Debut

Perempuan Perempuan Yang Terkurung Dalam Novel – Sebuah Tinjauan

Perempuan Perempuan Yang Terkurung Dalam Novel – Membicarakan tentang perempuan memang tidak pernah ada habisnya. Hampir setiap hari dalam setiap berita dan liputan dari berbagai media seperti televisi, radio, dan digital media selalu ada perempuan. Bahkan sosial media juga meliput banyak hal tentang perempuan.

Sosok karakter perempuan dalam novel, karya sastra, puisi, drama dan berbagai kisah lain juga selalu ada. Tanpa perempuan ibarat kata bisa mati cerita. Lantas, apakah perempuan yang menjadi subjek dalam sebuah cerita fiksi. Rasanya sulit untuk meninggalkan peran perempuan dalam banyak hal. Dan mungkin memang itulah kenyataan yang kita dihadapi.

Berbicara tentang perempuan, sebenarnya peran perempuan di Indonesia memang lebih luas. Ada banyak wanita hebat dengan profesi hebat. Ada kebebasan yang disetarakan dalam berbagai kehidupan dan pemerintahan. Karena itu tidak aneh jika ada menteri, polisi, dokter, pilot, bahkan tenaga ahli bidang teknis yang semuanya perempuan.

Tapi melihat gejolak negara lain seperti Afganistan, Pakistan, India dan beberapa negara Stan lain ternyata sangat berbeda. Ada kesan perempuan-perempuan selalu dikurung. Ada kesan perempuan hanya tinggal di rumah dan tidak melakukan apa-apa. Bahkan ada yang pemikiran bahwa perempuan hanya boleh menjadi istri, ibu, pengurus rumah tangga, melahirkan, menyusui dan peran di rumah lainnya.

Kisah-kisah perempuan ini ternyata bukan hanya cerita saja. Apa yang terjadi dalam sebuah novel fiksi ini bisa jadi memang diangkat dari kisah nyata. Namun bukan berarti perempuan perempuan yang menjadi tokoh ini menyerah. Ada banyak fakta yang ternyata sangat mengejutkan.

Melihat latar belakang ini, Saya akan meninjau beberapa hal mengenai konsep perempuan perempuan yang terkurung dalam novel. Ada novel fiksi dan kisah perjalanan nyata non fiksi yang menjadi sumber tulisan ini. Semoga pembaca tidak keberatan dengan beberapa tinjauan panjang ini. Selamat Membaca…

Perempuan Dalam Novel The Pearl That Broke Its Shell Karya Nadia Hashimi

Jika Anda belum membaca novel ini, saya sarankan untuk menyimak kisahnya di review The Pearl That Broke Its Shell. Novel yang ditulis oleh Nadia Hashimi ini mendapatkan sambutan yang sangat besar. Ada banyak wanita-wanita di negara maju dan berkembang yang turut prihatin dengan konsep perempuan dalam cerita ini. Tapi ketika kita tidak mengalaminya sendiri, maka kita tidak bisa memberikan protes dan memberikan asumsi yang terlalu muluk-muluk.

Namun Nadia Hashimi sudah bekerja keras untuk menulis novel ini dan melakukan sebuah penelitian yang mendalam. Tentu saja ini juga sangat dekat dengan latar belakang keluarga Nadia Hashimi sebagai keturunan Afghanistan. Pada tahun 1970 Uni Soviet melakukan invasi di Afghanistan yang akhirnya membuat semua penduduk merasakan penderitaan. Bahkan meninggalkan penderitaan yang masih terasa hingga kini. Saat itu orang tua Nadia Hashimi pergi ke Amerika. Sampai akhirnya Nadia Hashimi lahir dan besar di New York dan juga New Jersey.

Ibu Nadia Hashimi sendiri adalah termasuk kalangan wanita Afghanistan terpelajar dan mendapatkan gelar Master bidang Tehnik Sipil. Meskipun ayah, ibu, paman, bibi dan semua keluarga Nadia Hashimi tinggal di Amerika, tapi keluarga ini menjaga budaya Afghanistan. Nadia Hashimi sendiri berprofesi sebagai dokter anak.

Dalam novel The Pearl That Broke Its Shell, Nadia Hashimi mengangkat sebuah cerita tentang bacha posh. Seorang anak perempuan yang dirubah menjadi laki-laki demi kepentingan dan martabat sebuah keluarga di Afghanistan. Dua karakter yang menjadi pelaku bacha posh adalah Shekiba dan Rahima. Dua perempuan yang hidup di abad yang berbeda tapi masih melakukan tradisi Afghanistan yang sama.

Menurut penuturan dari Nadia Hashimi sendiri bahwa tidak semua keluarga di Afghanistan melakukan tradisi ini. Tapi jika sebuah keluarga melalukan ini, maka tidak mengapa. Tidak ada yang melarang atau membicarakannya. Bacha posh telah menjadi cara terbaik untuk mencapai kesetaraan gender dan membantu anak-anak perempuan kecil mencapai mimpinya.

Ketika Nadia Hashimi melakukan penelitian tentang bacha posh, ternyata Ia merasa lebih sakit dan marah. Ada banyak hal yang dirasa kurang adil untuk perempuan. Bukan hanya di Afghanistan tapi di seluruh dunia.

Nadia Hashimi kembali mengunjungi kampung halaman orang tuanya di Afghanistan pada tahun 2002. Ia menelusuri lagi desa-desa yang dulunya menjadi tempat tinggal keluarga dan sekarang sudah hancur. Ia merasa marah dan sedih ketika banyak wanita-wanita yang mulai melakukan pekerjaan di tempat yang kurang layak dan minim sanitasi. Tapi Ia juga merasa bangga dan senang ketika anak-anak sudah ada yang masuk sekolah. Ini artinya ada perubahan yang cukup besar di desanya.

Nadia Hashimi melihat sendiri bahwa perempuan – perempuan di Afghanistan ingin berubah. Keluar dari penderitaan, keluar dari luka dan bisa memiliki kehidupan yang berdampingan dengan pihak lain. Sekarang, paling tidak sudah banyak pemuda pemudi Afghanistan yang menyadari bahwa bangkit dari kondisi terpuruk adalah pilihan wajib. Tidak ada lagi kisah bergantung dengan negara lain.

Pergeseran Gender di Afghanistan

Menurut penuturan dari Nadia Hashimi, sebenarnya Afghanistan pernah mengalami masa-masa dimana perempuan dan laki-laki tidak berbeda. Masa itu dikisahkan pada saat orang tua Nadia Hashimi lahir sekitar tahun 1950-an sampai 1960-an. Saat itu bahkan bibi Nadia Hashimi bisa lulus dari universitas dan mendapatkan beasiswa untuk belajar di Eropa. Keluarga besar Nadia Hashimi juga termasuk kalangan terpelajar.

Ketika masa invasi Uni Soviet memang semua rakyat menderita. Wanita mengalami kekerasan dan kehilangan hak-hak untuk bisa hidup normal. Lalu sebuah budaya berjalan dengan sangat tidak adil, dimana anak laki-laki memiliki nilai lebih besar daripada anak perempuan. Keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki telah dianggap gagal. Dan karena itulah muncul sebuah budaya bacha posh.

Kemudian berkembangnya rezim rezim baru setelah Soviet pergi meninggalkan penderitaan, telah membuat wanita Afghanistan lebih menderita lagi. Anak perempuan yang bahkan belum remaja sudah dinikahkan secara paksa. Karena membesarkan anak perempuan juga dianggap beban keluarga. Lalu ditambah dengan masalah yang lebih brutal lagi seperti kecanduan narkoba, korupsi dan masalah politik yang tidak pernah usai.

Fakta-fakta yang dibuat untuk kisah Rahima dalam novel ini bahkan bukan isapan jempol saja. Ada kisah nyata yang bisa kita simak. Berikut saya ulas sedikit sebagai gambaran untuk pembaca.

Menurut sumber berita dari ini dengan judul:  “Shabana Basij-Rasikh: Dare to educate Afghan girls” . Kita bisa menyimak penuturan dari Shabana Basij-Rasikh sebagai Founder Sola Afhanistan. Tentang bagaimana sekarang anak perempuan di Afghanistan harus bersekolah dengan sembunyi-sembunyi.

Dalam video itu Shabana Basij-Rasikh mengatakan bahwa sampai sekarang pergi ke sekolah masih menjadi hal yang cukup menakutkan. Meskipun peran perempuan sudah dianggap lebih besar tapi tidak ada kebebasan. Hal yang paling menyakitkan adalah kisah ketika ada seorang ayah yang menjemput putri mereka dari sekolah. Saat dalam perjalanan mereka bertemu dengan kelompok lokal asli yang membawa senjata dan bersiap membunuh mereka. Kelompok ini ingin membuat anaknya tidak pergi ke sekolah. Tapi dengan berani dan lantang si bapak mengatakan jika Ia siap mengorbankan nyawanya demi anaknya agar bisa berangat ke sekolah.

Lalu dalam sebuah artikel yang dikulik dari Ney York Times dengan judul “Afghan Boys Are Prized, So Girls Live the Part” posisi bacha posh juga digambarkan dengan jelas. Pembaca juga bisa mengulik ceritanya dari video ini.

Artikel ini menceritakan seorang anak perempuan yang dirubah Mehran Rafaat yang keluar rumah dengan penampilan seperti anak lelaki. Ia adalah anak ke empat dari seorang ibu yang memiliki posisi sebagai anggota parlemen, yaitu Azita Rafaat. Menjadi bacha posh bukan semata keinginan anak itu sendiri. Keputusan ini diambil oleh orang tua. Ada banyak latar belakang yang bisa membuat anak dirubah menjadi bacha posh, seperti masalah ekonomi keluarga, keterbatasan, tekanan dalam masyarakat dan pemikiran kuno seperti takhayul.

Lebih dari itu semua keluarga di Afghanistan belum dianggap berharga ketika tidak memiliki anak laki-laki. Jadi berangkat dari cerita ini sebenarnya bacha posh adalah tradisi biasa yang dianggap sangat biasa. Namun ada saatnya ketika anak ini harus berubah menjadi anak perempuan, memakai kerudung dan keluar rumah dengan pakaian wanita.

Jika sebuah keluarga tidak memiliki anak laki-laki maka itu membuat semua orang membicarakan keluarga tersebut. Ada sebuah ungkapan bahwa “ketika Anda tidak memiliki seorang putra di Afghanistan maka itu bisa menjadi kehilangan yang sangat besar, dan semua orang akan merasa sedih untuk keluarga Anda.

Azita Rafaat sendiri pertama kali melahirkan anak kembar dengan perjuangan yang sangat menyakitkan. Setelah melewati kontraksi selama 72 jam dan melahirkan lebih awal satu bulan, maka anak kembar yang lahir adalah perempuan. Ibu mertuanya menangis namun bukan untuk kemungkinan bayi kembar itu tidak bisa bertahan, itu karena yang lahir adalah anak perempuan dan bukan laki-laki.

Sampai saat ini pandangan terhadap perempuan memang berbeda dan entah sampai kapan perempuan di Afghanistan bisa seperti wanita lain di negara yang berbeda. Pada bagian dua nanti, tulisan akan mengisahkan pandangan perempuan dari seri travelling berjudul Selimut Debu yang ditulis oleh Agustinus Wibowo. Melihat pandangan dari segi novel, artikel-artikel dengan sumber yang bisa dipercaya dan keterangan dari sumber Afghanistan langsung, rasanya memang masih kurang lengkap.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengkritik terkait adat dan budaya yang ada di Afghanistan. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk membuka pikiran kita dan sama-sama saling memberikan pandangan karena dunia memang penuh warna yang berbeda. Terima kasih…

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan menyukai perjalanan. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close