Travelling

Surat untuk “Out Of The Truck Box Karya Iqbal Aji Daryono”

Petualangan Seorang TKI Sopir Truk di Australia dan Lamunan-lamunan Liarnya

Surat untuk “Out Of The Truck Box Karya Iqbal Aji Daryono” – Jujur saja sebenarnya saya tidak mengenal siapa Iqbal Aji Daryono. Saya baru tahu nama ini setelah menemukan bukunya di pajang sebagai buku paling dicari di Gramedia, Slamet Riyadi. Saya juga tidak membaca kata-kata penghargaan buku yang dicetak pada cover belakang. Tapi satu hal yang membuat saya tertarik adalah:

“Petualangan Seorang TKI Sopir Truk di Australia dan Lamuan-lamunan Liarnya”

Judul : Out of The Truck Box

Penulis : Iqbal Aji Daryono

Penerbit : Giga Pustaka

Tahun : 2015

ISBN : 978-602-14016-0-6

Diantaranya bangganya orang-orang yang kerja keluar negeri, mengapa si penulis ini justru dengan pede-nya berkata jujur kalau ini hanya lamunan seorang supir. Mengapa juga si penulis ini sampai ke Australia hanya untuk menjadi supir? Mungkin Anda juga memiliki pikiran seperti saya.

Dilihat dari tahun terbitnya memang saya cukup terlambat membaca dan tahu tentang buku ini. Tapi tidak mengapa khan? Mungkin saja Anda juga belum pernah mengenal nama Iqbal Aji Daryono, yang tentu pasti juga belum tahu tentang kisahnya. Nah karena itu, saya pun juga akan berbagi sedikit tentang pemikiran saya mengenai buku ini.

Siapa Iqbal Aji Daryono?

Saya sama sekali belum pernah berkenalan atau memfollow salah satu akun sosial media Mas Iqbal. Tapi 13 hal tentang siapa mas Iqbal yang ditulis oleh Mas Puthut EA dalam pengantar buku ini, paling tidak sudah cukup jelas. Sebagai sesama lulusan di kampus yang sama, saya sadar karakter lulusan Fakultas Ilmu Budaya itu seperti apa. Ya, meskipun jurusan kuliah saya memang terbilang sedikit serius. Tapi mas Iqbal yang ternyata lulusan Sastra Jepang UGM ini memang ya..#uhukk,,ya seperti itulah pemikiran-pemikiran anak FIB soal tulisan. Saya memakluminya karena dulu juga ketika mahasiswa, saya sering mengikuti perkembangan tulisan mereka lewat jurnal-jurnal.

Nah karena itu juga saya pikir mengapa mas Iqbal ini sampai ke Australia. Rupanya dia bukan mengikuti turis Jepang yang piknik ke Australia. Mas Iqbal tiba-tiba diceritakan sampai Australia untuk mendampingi istrinya yang sedang melanjutkan pendidikan di benua itu. Bersama dengan putri cantiknya Hayun. Lalu mengapa kok mas Iqbal bisa jadi sopir? Semua jawaban ini bisa ditemukan dari bukunya mulai dari halaman pertama sampai akhir. Dijamin Anda tidak menyesal membaca Out Of The Truck Box Karya Iqbal Aji Daryono.

Prolog

Sebagai perkenalan berupa panduan dari mas Iqbal yang tidak boleh dilewatkan semua pembaca. Judulnya saja “Sampeyan Harus Baca Ini Dulu”. Nah yang menarik dari bagian ini Mas Iqbal menceritakan rute-rute jalan yang dilewati truknya. Menurut saya bagian ini agak memusingkan – atau otak saya memang kurang nge-link kalau soal rute jalan. Tapi mas Iqbal bilang kalau rute ini memang sebaiknya di hafal. Jadilah karena tidak bisa hafal, jadi setiap baca halaman lain, saya pun harus cek rutenya.

Juga dari bagian pertama ini saya tahu kalau mas Iqbal tidak melakukan editing sesuai EYD. Misalnya tulisan Australia ya cukup ditulis Ostralia – sesuai lidah Jawa. Bagi saya ini sangat menarik, kali pertama membaca tulisan yang meninggalkan kaedah EYD. Lalu juga tidak ada kata-kata asing yang dicetak miring. Wah ini benar-benar ide cerdas juga supaya yang baca bukunya tidak perlu susah-susah ikut miring. Hehehe..jadi teringat juga pertemuan saya dengan salah satu editor terkenal di Indonesia. Saat saya kirim naskah novel, akhirnya novel itu penuh coretan karena EYD yang tidak benar – (jangan tanya novelnya ya,,,sampai sekarang draftnya masih tersimpan rapi kok tanpa tahu nasibnya)

Negeri-Negeri

Lalu bagian kedua dari buku ini adalah tulisan yang berhubungan dengan persoalan negeri-negeri. Mas Iqbal mengeluh betapa Ostralia itu negeri tanpa ekspresi. Betapa karakter negeri ini berbeda dengan Indonesia. Jujur, ini kali pertama saya dengar cerita orang Indonesia yang beda haluan. Biasanya saya selalu dengar orang pulang dari luar negeri, menceritakan dengan bangganya, kalau negara yang baru dikunjungi itu sopan, disiplin, dan semua tertata rapi. Kalau saya katakan semua bagian dari Negeri-Negeri, tentu akan kurang menarik. Jadi biar Anda juga penasaran, ikuti dulu cuplikan dibawah ini:

“Asuransi. Asuransi. Semua-mua diurus asuransi. Bagi Ustadz Felix Siauw dan sebagian kecil orang Indonesia, Khilafah adalah solusi. Bagi orang Ostrali, posisi Khilafah itu dipegang oleh perusahaan asuransi” – halaman 41. (tebak deh, peristiwa apa ya kira-kira sampai mas Iqbal mengatakan ini)

“You can read this, Mate. This is C,” ujarnya sambil menunjuk C besar pada SIM C-nya. Lalu.. “C is CAR! This is license for CAR!” – halaman 49. (ini salah satu bagian yang membuat saya ngopi sampai batuk)

“Peristiwa di kereta itu akhirnya memicu gerakan yang disebarkan lewat medsos dengan tagar #illridewithyou. Ratusan orang menawarkan bantuan kepada siapa saja yang memakai identitas mencolok sebagai muslim, agar tetap merasa aman di perjalanan, tanpa harus melepaskan atribut keislaman” – halaman 56. (peristiwa Sidney Siege yang membuat saya merenung, betapa warga Ostrali menghilangkan dendam karena peristiwa itu. Hal-hal kritis yang saya harapkan berkembang di Indonesia)

Dalam bagian ini mas Iqbal juga menceritakan rekan-rekan kerjanya sesama sopir. Orang –orang India, Pakistan, Jerman dan lainnya. Juga hal-hal yang mengusik tentang kebiasaan yang tidak biasa. Dan yang paling jelas dari bagian buku ini, kita sebagai orang Indonesia juga akan merasa bangga tapi juga sedikit sedih.

Manusia- Manusia

Pada bagian ini sebenarnya materinya lebih berat. Terkadang juga harus dibaca pelan-pelan sebab bahasanya mas Iqbal tiba-tiba jadi tinggi – alias sulit dimengerti. Ya, memang juga karena bagian ini lebih banyak dijelaskan hubungan manusia termasuk lewat media sosial, mudahnya saling tidak kenal,mudahnya unfollow hanya karena beda pendapat dan lain-lain.

“Pada hemat saya, segala jenis ekstrimisme dan fundamentalisme terbentuk karena para pelakunya miskin perspektif” – hal 175. (ada bayangan nggak? Kira-kira mas Iqbal ini bicara masalah apa. Ya, kira-kira soal pandangan lah, bagaimana cara kita mengelola dan mendidik diri sendiri saat beda pandangan. Mas Iqbal mengambil contohnya beda pendapat soal calon pemimpin , wahh,,mulai panas khan)

Out Of The Truck Box Karya Iqbal Aji Daryono
Mas Iqbal kok fotonya nggak dicetak berwarna ? xixixixi

“Nah, begitu pun yang terjadi di Indonesia. Standar nilai dan moralitas kita tak dapat dilihat dengan kacamata tunggal belaka. Repotnya, banyak sekali orang yang merasa yakin bahwa apa saja yang baik menurut pandangannya sudah pasti baik pula untuk orang lain” hal 186. (uhuk..dalem banget khan ini pandangan mas iqbal. Baca bagian ini seperti lagi terima materi kuliah, soal pentingnya menghargai pendapat orang lain..#jujur deh)

“Ilmu psikologi mutakhir sudah menelurkan konsep Kecerdasan Majemuk. Intinya kecerdasan itu bermacam-macam. Profesor Howard Gardner yang dari Harvard itu menyebut ada delapan jenis kecerdasan:…” – hal 255 (ini bagian yang saya percaya kalau mas Iqbal itu bukan hanya nulis betulan, tapi juga baca buku betulan. Entah di halaman berapa – saya lupa – Mas Aji cerita kalau koleksi bukunya lebih dari ribuan. Semua ini bukti kalau mas Aji bukan hanya orang yang sok kasih status biasa lewat Facebook atau Twitter)

Epilog

Di bagian epilog yang berjudul “Begitulah”, sebenarnya saya mengharapkan mas Iqbal masih cerita banyak hal. Tapi epilognya mas iqbal ini dibuat dengan desain pesan yang menusuk. Ibaratnya kalau pembaca bisa saja suka atau tidak suka dengan buku ini. Kalau suka ya, silahkan beri informasi buat yang lain. Kalau tidak suka, ya tetap saja. Tapi mas Iqbal katanya siap menerima kata-kata buruk loh dari pembaca. #uhukkk

Pun saya menulis surat ini (atau review – atau ulasan – silahkan sebut sendiri namanya apa), juga untuk mengikuti pesan epilognya mas Iqbal. (Tapi mas Iqbal,,,jangan dipikir loh ya,,saya ini mengikuti perintahmu..toh saya pasti hanya mengikuti perintahNya…hehehe)

Jadi itu bagian kecil dari buku ini. Bagian besarnya,,, masih banyak lagi. Jelasnya ya, coba baca sendiri buku ini ya….

Alur Cerita

Meskipun buku ini seperti biografi atau – apa ya namanya – diary atau coretan mas Iqbal, tapi buku ini dibuat dengan cerdas. Setiap cerita diberi judul yang mudah ditebak kira-kira seperti apa isinya. Tapi yang paling menarik adalah setiap isi cerita memiliki urutan seperti:

  • Pengantar
  • Studi kasus
  • Penutup

Hanya saja tiga hal itu tidak berat kok, justru jadi lebih mudah untuk diterima.

Tentang Iqbal Aji Daryono

Out Of The Truck Box Karya Iqbal Aji Daryono Seorang sopir truk, untuk sementara tinggal di Perth, Australia, tapi kadang-kadang mudik ke Jogja. Punya beberapa blog tapi nggak pernah di-apdet, dia lebih suka dijumpai di Fesbuk (Iqbal Aji Daryono), atau Twitter (@iqbalkita).

 

 

Kata Mereka

Kebanyakan orang bekerja di Australia sebagai pekerja pelayan restoran, cleaning service, ataupun baby sitter. Tapi Iqbal mencoba satu pekerjaan yang tak biasa dan anti mainstream. Ya, sebagai sopir truk. Yang berarti dia main truk, bukan main stream. Pengalaman demi pengalaman Iqbal di buku ini, akan membuatmu tersentak – Ariev Rahman, travel blogger.

Iqbal pasti adalah sopir truk yang buruk, karena selama nyopir dia masih saja menulis. Tapi dia pasti penulis yang tekun, karena terus saja menulis meski sedang nyopir – Tarli Nugroho, Staf Khusus Wakil Ketua DPR Ri, peneliti Institute for Policy Studies.

Cerita

Seperti yang dikatakan mas Puthut EA kalau buku ini memang kemeripik, ringan tapi butuh minum supaya isi ceritanya sampai.

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan senang jika Anda berkunjung ke toko buku kami. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close