Bestseller

Review How To Stop Time Karya Matt Haig – Ketika Sihir Waktu Mulai Bekerja

How To Stop Time Karya Matt Haig

Review How To Stop Time Karya Matt Haig – Ketika Sihir Waktu Mulai Bekerja. Apakah Anda pernah merasa melewati satu hari yang sama, tapi itu sebenarnya tidak pernah terjadi. Mungkin kita sering menyebutnya dengan ilusi atau hanya mimpi. Kebanyakan kita melewatinya hanya dengan menuduh “hanya perasaan saja”. Tapi ini sangat berbeda dengan yang dialami oleh tokoh Tom Hazard dalam How To Stop Time yang ditulis oleh Matt Haig. Cerita ini tidak hanya menggambarkan daya imajinasi, tapi juga sebuah cara untuk mengingatkan kita kepada waktu yang sudah terlewati. Sekarang Gramedia sudah memegang hak cipta karya Matt Haig ini dan akan menerbitkan karya ini dalam bahasa Indonesia. Ada beberapa kabar novel terjemahan ini akan rilis tahun ini. Tapi sebelum Anda membuat keputusan membeli atau tidak, membaca atau tidak, tidak ada salahnya menyimak review How To Stop Time karya Matt Haig.

Review


Pertama garis waktu dalam novel ini berjalan bersama dengan latar belakang kota London dan kisah di seting lokasi lain selama ratusan tahun yang lalu. Tom Hazard tidak diciptakan sebagai manusia yang abadi, hanya saja waktu hidupnya berjalan lebih lambat atau menurut saya sendiri sebenarnya sangat lambat. Kondisinya sangat langka, dimana 15 kali lebih lambat dibandingkan waktu yang dialami oleh orang lain.

Sekarang umurnya 439 tahun dan penampilannya masih sangat muda. Jika dibayangkan betapa kehidupan Tom menyenangkan. Semua orang pasti takut mati, tapi Tom jelas memiliki waktu hidup yang lebih lama. Jadi awalnya cerita ini akan dikenal dengan sebuah kisah yang sederhana, berhubungan dengan perjalanan waktu dan kejutan.

Tapi waktu memberi masalah untuk Tom. Ia akan melihat orang tuanya, teman dan siapapun yang dia cinta meninggal. Sementara Tom melihatnya dan tidak tahu kapan waktu akan berhenti untuknya. Jadi awalnya kita juga akan bertemu dengan Tom yang memiliki kehidupan baru. Tapi usia dan penampilannya juga bisa membuat orang lain curiga. Inilah awal konflik yang terlihat sederhana dan membuat pembaca ikut menunggu akhir kisah Tom.

Karena itu penulis membuat sebuah komunitas yang akan melindungi kehidupan Tom. Sebuah komunitas yang bernama Albatross Society, komunitas ini yang akan menjadi tempat bagi orang seperti Tom untuk mendapatkan perlindungan agar tidak dicurigai manusia lain. Kelompok ini memiliki pemimpin bernama Hendrich yang bersifat keras kepala, sangat protektif, dan berkuasa. Mereka memiliki aturan seperti harus selalu pindah tempat setiap delapan tahun sekali, menyamarkan identitas dan sama sekali tidak boleh jatuh cinta.

Dan sekarang Tom berada di London dan terbayang-bayang oleh kenangan masa lalunya. Berada di rumah yang sama ketika tahun 1600-an. Bayangan keluarga kecilnya cukup menyiksa, istri dan anaknya. Istrinya mungkin sudah tiada tapi Ia yakin anak perempuannya masih ada dan menderita kondisi yang sama seperti Tom. Tom berusaha mencari jejak putrinya bersama Hendrich tapi menyerah kemudian. Sekarang Ia bertemu dengan seorang guru bahasa Perancis yang sedikit memberi kunci tentang pencariannya. Tapi itu berarti Tom juga akan melawan untuk tidak jatuh cinta. Masa sulit Tom dimulai berkali-kali sampai meracuni pembaca.

Sedikit sentuhan nyata dalam novel ini adalah peran guru sejarah yang diberikan untuk Tom Hazard. Ingat ketika Tom memiliki umur yang lebih tua, maka itu berarti Tom tidak perlu belajar sejarah lagi. Dan akhirnya ketika Ia mengajar sejarah, maka beberapa peristiwa itu memang dialami oleh Tom (bagian ini yang membuat saya terkesan betapa cerdasnya penulis memilih peran yang paling masuk akal). Jadi ketika Tom mengajar kepada murid-muridnya maka sebenarnya Ia telah bertemu dengan Shakespeare, berbincang-bincang dengan Kapten Cook, Zelda Fitzgerald dan F. Scott

Tapi diantara itu semua hal yang paling menarik bagi pembaca adalah bagaimana cara penulis mengulik sejarah yang begitu detail. Seolah-olah setiap rentetan waktu yang diceritkan oleh tokoh saling bersambung dengan detail setting yang sangat jelas. Pada beberapa bagian kita juga akan membayangkan, cerita dan cara bercerita Matt Haig menjadi sangat manis.

Jadi menurut saya cerita ini memang sangat menderita, diselingi dengan hal-hal lucu dan menyentuh perasaan. Memiliki umur panjang terkadang menjadi ucapan ketika ada yang berulang tahun. Tapi memiliki umur panjang terkadang juga tidak menyenangkan. Kita akan melihat orang-orang yang kita sayangi berubah, sakit, menderita dan meninggal. Dan segalanya akan terus berubah sementara usia masih berjalan sangat lambat. Novel ini akan mendorong kita untuk berfikir dan terus bertanya : “bagaimana jika,,,?”

Benang Merah


Setiap penulis memiliki cara sendiri untuk menulis. Tehnik yang dilakukan oleh Matt Haig untuk menulis How To Stop Time memang sangat berhasil. Tapi kemungkinan juga tidak layak jika dilakukan oleh penulis lain. Perbandingkan waktu benar-benar menjadi poin utama yang menguras perasaan pembaca, kemudian bagaimana cara Matt Haig menuliskan narasi sejarah yang terjadi pada Tom bisa mencuri perhatian pembaca. Sementara plot benar-benar sempurna sampai bagian akhir cerita. Hanya saja pola waktu ini juga bisa membuat pembaca sulit, karena beberapa nama tokoh dikenalkan di awal atau di tengah cerita lalu hanya muncul samar saja.

Terus terang saya tidak memiliki kritik atau kelemahan apapun untuk How To Stop Time, tapi tema cerita benar-benar membuat saya ingin segera membalik halaman-halaman selanjutnya, demi tahu apa cerita akhir untuk Tom Hazard?

Judul : How To Stop Time

Penulis : Matt Haig

Bahasa : Inggris (segera rilis versi bahasa Indonesia)

Terbit: 14 Desember 2017 oleh Canongate Books.

Halaman: 336

ISBN : 978-1782118640


PART ONE

Life Among the Mayflies

I am old.

That is the main thing to tell you. The thing you are least likely to believe. If you saw me you would probably think I was about forty, but you would be very wrong.

I am old – old in the way that a tree, or a quahog clam, or a Renaissance painting is old.

To give you an idea: I was born well over four hundred years ago on the third of March 1581, in my parents’ room, on the third floor of a small French château that used to be my home. It was a warm day, apparently, for the time of year, and my mother had asked her nurse to open all the windows.

‘God smiled on you,’ my mother said. Though I think she might have added that – should He exist – the smile had been a frown ever since.

My mother died a very long time ago. I, on the other hand, did not.

You see, I have a condition.

I thought of it as an illness for quite a while, but illness isn’t really the right word. Illness suggests sickness, and wasting away. Better to say I have a condition. A rare one, but not unique. One that no one knows about until they have it.

It is not in any official medical journals. Nor does it go by an official name. The first respected doctor to give it one, back in the1890s, called it ‘anageria’ with a soft ‘g’, but, for reasons that will become clear, that never became public knowledge. The condition develops around puberty. What happens after that is, well, not much. Initially the ‘sufferer’ of the condition won’t notice they have it. After all, every day people wake up and see the same face they saw in the mirror yesterday. Day by day, week by week, even month by month, people don’t change in very perceptible ways.

Mengenal Matt Haig


Matt Haig adalah seorang jurnalis Inggris dan novelis yang menulis cerita fiksi dan non fiksi untuk anak-anak juga orang dewasa. Ia lahir di Sheffield, Yorkshire, UK pada 3 Juli 1975. Mendapatkan gelar BA di University of Hull dan menamatkan pendidikan M.A di Leeds University. Sekarang Ia tinggal di Brighton, England. Karya-karyana selain How To Stop Time diantaranya : The Humans, Reasons to Stay Alive, The Radleys, A Boy Called Christmas, The Dead Fathers Club, The Girl Who Saved Christmas, Echo Boy, Samuel Blink and the Forbidden Forest,        The Labrador Pact.

Prestasi How To Stop Time

  • THE SUNDAY TIMES BESTSELLER
  • A RICHARD & JUDY BOOK CLUB PICK
  • WINNER OF THE 2017 BOOKS ARE MY BAG READERS AWARD FOR POPULAR FICTION
  • How To Stop Time juga akan diadaptasi menjadi film yang dibintangi oleh Benedict Cumberbatch.

Terima kasih sudah membaca review How To Stop Time 🙂

Silahkan menunggu versi terjemahan yang akan diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama.

Plot
Karakter
Setting

Setiap penulis memiliki cara sendiri untuk menulis. Tehnik yang dilakukan oleh Matt Haig untuk menulis How To Stop Time memang sangat berhasil. Tapi kemungkinan juga tidak layak jika dilakukan oleh penulis lain. Perbandingkan waktu benar-benar menjadi poin utama yang menguras perasaan pembaca, kemudian bagaimana cara Matt Haig menuliskan narasi sejarah yang terjadi pada Tom bisa mencuri perhatian pembaca. Sementara plot benar-benar sempurna sampai bagian akhir cerita. Hanya saja pola waktu ini juga bisa membuat pembaca sulit, karena beberapa nama tokoh dikenalkan di awal atau di tengah cerita lalu hanya muncul samar saja. Terus terang saya tidak memiliki kritik atau kelemahan apapun untuk How To Stop Time, tapi tema cerita benar-benar membuat saya ingin segera membalik halaman-halaman selanjutnya, demi tahu apa cerita akhir untuk Tom Hazard?

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan senang jika Anda berkunjung ke toko buku kami. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close