan orang lain, narapidana lain dan tidak akan pernah bertemu siapapun. Ian tinggal dalam ruangan kecil dan sempit ini selama 18 tahun.

Perjalanan Ian memang terlihat tegar tapi sampai pada waktunya Ian menghubungi korban yang pernah ditembaknya yang bernama Debbie Baigre. Ian berbicara lewat telepon dan mengatakan permintaan maaf dan penyesalan yang paling dalam. Selama beberapa tahun Ian dan korban masih saling berbicara. Sampai pada akhirnya korban juga merasa tidak adil. Debbie Baigre mengirimkan sebuah pernyataan kepada pengadilan bahwa hukuman Ian tidak benar, tidak manusiawi dan sangat mengerikan. Pengadilan mengabaikan permohonan Debbie Baigre.

Ada saat dimana Bryan Stevenson tidak bisa melakukan pembelaan dan membuat terdakwa tetap harus mendapatkan hukuman mati. Saya rasa ini bagian yang paling berat bagi seorang pengacara kepada kliennya. Tapi dibalik semua itu usaha Bryan Stevenson untuk membela semua klien dilakukan dengan sangat terbuka dan baik. Ia selalu mempertimbangkan kemanusiaan dan bagaimana agar terdakwa tidak menjadi korban hukum yang tidak adil.

Pengakuan dari buku ini menegaskan bahwa hukum harus adil dan tidak boleh ada orang yang menjadi korban hukum. Ada banyak kisah yang menegaskan bahwa ketika Anda berbohong maka Anda bukan hanya berbohong, begitu juga jika Anda mencuri maka Anda tidak hanya akan menjadi pencuri, bahkan ketika dalam kasus pembunuhan maka pelaku itu bukan hanya seorang pembunuh. Ada banyak makna dimana keadilan harus dilihat dari bukti sehingga tidak ada lagi korban seperti Ian Manuel.

The Sun Does Shine Karya Anthony Ray Hinton dan Lara Love Hardin

Buku ini adalah salah satu memoar kisah narapidana yang akan mengoyak perasaan semua orang. Kisah dimulai ketika Anthony Ray Hinton menjadi terdakwa dalam sebuah kasus pembunuhan besar. Saat itu bulan Juli tahun 1985. Hinton bekerja shift malam di sebuah gudang supermarket, di Alabama.  Berjarak 15 mil dari gudang tersebut seorang manajer restoran diculik, di rampok dan ditembak tepat pada bagian kepala.

Tidak disangka dalam waktu beberapa hari sejak kejadian tersebut, tiba-tiba Hinton ditangkap oleh polisi. Saat itu Hinton berumur 29 tahun dan tinggal bersama dengan ibunya. Tuduhan yang didakwakan kepada Hinton adalah kasus pembunuhan dua orang di tempat yang berbeda.

Mimpi buruk terjadi ketika pengacara yang menangani kasus Hinton tidak bisa menunjukkan pembelaan yang baik. Hakim dan semua orang di pengadilan menolak bukti apapun terlebih dengan adanya tuduhan saksi palsu dalam persidangan. Akhirnya Hinton harus menerima hukuman mati yang kejam dengan kursi listrik.

Selama 28 tahun Hinton menghabiskan waktunya di sebuah kurungan khusus untuk orang-orang yang mengantri mendapatkan hukuman mati. Selama itu juga Hinton sudah menyaksikan 50 orang narapidana mendapatkan hukuman mati dengan jarak hanya 15 meter saja. Saat itu keyakinan Hinton lah yang membantunya bisa tenang. Masih dengan selera humor Ia melewati semua waktu dalam kurungan yang mengerikan. Ia tidak bersalah dan Ia tidak takut untuk menerima apapun.

Hingga akhirnya Bryan Stevenson, Direktur Equal Justice Initiative mengambil alih kasus ini. Bryan Stevenson membawa kasus ini ke pengadilan paling tinggi di Amerika. Hampir tidak bisa dipercaya akhirnya pada tahun 2015, Hinton bisa menghirup udara bebas. Hingga saat ini Hinton masih sering diundang untuk memberikan kisahnya yang penuh dengan inspirasi.

Apakah kedua buku ini mengerikan? Bagi saya, ya. Tidak mudah untuk menghadapi kasus hukum dengan dakwaan seperti pembunuhan. Namun kedua cerita dalam buku ini benar-benar memberikan pelajaran yang sangat berarti. Kekuatan untuk memaafkan mengalahkan kebencian dan hanya orang-orang kuat saja yang bisa menghadapi kasus serumit ini.

Saya tidak tahu mimpi apa Ucok sebelum mengalami kasus tersebut. Tidak ada orang yang ingin meninggalkan keluarga dengan masalah serumit itu. Usahanya untuk mendapatkan keadilan selayaknya harus direspon oleh pihak-pihak yang berwenang. Kebenaran yang sebenarnya hanya milik Ucok dan Allah. Tanggung jawab di masa akhiratnya nanti pun juga akan ditanggung oleh Ucok, begitu juga pihak-pihak yang terlibat dalam kasus ini.

Pesan: tidak ada intervensi khusus untuk mengangkat tulisan ini, baik dari pihak Ucok, pihak yang berwajib, pihak buku Just Mercy dan pihak buku The Sun Does Shine. Pun tulisan ini tidak membenarkan pihak manapun dalam kasus Ucok, baik untuk pihak Ucok atau pihak yang berwajib. Tulisan ini sangat netral untuk semua pihak.

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan senang jika Anda berkunjung ke toko buku kami. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close