Bestseller

Review Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye

Review oleh Elly Fitriani

Blurb


Review Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye – Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, maka setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan bumi mana, berbinar, harap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaannya.

Apakah Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah ini sama spesialnya dengan miliaran cerita cinta lain?

Nah, setelah tiba di halaman terakhir, sampaikan, sampaikan ke mana-mana seberapa spesial kisah cinta ini. Ceritakan kepada meraka.

 

Sekilas tentang Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah


Meski lumayan telat membaca novel sebagus ini, saya membacanya di awal tahun 2017, dan mendapatkan kesempatan untuk mereview novel ini di awal tahun 2018, tapi tak mengapa. 512 halaman yang saya baca mampu membuka pemahaman baru tentang cinta, cita-cita, hingga prinsip hidup seorang Borno (berasal dari kata Borneo. E-nya hilang karena orang-orang lebih mudah menyebut Borno).

Saya telah membaca lebih dari 10 buku karya Tere Liye, namun Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah merupakan novel favorit saya dari sekian banyak novel yang telah saya baca. Saya kagum dengan sosok Tere Liye yang mampu mengangkat cerita cinta dengan kisah yang sederhana, dengan latar belakang tokoh yang biasa-biasa saja, namun mampu memberikan pemahaman baru bagi pembaca dalam memaknai arti sebuah cinta, kesederhanaan cinta, dan pemahaman baru dalam memaknai sebuah kehidupan, pemahaman bahwa tidak ada usaha yang sia-sia dalam meraih sebuah impian.

Tidak ada yang lebih indah dibanding masa muda. Ketika kau bisa berlari secepat yang kau mau, bisa merasakan perasaan sederhana yang kau inginkan, tanpa perlu khawatir jadi masalah (Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 132)

Setting Cerita

Setting cerita berlangsung di sekitaran Sungai Kapuas, yang merupakan sungai paling panjang dan luas di Kalimantan. Selain itu, cerita juga bergulir sejenak di Istana Kadariah. Lantas mampir di Surabaya sewaktu Borno menemani Pak Tua terapi asam urat di kota Surabaya. Mengajak pembaca untuk plesiran di tempat-tempat menarik di kota Surabaya.

Meski tema utama novel ini adalah cerita cinta, lengkap dengan filosofi akan cinta sejati. Namun Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah juga bercerita tentang pencarian jati diri. Sosok Borno yang bergonta ganti pekerjaan sampai akhirnya menemukan jati dirinya. Borno yang hanyalah lulusan SMA, ia  berusaha mencari pekerjaan. Dimulai dari bekerja di pabrik karet, namun para tetangga selalu mengejeknya karena setiap pulang bekerja ia selalu menguar bau karet yang tidak sedap.

Selanjutnya Borno menjadi tukang karcis di dermaga kapal fery di Sungai Kapuas, hal tersebut yang membawa pertikaian antara Borno dengan tokoh yang bernama Bang Togar, Bang Togar beranggapan bahwa keberadaan kapal fery mengancam pekerjaan pengemudi sepit (kapal motor), pendapatan mereka menurun karena banyak penumpang lebih memilih kapal fery. Hingga Borno yang mulai menjadi pengemudi sepit, yang membawanya bertemu dengan sosok Mei, hingga Borno yang mulai belajar tentang ilmu mesin di bengkel milik bapak temannya yang bernama Andi. Borno yang selalau tekun belajar ilmu mesin hingga berhasil mewujudkan mimpinya untuk memiliki bengkel.

Seorang pekerja yang baik adalah ketika dia memberikan yang terbaik. Sukses akan datang dengan sendirinya. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 490)

Karakter

Borno hidup di tengah keluarga nelayan tangguh. Karakter Borno ini istimewa, dia dikenal sebagai bujang yang memiliki hati paling lurus sepanjang Sungai Kapuas. Berpuluh kali diumpat, disuruh-disuruh, oleh salah seorang tokoh yang bernama Bang Togar, tak sekalipun Borno marah. Hatinya tetaplah lurus. Berkali-kali gagal dalam meraih mimpinya ia tetap teguh berusaha dalam mewujudkan impiannya.

Kisah cinta Borno dimulai ketika dia menjadi pengemudi sepit. Suatu hari, gadis berbaju kurung kuning, mengembangkan payung merah, menaiki sepit yang dikemudikan oleh Borno. Meninggalkan pesona, seklaigus surat bersampul merah. Surat yang Borno sangka hanyalah sebuah angpau merah biasa. Surat yang baru Borno ketahui isinya setelah sekian waktu kemudian, surat yang akan menjelaskan segalanya, menjelaskan semua kesalapahaman, dan mejelaskan segala kegundahan.

Tidak ada yang mudah dalam cinta. Biarkan semua mengalir bagai Sungai Kapuas. Maka kita lihat, apakah aliran perasaan itu akan semakin membesar hingga tiba di muara atau habis menguap di tengah perjalanan. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 278)

Konflik Cerita

Tentunya dalam kisah cinta tidak ada hal yang mudah, termasuk kisah cinta Borno dan Mei (Si gadis pemilik angpau merah). Kisah cinta yang begitu menggemaskan dengan konflik-konflik percintaanya, perkenalan yang begitu unik, Borno yang pemalu meskipun hanya untuk menegur sapa Mei, dan Mei yang begitu anggun dengan segala misteriusnya, yang selalu berhasil membuat Borno sibuk menduga-duga tentangnya, yang selalu berhasil merebut perhatian Borno.

Namun tokoh Pak Tua yang bijak juga dihadirkan untuk menyampaikan pesan-pesan mengenai cinta sejati dan pemahaman hidup yang baik, namun tidak terkesan menggurui, Pak Tua yang selalu memiliki cara tersendiri dalam menyampaikan nasehat-nasehat bijaknya. Tokoh yang sangat berperan dalam membantu tokoh utama untuk bertransformasi menjadi sosok yang jauh lebih baik dalam memandang cinta dengan sudut pandang yang bijaksana.

Cinta selalu saja misterius. Jangan diburu-buru, atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 288)

Terdapat banyak kutipan-kutipan sederhana tentang cinta, yang saya yakin, akan membuat pembaca mengubah sudut pandang dalam memandang cinta. Kutipan dengan gaya bahasa yang sederhana namun begitu mengena. Dan saya yakin setelah membaca novel ini pembaca akan lebih dewasa dalam memandang cinta, bahwa serumit apapun kisah cinta, Tuhan selalu punya rencana yang luar biasa. Cinta sejati akan selalu kembali kepada pemiliknya.

Kekurangan

Untuk keseluruhan novel ini sangat bagus, ending dalam novel ini jelas, bahagia. Hanya saja ada bagian yang menggantung. Dimana diceritakan Papa Mei yang melarang hubungan putrinya dengan Borno, tetapi di akhir cerita tidak diceritakan secara jelas apakah Papa Mei sudah merestui, atau masih menentang. Tapi mungkin saja Tere Liye memang membuat cerita seperti ini, sebab semua misteri yang dibuka dalam novel terkadang menjadi tidak menarik untuk pembaca. Jadi saya memahami kekurangan ini dan tidak menganggapnya masalah untuk novel sebagus ini.

 

Favorit


 

Perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat. Hebat sekali benda bernama perasaan itu. Dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung, dan di kejap berikutnya mengubah hari-mu jadi buram padahal dunia sedang terang benderang. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 132) 

Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan . (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 194) 

Berasumsi dengan perasaan, sama saja dengan membiarkan hati kau diracuni harapan baik, padahal boleh jadi kenyataannya tidak seperti itu, menyakitkan. (Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah – Tere Liye : 429) 

Dari kutipan-kutipan sederhananya saja, sudah mampu membuat pembaca tersenyum, dan membenarkan kalimat-kalimat itu. Dan saya pikir tidak akan ada pembaca yang menyesal setelah menbaca novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah.

 

Lebih Dekat dengan Elly Fitriani


Review Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah Elly Fitriani lahir di Lamongan 6 Februari 1997. Lulusan D2 Akademi Komunitas Negeri Lamongan, Jurusan Tehnik Informatika dan sedang menantikan masuk kuliah untuk jenjang selanjutnya. Telah menjadikan Tere Liye sebagai penulis favoritnya, tapi juga membaca karya-karya penulis lain. Menetapkan judul Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah menjadi buku favorit. Mengaku menjadi pecinta alam, penikmat senja, dan tidak lupa meluangkan waktu untuk membaca buku semua genre novel dan menonton drama Korea untuk menghilangkan penat. Bisa chit chat di Instagram nya: @fitriani_elly

Karakter
Plot
Cerita

Bagiku, novel ini sangat-sangat layak untuk dibaca, bukan hanya tentang kisah drama cinta, tetapi menghadirkan kisah cinta yang sederhana, tulus dan indah. Jadi layak rating lima bintang untuk novel ini.

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan senang jika Anda berkunjung ke toko buku kami. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close