Bestseller

Muhammad : Para Pengeja Hujan Karya Tasaro GK

Seri Kedua dari Tetralogi Muhammad, Pengulas : Nailatul Hana

Review Muhammad : Para Pengeja Hujan Karya Tasaro GK “Ya ‘Umar… ya ‘Umar. Berhati-hatilah engkau terhadap beberapa sahabat yang matanya mulai silau, perutnya mulai kembung, dan hanya memikirkan diri sendiri. Berhati-hatilah… Mereka akan tetap segan kepadamu selama engkau masih takut kepada Allah. Mereka akan lurus dan taat jika engkau pun lurus dan patuh kepada-Nya. Inilah pesanku kepadamu… selamat menjalankan tugas.”

Membuka perlahan mata ‘Umar. Seolah mendengar suara Abu Bakar dari berbagai penjuru jalan dan belukar. Menghamburinya dengan suara yang dibubuhi doa.

Ya ‘Umar… ya ‘Umar. Berhati-hatilah.

Penulis : Tasaro GK

Genre : Fiksi sejarah Islam

Penerbit : Penerbit Bentang Pustaka

Tahun terbit : 2011

Jumlah halaman : 758

ISBN : 978-602-291-049-7

Pada buku kedua dari serial tetraloginya, Tasaro kembali menyuguhkan indahnya sejarah dengan caranya yang khas. Lompat dari satu belahan dunia ke belahan yang lain, menceritakan peristiwa yang terjadi di berbagai tempat di waktu yang sama.

Ia memulainya dengan peristiwa agung sebelum Sang Nabi lahir; datangnya pasukan bergajah milik Abrahah ke Mekah. Pemilihan awal novel yang unik, mengingat di buku sebelumnya, Tasaro mengakhiri bukunya begitu peristiwa Fathu Mekah (penaklukkan Mekah) selesai. Anda bisa membacanya dalam Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan.

Muhammad lahir dari rahim Aminah, seorang wanita muda yang mulia karena nasabnya dan nasab suaminya, Abdullah, yang saat Aminah melahirkan ia telah terbaring damai di bawah tanah Yatsrib. Halimah; seorang gadis desa yang tak punya pilihan, akhirnya menerima Muhammad sebagai anak asuhnya meski tau ia hanya seorang bayi yatim dari keluarga miskin. Ini lebih baik daripada pulang dengan tangan kosong, pikirnya. Bergegas ia membawanya ke desa tempat ia tinggal dengan hati penuh harap, semoga keajaiban akan terjadi.

Empat tahun kemudian, ia berkesimpulan; ia sungguh akan sangat menyesal jika di tengah keputusasaannya empat tahun lalu, ia tidak mengambil anak yatim miskin itu sebagai anak susuannya. Dia bukan anak biasa.

Sementara itu, kemasyhuran kerajaan Persia berada di ambang kehancuran. Setelah Khosrou II –Penguasa Persia– yang kejam tewas dibunuh oleh Kavadh II yang tak lain adalah putranya sendiri, keadaan istana semakin kacau saja. Pembunuhan terus terjadi, dan para penghuni istana saling bersaing dan menjatuhkan untuk merebut takhta Persia yang mereka agungkan tetapi semakin tercabik-cabik.

Putri-putri Khosrou yang semula enggan terlibat kekacauan, pada akhirnya memutuskan untuk bergabung dan membentuk pasukan sendiri. Athanatoi, pasukan immortal, dengan Atusa sebagai jenderalnya. Sebuah keputusan besar dalam hidup Atusa yang tidak ia sadari semakin mendekatkannya dengan ujung pencariannya selama ini; Sang Pemindai Surga.

Sisi fiktif dari buku sejarah ini begitu dapat menarik pembaca untuk terus menerus membaca hingga akhir. Kashva dengan segala keanehan dalam diri dan kehidupannya, membuatnya terjebak dalam perjalanan panjang yang ia sendiri meragukan di manakah ujungnya. Menelusuri tiga belas gunung di pegunungan Tibet, kembali ke Madain, hingga terkurung di penjara bawah tanah Persia yang keadannya sungguh menyedihkan. Ketika itu, ia pun pasrah jika hidupnya berakhir di tangan sang manusia kanibal.

Di Jazirah Arab, Sang Nabi Terakhir telah selesai menunaikan tugasnya. Di pangkuan ‘Aisyah sang istri, ia kembali kepada Tuhannya seraya menyunggingkan senyum. Senyuman yang justru membuat penjuru Mekah menangis, mengingat itulah senyuman terakhir yang akan mereka lihat.

Di hari yang penuh duka, persatuan umat justru mulai terlihat perpecahannya. Anshar ingin salah satu dari mereka menjadi pemimpin umat, sedangkan Muhajirin tidak rela mereka pimpin sedangkan Nabi pun berasal dari kaum mereka. Perbedaan pendapat begitu lama terjadi, hingga beberapa pemuka Anshar menyadari kemuliaan Muhajirin dan mulai membaiat Abu Bakar. Satu-satunya sahabat yang menemani Nabi saw. di Gua Tsur ketika dalam pengejaran kaum kafir Quraisy.

Kepemimpinan Abu Bakar yang hanya dua tahun tidak berlangsung begitu mudah. Islam yang sudah meluas cahayanya, mulai meredup di beberapa titik begitu Sang Nabi kembali kepada Tuhannya. Orang-orang yang murtad, menolak menunaikan zakat, hingga mereka yang mengaku sebagai nabi. Membuat Khalifah harus menajamkan pedangnya pada para pemberontak.

Tak begitu lama, Abu Bakar yang tak lain juga merupakan mertua Rasulullah menyusul beliau menghadap Tuhan. Meninggalkan umat yang banyak jumlahnya dan beragam pikirannya. Semasa sakit menjelang wafat, terlebih dahulu ia menuliskan wasiat untuk umat, yakni membaiat ‘Umar sebagai pemimpin menggantikan dirinya. ‘Umar yang tegas, berani, dan murah hati. Tongkat estafet telah berpindah, dan kini ‘Umar yang harus memegangnya erat-erat.

Bagi Saya

Membaca, bukan sekadar memindahkan informasi dari penulis kepada pembaca. Tetapi bagaimana penulis menyuapi kata demi kata kepada pembaca hingga menyentuh dan benar-benar masuk dalam hati pembaca. Menurut saya, Tasaro telah melakukannya dengan sangat baik.

Di luar itu, kekurangan yang saya temukan dalam buku ini tidak banyak. Beberapa kata saya temukan salah penulisan dan tidak konsisten. Kota Madain yang merupakan pusat Persia pada saat itu, beberapa kali saya temukan tertulis Madian. Nabi palsu Tulaihah bin Khuwailid, saya temukan tertulis Thalihah. Mungkin perlu diedit sekali lagi sehingga kesalahan penulisan kata dapat diperbaiki.

Bagi pembaca yang menyukai berbagai kisah sejarah, saya sangat merekomendasikan buku ini, dan saya memberinya 4,5 bintang dari 5 bintang. Tidak mudah menemukan buku seperti yang telah Tasaro tulis, dan saya rasa tidak akan rugi begitu Anda selesai membacanya. Selamat membaca!

Setiap kali disebutkan Nabi Muhammad, dianjurkan untuk membaca Selawat.

Lebih Dekat dengan Tasaro GK

Muhammad : Lelaki Penggenggam HujanTasaro GK adalah seorang juru cerita. Sebab, dia meyakini setiap orang membutuhkan cerita. Maka, dia menyampaikan segala hal melalui cerita. Serial Muhammad Saw. (Lelaki Penggenggam Hujan, Para Pengeja Hujan, Sang Pewaris Hujan, dan Generasi Penggema Hujan) adalah sebuah kisah panjang tentang cinta, kesetiaan, dan misi agung yang hampir menghabiskan kemampuannya bercerita.

Berlatar belakang seorang wartawan dan editor, kini Tasaro memetakan waktunya untuk bercerita di PAUD Kampoeng Boekoe, Kelas Menulis Jurnalistik Bandung, Grup Belajar Menulis Keluarga Besar Tasaro GK, dan perkumpulan online FB: Tasaro GK The Juru Cerita.

Pengulas : Nailatul Hana

Muhammad : Lelaki Penggenggam HujanSeorang penikmat buku, yang sampai saat ini belum menghasilkan buku satupun. Semakin lama, ia menemukan dunianya lewat buku dan mulai gemar merangkai kata. Keinginannya merangkai kata hanya berakhir di laman pribadinya atau bahkan di lembaran-lembaran tak bernama. Sedang menempuh pendidikan medis di kampus Padjadjaran, dan baru menempuh semester tiganya pada Agustus 2018.

Keinginannya me-review buku baru terwujud ketika ia sadar; tidak seharusnya ia berhenti begitu selesai membaca buku. Orang lain harus turut merasakan nikmatnya. Menurutnya, me-review buku adalah salah satu caranya. Harapannya, ia bisa terus melanjutkannya hingga bukunya bisa dinikmati para pembaca.

Karakter dan Cerita

Sisi fiktif dari buku sejarah ini begitu dapat menarik pembaca untuk terus menerus membaca hingga akhir. Membaca karya ini , bukan sekadar memindahkan informasi dari penulis kepada pembaca. Tetapi bagaimana penulis menyuapi kata demi kata kepada pembaca hingga menyentuh dan benar-benar masuk dalam hati pembaca. Menurut saya, Tasaro telah melakukannya dengan sangat baik.

Tags
Show More

Artrias Setiawan

Mengaku orang yang tidak bisa melewatkan membaca, senang berbagi hal-hal baru tentang buku. Tidak bisa membaca buku tanpa kopi tapi sedang berusaha melupakan kafein. Bercita-cita mengunjungi perpustakaan di seluruh dunia dan senang berlibur sambil membawa buku ke jalan, pantai atau gunung. Menulis untuk blog, media online, perusahaan e-commerce dan bisnis start up. Pembaca buku, menulis review buku, dan senang jika Anda berkunjung ke toko buku kami. Lebih dekat dengan saya di:

Email: artriasnana@gmail.com
Twitter: @artriassetiawan
Instagram: @artriassetiawan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close